SEMARANGUPDATE.COM – Masyarakat Silayur, Keckajian Ngaliyan, Kota Semarang, bakal menggelar pagelaran wayang kulit nan dirangkai dengan tradisi Sedekah Bumi di RW IV Silayur Lhati-hati Duwet, Bringin, pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Agenda ini menjadi simbol dihidupkannya kembali tradisi leluhur nan telah lama vakum selama puluhan tahun.
Tradisi nan mengandung nilai spiritual dan kearifan lokal tersebut kembali digelar sebagai upaya masyarakat untuk memohon keselkajian bagi wilayah Silayur nan dikenal rawan kecelakaan dan kerap dijuluki sebagai “jalur tengkorak”.
Salah satu perwakilan penduduk sekaligus penyelenggara, Awaluddin, S.Sos, menegaskan bahwa aktivitas ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana angan berbareng bagi keselkajian lingkungan.
“Ini bagian dari tradisi nyelameti kawasan. Silayur selama ini dikenal sebagai jalur tengkorak lantaran sering terjadi kecelakaan. Kami mau memanjatkan angan sekaligus melestarikan budaya,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Sedekah Bumi merupbakal tradisi turun-temurun nan dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan nan Maha Esa atas rezeki, keselamatan, dan keberkahan nan diterima masyarakat.
Selain itu, aktivitas ini juga menjadi wadah untuk mempererat hubungan sosial antarwarga sekaligus menjaga budaya lokal agar tetap lestari.
Secara sejarah, tradisi ini berangkaian erat dengan sosok Mbah Kromo, mantan Kepala Dukuh Duwet.
Pada masa kepemimpinannya, wilayah turunan Silayur dikenal sering terjadi kecelakaan, apalagi nyaris setiap pekan menimbulkan korban jiwa.
Di samping itu, masyarakat juga kerap menghadapi beragam musibah seperti penyakit mendadak.
Melalui lsaya tirakat, Mbah Kromo diyakini memperoleh petunjuk agar penduduk rutin menggelar infak bumi, angan bersama, dan pagelaran wayang kulit.
Tradisi tersebut dipercaya membawa perubahan besar, ditumpama dengan kondisi wilayah nan lebih kondusif dan kehidupan masyarakat nan semakin tenteram.
Setelah Mbah Kromo wafat, tradisi ini sempat dilanjutkan oleh Mbah Nasir.
Namun, seiring berjalannya waktu, aktivitas tersebut berakhir dan tidak lagi digelar selama kurang lebih 46 tahun.
Pada 2026 ini, penduduk RW IV Silayur Lhati-hati Duwet kembali berinisiatif menghidupkan tradisi tersebut dengan mengusung tema “Nguri-uri Budaya, Ngruwat Sengkolo, Mempererat Guyub Rukun”.
Rangkaian aktivitas bakal dimulai dengan angan berbareng pada pukul 15.00 WIB, dilanjutkan pagelaran wayang kulit pukul 19.00 WIB hingga selesai.
Seluruh aktivitas bakal dipusatkan di Lapangan Voli RT 02 RW IV Silayur Lhati-hati Duwet, Bringin, Ngaliyan, Kota Semarang.
Melalui aktivitas ini, penduduk berambisi stigma Silayur sebagai jalur rawan kecelakaan dapat berubah menjadi area nan lebih aman, nyaman, serta sarat dengan nilai kebersamaan dan kearifan lokal. (*)
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·