Pernahkah Anda membayangkan laptop Windows Anda bisa menyaingi kecepatan MacBook Pro? Atau mungkin, Anda sudah capek dengan siklus upgrade tahunan nan hanya memberikan peningkatan performa sepersekian persen? Dunia prosesor PC sedang mengalami gempa, dan pusatnya ada di Qualcomm. Bocoran benchmark terbaru untuk chipset Snapdragon X2 Elite bukan lagi sekadar rumor—ini adalah pernyataan perang nan jelas terhadap raja performa, Apple Silicon.
Selama bertahun-tahun, Windows on ARM seperti proyek sains nan tak kunjung matang. Kompatibilitas aplikasi nan jelek dan performa nan tertinggal jauh dari x86 membuatnya hanya jadi bahan cemoohan. Namun, era itu tampaknya bakal segera berakhir. Qualcomm, dengan Snapdragon X2 generasi kedua, tidak lagi bermain aman. Mereka datang dengan senjata baru nan dirancang untuk mengubah narasi, dan angka-nomor awal nan bocor menunjukkan mereka serius.
Lantas, seberapa kuat sebenarnya Snapdragon X2 Elite ini? Apakah klaim “43 persen lebih irit daya” alias “31 persen lebih cepat” itu bisa dibuktikan di bumi nyata, alias hanya semboyan pemasaran belaka? Mari kita selami info nyata pertama nan sukses direkam dari dalam dapur Qualcomm sendiri, dan lihat gimana chipset ini berhadapan langsung dengan M4 Apple dalam uji tanding nan paling dinanti.
Snapdragon X2 Elite: Bocoran Benchmark nan Mengguncang
Klaim di atas kertas selampau terdengar manis, tetapi bukti di lapangan adalah segalanya. Beruntung, YouTuber Alex Ziskind mendapatkan akses eksklusif ke akomodasi Qualcomm dan diizinkan menjalankan tes Geekbench pada mesin Compute Reference Design (CRD) perusahaan. Hasilnya adalah gambaran pertama dan paling konkret tentang keahlian Snapdragon X2 Elite dan jenis Extreme-nya. Tes ini melibatkan tiga konfigurasi berbeda: Snapdragon X2 Elite 12-core, 18-core, dan Snapdragon X2 Elite Extreme 18-core.
Mari kita urai satu per satu. Konfigurasi 12-core (X2E-80-100) nan dipasangkan dengan RAM 32GB dan penyimpanan 1TB mencetak skor 3.850 untuk single-core dan 16.171 untuk multi-core. Angka ini langsung menarik perhatian lantaran menempatkannya sejajar dengan Apple M4 pada MacBook Air 10-core, nan biasanya berada di kisaran 3.839 (single-core) dan 14.861 (multi-core). Artinya, untuk pertama kalinya, sebuah chip Windows on ARM mempunyai performa single-core nan setara dengan entry-level Apple Silicon terbaru.

Lompatan nan lebih dramatis terlihat pada jenis 18-core (X2E-88-100). Chip ini menghasilkan skor single-core 3.838 dan multi-core nan melonjak hingga 20.320. Peningkatan drastis pada skor multi-core ini mengindikasikan arsitektur nan sangat efisien dalam menangani tugas paralel. Performa ini tidak lagi sekadar mengejar M4, tetapi sudah masuk ke wilayah M4 Pro. Ini adalah pencapaian signifikan nan menunjukkan Qualcomm konsentrasi tidak hanya pada efisiensi, tetapi juga pada kekuatan mentah untuk profesional.
X2 Elite Extreme: Tantangan Serius untuk M4 Max
Jika nomor di atas sudah membikin Anda terkesima, bersiaplah untuk nan satu ini. Snapdragon X2 Elite Extreme (X2E-96-100) adalah senjata pamungkas Qualcomm. Dalam tes Geekbench, chip ini sukses mencetak skor 4.072 untuk single-core dan 23.611 untuk multi-core. Di sinilah pertarungan menjadi sangat panas.
Skor single-core 4.072 itu berarti Snapdragon X2 Elite Extreme sukses mengungguli Apple M4 Max, nan biasanya berada di nomor 3.913. Ini adalah momen berhistoris di mana sebuah prosesor ARM untuk PC secara resmi lebih sigap dalam tugas tunggal daripada chip paling top dari Apple. Namun, pertarungan belum usai. Dalam uji multi-core, M4 Max tetap mempertahankan keunggulannya dengan skor sekitar 25.669, mengalahkan X2 Elite Extreme dengan margin nan cukup jelas. Pola ini menarik: Qualcomm sukses menyalip di satu area, tetapi Apple tetap memegang mahkota di area lain. Ini mirip dengan persaingan sengit nan kita lihat dalam ranking AnTuTu, di mana posisi puncak selampau diperebutkan oleh flagship terkuat, seperti nan terjadi ketika Red Magic 10S Pro+ menguasai ranking AnTuTu.

Perlu diingat, ini adalah benchmark sintetis awal nan dijalankan pada kondisi nan sangat terkontrol. Performa riil di laptop konsumen nantinya bakal sangat dipengaruhi oleh sistem pendingin, optimasi firmware, dan tentu saja, support aplikasi. Namun, angka-nomor ini memberikan fondasi nan kuat untuk optimisme. Mereka membuktikan bahwa arsitektur Qualcomm mempunyai potensi untuk bersaing di level tertinggi.
Lebih dari Sekadar Angka: Efisiensi nan Mengubah Permainan
Benchmark hanyalah satu sisi dari koin. Keunggulan sebenarnya dari Snapdragon X2 mungkin justru terletak pada klaim efisiensi dayanya. Menurut Qualcomm, Snapdragon X2 Plus menawarkan performa CPU single-core 35% lebih sigap daripada Snapdragon X Plus generasi sebelumnya, dengan konsumsi daya 43% lebih rendah. Sementara itu, model Elite diklaim 31% lebih sigap pada level daya nan sama, alias mengonsumsi 43% lebih sedikit daya pada performa nan setara, dibandingkan Snapdragon X Elite tahun lalu.
Jika klaim ini terbukti di perangkat konsumen, implikasinya sangat besar. Bayangkan laptop Windows dengan baterai nan bisa memperkuat dua hari pemakaian normal, alias laptop nan tetap dingin dan senyap apalagi saat menjalankan tugas berat. Ini adalah janji nan selama ini dipegang oleh MacBook Apple, dan sekarang Qualcomm berpotensi membawanya ke ekosistem Windows. Efisiensi semacam ini tidak hanya soal baterai, tetapi juga tentang pengalkondusif pengguna nan lebih nyaman, seperti nan diidamkan banyak pengguna laptop tipis saat ini.

Penting untuk dicatat bahwa performa dan efisiensi tinggi kudu didukung oleh pengalkondusif nan mulus. Sebuah chipset sehebat apapun bakal sia-sia jika aplikasi favorit Anda tidak melangkah optimal. Di sinilah tantangan terbesar Windows on ARM. Namun, lanskap tersebut sedang berubah dengan cepat. Dukungan emulasi x64 nan lebih matang dan semakin banyaknya developer nan merilis aplikasi native ARM perlahan-lahan mengikis halangan terbesar ini. Uji performa di bumi nyata, seperti tes gaming pada perangkat lain, selampau menjadi penentu akhir kepuasan pengguna.
Masa Depan PC dan Pertarungan Chipset
Kehadiran Snapdragon X2 Elite dengan benchmark nan mengesankan ini bukan sekadar peluncuran produk baru. Ini adalah sinyal bahwa pasar prosesor PC, nan didominasi Intel dan AMD selama puluhan tahun, siap menerima pemain ketiga nan serius. Qualcomm jelas tidak mau lagi menjadi pihak nan hanya mengejar; mereka mau memimpin.
Dengan performa nan mulai menyentuh Apple M4 Pro dan M4 Max, serta janji efisiensi daya nan revolusioner, Snapdragon X2 berpotensi mendefinisikan ulang apa nan diharapkan dari laptop Windows modern. Apakah ini berarti era kekuasaan x86 bakal segera berakhir? Mungkin belum. Namun, ini pasti bakal memacu penemuan dan kejuaraan nan lebih ketat, nan pada akhirnya menguntungkan kita sebagai konsumen. Kita bakal memandang lebih banyak pilihan laptop dengan kreasi nan lebih tipis, baterai lebih tahan lama, dan performa nan tidak perlu dikompromikan.

Bagi fans teknologi, tahun-tahun mendatang bakal menjadi periode nan sangat menarik untuk diikuti. Pertarungan antara ARM (Qualcomm dan Apple) dengan x86 (Intel dan AMD) bakal memanas. Setiap peluncuran chipset baru, baik di bumi PC maupun smartphone seperti nan ditelaah dalam review perangkat flagship, bakal membawa terobosan baru. Snapdragon X2 Elite adalah tembbakal pembuka nan keras. Ia menyampaikan pesan: Windows on ARM bukan lagi bahan tertawaan. Ia sudah dewasa, dan siap bertarung. Sekarang, tinggal menunggu gimana OEM laptop merespons dengan kreasi hardware nan bisa memaksimalkan potensi besar ini, dan apakah pengalkondusif software akhirnya bisa setara dengan janji hardware nan menggoda tersebut.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·