Wall Street Naik Di Tengah Anjloknya Harga Minyak Dunia Dua Hari Beruntun

Sedang Trending 10 bulan yang lalu

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) naik pada perdagangan saham hari Selasa (24/6). Kenaikan ditopang oleh ekspektasi pasar bahwa gencatan senjata antara Israel dan Iran bakal terus berlanjut. Sementara itu, nilai minyak bumi kembali turun tajam untuk hari kedua berturut-turut.

Indeks Dow Jones naik 507 poin alias 1,19% ke level 43.089,02. S&P 500 naik 1,11% ke 6.092,18, dan Nasdaq naik 1,43% ke 19.912,53. Nasdaq 100 apalagi mencetak rekor baru, naik 1,53% ke 22.190,52.

Penurunan nilai minyak menjadi berita baik bagi pasar. Minyak mentah AS turun lebih dari 6%, setelah sehari sebelumnya juga ambruk lebih dari 7%. Penurunan ini mendorong naiknya saham-saham maskapai seperti United Airlines dan Delta melesat dari 2%. Saham teknologi seperti Broadcom dan Nvidia juga ikut menguat, masing-masing naik nyaris 4% dan 2,6%.

Kenaikan pasar AS di tengah upaya Presiden Donald Trump untuk menjaga gencatan senjata antara Israel dan Iran terus berlanjut. Meski kedua pihak tetap saling tuding melanggar kesepakatan, Trump menyatbakal bahwa Israel tidak bakal menyerang Iran dan gencatan senjata tetap berjalan, meskipun dia kecewa dengan sikap kedua negara.

Menurut Manajer Portofolio Palmer Square Capital Management, Jon Brager, pasar sekarang mulai mengesampingkan akibat geopolitik dan mengalihkan konsentrasi kembali ke arah kebijbakal fiskal dan tarif. 

“Pasar memandang keterlibatan AS terpemisah dan respons Iran hanya berkarakter simbolis,” kata Brager dikutip CNBC, Rabu (25/6).

Sentimen positif juga datang dari pidato Ketua The Fed Jerome Powell di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS. Powell menegaskan The Fed tidak bakal terburu-buru memangkas suku bunga. Selain itu The Fed tetap menanti kejelasan akibat tarif impor nan diberlakukan oleh pemerintahan Trump terhadap perekonomian.

Tak hanya itu, Powell juga menghadapi tekanan dari Gedung Putih untuk segera melonggarkan kebijbakal moneter. Namun, dua pejabat The Fed dalam beberapa hari terakhir mengindikasikan kemungkinan pelonggaran bisa dilakukan secepatnya pada Juli, tergantung perkembangan info ekonomi ke depan.

Selengkapnya
Sumber
-->