SEMARANGUPDATE.COM – Ratusan kapal nelayan memenuhi perairan Tambak Lorok saat puncak aktivitas Sedekah Laut dan Bumi Tambaklorok 2026 digelar pada Minggu (10/5).
Tradisi tahunan masyarakat pesisir utara Kota Semarang itu menjadi simbol rasa syukur atas hasil laut nan melimpah sekaligus rayuan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyebut infak laut bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan corak penghormatan masyarakat terhadap laut sebagai sumber kehidupan dan bagian krusial nan kudu dijaga bersama.
“Ini adalah hormat kita kepada laut dan kita minta laut untuk menjaga kita, menjadi sumber rezeki bagi kita dan berambisi bahwa laut dan manusia bisa sinergi saling membantu membawa ketenangan, ketentraman, dan kesejahteraan,” ujarnya.
Kegiatan nan mengangkat tema Nguri-uri Kabudayan dan Pelestarian Tradisi tersebut diawali dengan angan arwah jama’, khatkondusif Al-Qur’an, hingga malam tirakatan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambaklorok pada Sabtu (9/5).
Pada puncak acara, digelar kirab kepala keraroma mengelilingi kampung sebelum prosesi larung sesaji di tengah laut menggunbakal kapal TNI AL berbareng Wali Kota Semarang.
Rangkaian seremoni kemudian dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dan bakal ditutup melalui pengajian akbar pada Senin (11/5).
Dalam kesempatan itu, Agustina memberikan apresiasi kepada masyarakat nelayan nan tetap mempertahankan tradisi leluhur di tengah perkembangan area pesisir nan semakin modern.
“Tradisi ini adalah bukti bahwa masyarakat tidak pernah lupa pada akarnya. Larung sesaji ini menjadi cerita tentang budaya, tentang karya, karsa, dan rasa. Dan ini adalah ucapan syukur kepada Gusti Pangeran atas limpahan dan keberkahan dari laut,” katanya.
Menurutnya, infak laut juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran menjaga ekosistem laut serta kewaspadaan terhadap kondisi cuaca nan belakangan susah diprediksi.
Agustina berambisi tradisi Sedekah Laut Tambak Lorok tetap menjadi perekat solidaritas masyarakat pesisir sekaligus pengingat bahwa pemgedung area kudu melangkah beriringan dengan pelestarian budaya dan keselkajian para nelayan sebagai penyangga kehidupan maritim Kota Semarang. (*)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·