Amd Strix Halo Makin Gahar! Dua Apu Baru Siap Gempur Laptop Tipis Dan Mini Pc

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Bayangkan sebuah laptop tipis nan bisa menjalankan game AAA dengan lancar, mengolah video 8K, sekaligus menjalankan model AI lokal nan kompleks—semuanya tanpa kartu skematis diskrit. Itu bukan lagi mimpi di siang bolong, melainkan realita nan sedang diperjuangkan AMD dengan platform Strix Halo. Dan di CES 2026 ini, mereka menunjukkan bahwa perjuangan itu semakin serius dengan meluncurkan dua jenis baru nan siap memperluas jangkauan revolusi komputasi terpadu ini.

Strix Halo, sejak diperkenalkan tahun lalu, memang diposisikan sebagai jawaban AMD untuk pasar laptop tipis-and-ringan premium serta desktop kompak nan haus performa. Platform ini menghadirkan triad kekuatan: CPU berinti banyak, GPU Radeon berpatokan arsitektur RDNA 3.5, dan NPU XDNA 2 nan bisa mencapai 50 TOPS, semuanya berbagi satu kolam memori terpadu nan besar. Konsep ini memangkas bottleneck komunikasi antara komponen, menawarkan efisiensi dan bandwidth nan susah ditandingi oleh sistem dengan GPU diskrit konvensional.

Selama ini, lini Strix Halo didominasi oleh trio andalan: Ryzen AI Max+ 395 (16-core), Max 390 (12-core), dan Max 385 (8-core). Chip-chip ini telah sukses mencuri perhatian dan mengisi perangkat-perangkat seperti HP ZBook Ultra G1a, Asus ROG Flow Z13, serta sejumlah mini PC nan menjanjikan performa maksimal dalam corak ftokoh minimalis. Namun, AMD tampaknya merasa belum cukup. Mereka memandang celah untuk menjangkau lebih banyak kalangan, dari ahli imajinatif nan butuh skematis kuat hingga enthusiast nan menginginkan semua dalam satu paket rapi. Dan di sinilah dua pendatang baru itu hadir.

Memperkenalkan Ryzen AI Max+ 392 dan 388: Fokus pada Kekuatan Grafis

Dua personil baru family Strix Halo ini adalah Ryzen AI AI Max+ 392 dan Ryzen AI Max+ 388. Strategi AMD cukup menarik: alih-alih membikin kreasi dari nol, mereka mengambil pedoman dari SKU nan sudah ada dan memberikan suntikan adrenalin unik pada bagian skematis terintegrasinya. Inilah inti pembaruan nan mungkin paling dinanti oleh gamer dan pembuat konten.

AMD melengkapi kedua APU baru ini dengan GPU terintegrasi (iGPU) RDNA 3.5 nan mempunyai 40 Compute Units (CU). Klaim AMD cukup menggoda: iGPU ini dikabarkan bisa menghasilkan hingga 60 TFLOPs daya komputasi. Angka ini bukan main-main dan berpotensi menyaingi apalagi melampaui beberapa kartu skematis diskrit kelas menengah dari generasi sebelumnya. Upgrade ini secara signifikan meningkatkan proposisi nilai Strix Halo, terutama untuk perangkat seperti mini PC alias laptop ultraportable di mana ruang dan daya sangat terbatas.

Ilustrasi konsep laptop tipis dengan APU AMD Strix Halo di dalamnya, menampilkan skematis nan powerful

Di sisi CPU, tidak banyak perubahan. Ryzen AI Max+ 392 mempertahankan konfigurasi 12-core dan 24-thread dengan clock boost hingga 5GHz, sementara Max+ 388 tetap menjadi pilihan 8-core dan 16-thread. NPU-nya juga tidak berubah, tetap mengusung XDNA 2 dengan sasaran hingga 50 TOPS, nan difokuskan untuk mempercepat konklusi AI dan beban kerja model lokal. Pendekatan ini menunjukkan bahwa AMD percaya fondasi CPU dan NPU mereka sudah cukup tangguh; nan perlu dikebut adalah keahlian skematis untuk benar-betul menantang kekuasaan solusi diskrit dalam segmen tertentu.

Klaim Performa nan Berani: Tantang Nvidia dan Apple

AMD tidak hanya meluncurkan produk baru; mereka juga datang dengan info pembanding nan berani. Dalam pengetesan internalnya, AMD menyatakan bahwa sebuah sistem berpatokan Strix Halo bisa mengungguli Nvidia DGX Spark dalam benchmark AI “token-per-second-per-dollar”. Ini adalah klaim signifikan nan menyentuh aspek efisiensi biaya dalam komputasi AI, sebuah metrik krusial bagi developer dan perusahaan.

Lebih jauh, AMD juga membandingkannya dengan laptop Apple MacBook Pro berpatokan chip M5 terbaru. Dalam skenario AI, multitasking, dan gaming terpilih, Strix Halo diklaim menunjukkan keunggulan. Tentu saja, klaim-klaim dari pabrikan selampau perlu disikapi dengan hati-hati. Seperti kata pepatah lama di bumi teknologi, “the proof is in the independent benchmarking.” Validasi dari pihak ketiga dan review mendalam dari media serta organisasi bakal menjadi penentu seberapa sukses AMD mewujudkan janji-janji ini di bumi nyata.

Peluncuran Ryzen AI Max+ 392 dan 388 ini bukan sekadar menambah varian. Ini adalah sinyal strategis nan jelas. Dengan menawarkan opsi nan lebih banyak, AMD berupaya menjadikan Strix Halo tidak hanya untuk segmen niche pengguna ekstrem, tetapi juga untuk ahli dan enthusiast nan lebih luas. Dukungan dari banyak OEM besar menjadi kunci.

AMD menyebut support dari Acer, Asus, HP, Lenovo, Framework, dan beberapa kreator mini PC. Kolaborasi ini krusial untuk menciptbakal ekosistem perangkat nan beragam, mulai dari laptop workstation seperti laptop gaming high-end hingga perangkat kompak nan mungkin bersaing dengan handheld dengan layar OLED. Dengan lebih banyak pilihan perangkat, visi AMD untuk komputasi terpadu nan powerful bakal lebih mudah diakses.

Lalu, apa artinya bagi Anda? Jika Anda adalah seorang pembuat konten, desainer, alias engineer nan mobilitasnya tinggi dan jengkel dengan laptop tipis nan lemah skematis alias desktop mini nan kudu dikompromi, lini Strix Halo nan semakin luas ini menawarkan pengganti nan menarik. Begitu pula bagi gamer nan menginginkan pengalkondusif gaming nan solid pada perangkat sekunder alias travel laptop tanpa kudu membawa eGPU. Dukungan penuh dari merek-merek seperti Lenovo untuk organisasi gaming juga bisa menjadi nilai tambah dalam ekosistem ini.

Masa Depan Komputasi Terpadu dan Tantangan di Depan

Ekspansi lini Strix Halo di CES 2026 ini mempertegas satu tren besar: pemisah antara CPU, GPU, dan AI accelerator semakin kabur. Masa depan adalah tentang integrasi nan mulus, efisiensi daya, dan performa nan konsisten dalam corak ftokoh nan minimalis. AMD dengan Strix Halo-nya sedang berupaya memimpin di jalur ini.

Namun, jalan menuju kekuasaan tidaklah mulus. Persaingan dengan solusi diskrit dari Nvidia dan integrasi sistem-on-chip (SoC) dari Apple bakal semakin sengit. Keberhasilan akhirnya bakal ditentukan oleh tiga hal: konsistensi performa riil di tangan pengguna, support driver dan software nan optimal (terutama untuk game dan aplikasi kreatif), serta nilai nan kompetitif. Jika AMD bisa menjawab ketiga tantangan ini dengan baik, maka dua APU baru ini bukan sekadar tambahan di katalog, melainkan palu godam nan membuka pintu lebih lebar bagi Strix Halo untuk benar-betul menjadi arus utama. Saatnya menunggu kehadiran perangkat-perangkat nan mengusung Ryzen AI Max+ 392 dan 388 ini di pasaran, dan memandang apakah janji 60 TFLOPs di dalam bodi tipis itu benar-betul bisa mengubah permainan.

Selengkapnya
Sumber Telset
-->