Google Pixel 10: Refresh Rate 120hz Ternyata Dikunci 60hz Dari Pabrik

Sedang Trending 17 jam yang lalu

CEKLANGSUNG.COM – Bayangkan Anda baru saja membeli flagship terbaru dengan nilai nyaris Rp 12 juta, membuka kotaknya dengan penuh antusias, dan… kecewa. Bukan lantaran kreasi alias performa, melainkan lantaran pengalkondusif visual nan terasa “patah-patah”. Itulah nan terjadi pada Google Pixel 10, di mana fitur refresh rate 120Hz justru dinonaktifkan secara default. Mengapa Google melakukan perihal ini? Dan gimana langkah mengaktifkannya?

Menurut investigasi Android Authority, Pixel 10 series sebenarnya dibekali layar dengan refresh rate hingga 120Hz. Namun, pada model dasar, Google memilih untuk mengunci refresh rate di nomor 60Hz. Alhasil, pengguna nan pertama kali menyalbakal perangkat bakal merasbakal scrolling dan animasi UI nan kurang smooth dibandingkan smartphone flagship lain. Ini seperti membeli mobil sport tetapi dipaksa berkendara dalam mode eco saja.

Untungnya, solusinya tidak rumit. Pengguna dapat mengaktifkan fitur “Smooth display” melalui pengpatokan dalam beberapa langkah mudah. Namun, Google secara transparan mengingatkan bahwa opsi ini bakal menguras baterai lebih cepat. Sebuah trade-off nan mungkin tidak semua orang siap terima—terutama bagi mereka nan lebih memprioritaskan ketahanan baterai daripada kelancaran visual.

Pixel 10 comes with its refresh rate locked to 60Hz

Lalu, kenapa Google melakukan ini? Spekulasi pertama berangkaian dengan teknologi layar. Pixel 10 dasar menggunbakal panel LTPS OLED, bukan LTPO OLED seperti jenis Pro. Panel LTPS hanya bisa beranjak antara 60Hz dan 120Hz, sementara LTPO dapat turun hingga 10Hz saat tidak diperlukan, sehingga lebih irit daya. Dengan menonaktifkan 120Hz secara default, Google mungkin mau memastikan baterai memperkuat lebih lama bagi pengguna nan tidak terlampau sensitif terhadap perbedaan refresh rate.

Alasan kedua lebih berkarakter psikologis dan pasar. Sebagian besar pengguna mungkin tidak menyadari perbedaan antara 60Hz dan 120Hz. Bagi mereka, nan krusial smartphone dapat digunbakal seharian tanpa kudu sering di-charge. Dengan menonaktifkan fitur ini, Google seolah berkata, “Kami mengutambakal pengalkondusif baterai nan konsisten bagi kebanyakan pengguna.”

Namun, bagi kalangan tech-savvy alias gamer, keputusan ini terasa seperti langkah mundur. Refresh rate tinggi bukan sekadar angka—ia membawa pengalkondusif nan lebih imersif, responsif, dan nyaman, terutama saat bermain game alias menelusuri konten panjang. Jika Anda termasuk dalam golongan ini, mengaktifkan 120Hz adalah suatu keharusan. Meski demikian, bersiaplah dengan power bank alias charger portabel lantaran daya baterai bakal terkikis lebih cepat.

Selain soal refresh rate, ada perihal lain nan perlu diperhatikan saat membeli Pixel 10. Versi 128GB tetap menggunbakal penyimpanan UFS 3.1 nan lebih lambat, sementara jenis 256GB ke atas sudah dilengkapi UFS 4.0. Bagi nan sering menyimpan file besar alias menjalankan aplikasi berat, pilihan kapabilitas menjadi krusial. Jadi, pertimbangkan baik-baik sebelum memutuskan membeli jenis termurah.

Lalu, gimana dengan masa depan smartphone flagship? Tren ini menunjukkan bahwa produsen semakin konsentrasi pada optimasi pengalkondusif pengguna sehari-hari, apalagi jika kudu “menyembunyikan” fitur canggihnya. Ini mungkin langkah bijak untuk pasar mainstream, tetapi bisa jadi bumerang bagi segmen pengguna nan menginginkan nan terbaik sejak pertama kali membuka kotak.

Nah, jika Anda sudah terlanjur membeli Pixel 10 dan mau menikmeninggal 120Hz, ikuti langkah berikut: buka Settings > Display > Smooth display, lampau aktifkan opsi tersebut. Dalam sekejap, segala gerbakal di layar bakal terasa lebih lembut dan responsif. Tapi ingat, seperti pengalkondusif gaming AAA di perangkat berkekuatan tinggi, ada akibat nan kudu ditanggung.

Di sisi lain, bagi nan sensitif terhadap flicker layar alias sering mengalami mata lelah, refresh rate tinggi justru bisa menjadi masalah. Sebelum mengaktifkannya, pertimbangkan juga dampaknya pada kenyamanan visual Anda. Beberapa perubahan setting smartphone justru direkomendasikan untuk mengurangi ketegangan mata.

Keputusan Google ini juga mengingatkan kita bahwa tidak semua fitur flagship kudu diaktifkan secara default. Terkadang, nan terbaik adalah membiarkan pengguna memilih sesuai kebutuhan mereka. Namun, alangkah baiknya jika opsi ini diberi penjelasan lebih jelas sejak awal, sehingga pengguna tidak merasa “dikecewakan” saat pertama kali menggunbakal perangkat.

Ke depannya, mungkin Google bakal lebih terbuka tentang kebijbakal semacam ini. Atau, siapa tahu, mereka bakal mengmengambil panel LTPO untuk semua varian, seperti nan dilakukan beberapa kompetitor. Sampai saat itu, pengguna Pixel 10 kudu menerima realita bahwa flagship mereka punya “rahasia” nan kudu diungkap manually.

Jadi, apakah Anda termasuk nan langsung mengaktifkan 120Hz alias memilih memperkuat di 60Hz untuk baterai nan lebih tahan lama? Ceritbakal pengalkondusif Anda di komentar! Dan jangan lupa, ikuti perkembangan teknologi terbaru hanya di Telset.id.

Selengkapnya
Sumber Telset
-->