Dampak Penutupan Selat Hormuz: Ekspor Minyak Iran Terhambat, Harga Minyak Naik

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

ILUSTRASI. MONTAJE FOTO, Bendera Israel dan Iran, eskalasi bentrok di Timur Tengah. (IMAGO/Christian Ohde via REUTERS)

Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo

CEKLANGSUNG.COM - Perang antara Iran dan Israel diprediksi tetap bakal terus berlanjut. Salah satu langkah paling menakut-nakuti dari Iran adalah upaya penutupan Selat Hormuz, jalur minyak paling krusial di dunia.

Gencatan senjata Iran dan Israel diumumkan secara sepihak oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Senin (23/6). Pengumuman itu disangkal oleh Iran. Pihak Israel pun tidak memberikan tanggapan.

Ketidakjelasan mengenai gencatan senjata ini jelas membikin potensi meluasnya perang Iran-Israel semakin besar.

Selain menyerang dengan militer, Iran mempunyai senjata efektif berupa penutupan Selat Hormuz.

Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Iran. Mengutip AP News, sekitar 20 juta barel minyak per hari, alias sekitar 20% dari konsumsi minyak dunia, melewati selat ini pada tahun 2024.

Pangkalan angkatan laut utama Iran di Bandar Abbas berada di pantai utara selat tersebut. Iran juga dapat menembakkan rudal dari pantai Teluk Persia nan panjang, seperti nan dilakukan sekutunya, pemberontak Houthi Yaman, di Laut Merah.

Baca Juga: Daftar 9 Negara Pemilik Senjata Nuklir di Dunia: Israel Ada, Iran Tak Ada

Ekspor Minyak Iran Terhambat

Penutupan Selat Hormuz tidak hanya bakal berakibat pada pasokan minyak dunia, tetapi juga jalur ekspor minyak Iran sendiri.

Menurut analis dari Kpler, Meskipun Iran mempunyai terminal baru nan sedang dibangun di Jask, tepat di luar selat, akomodasi baru itu hanya memuat minyak satu kali dan tidak dalam posisi untuk menggantikan peran Selat Hormuz.

Sebagai tambahan, penutupan selat tersebut bakal berakibat jelek pada China, mitra jual beli terbesar Iran dan satu-satunya pengguna minyak nan tersisa.

Tutupnya selat itu juga diprediksi bakal merugikan negara-negara Arab pengekspor minyak, nan setidaknya secara resmi mendukung Iran dalam perangnya dengan Israel.

Penutupan Selat Hormuz juga memblokir wilayah perairan Oman, nan bakal menyinggung negara nan selama ini bertindak sebagai mediator antara AS dan Iran.

Baca Juga: Pangkalan Militernya Diserang, Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Iran-Israel

Kenaikan Harga Minyak Dunia

Terhambatnya ekspor jelas bakal meningkatkan nilai minyak. Analis Kpler memprediksi kenaikan nilai minyak bakal setinggi US$120-130 per barel.

"Jika Iran memblokir selat itu, nilai minyak bisa melonjak setinggi US$120-130 per barel. Hal itu bakal menimbulkan guncangan inflasi pada ekonomi global, jika berjalan lama," kata Homayoun Falakshahi, kepala analis minyak mentah di Kpler, dikutip AP News.

Dijelaskan bahwa, Asia bakal terkena akibat langsung lantaran 84% minyak nan mengalir melalui selat tersebut menuju wilayah mereka, dengan tujuan utamanya adalah China, India, Jepang, dan Korea Selatan. 

China bakal terkena akibat paling serius lantaran memperoleh 47% minyak nan diangkut melalui laut dari Teluk. Untungnya, kekuatan ekonomi bumi itu tetap mempunyai persediaan minyak sebesar 1,1 miliar barel, alias persediaan untuk 2 1/2 bulan.

Sementara itu, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), Amerika Serikat bakal merasbakal akibat dari nilai nan lebih tinggi tetapi tidak bakal kehilangan banyak pasokan.

AS hanya mengimpor sekitar 7% minyaknya dari negara-negara Teluk Persia melalui selat tersebut pada tahun 2024, nomor itu adalah nan terendah dalam nyaris 40 tahun.

Tonton: Trump Umumkan Gencatan Senjata Antara Israel dan Iran

Selanjutnya: Promo Deterjen di Alfamart & Superindo Weekday Terbaru Juni 2025, Ada Beli 2 Gratis 1

Menarik Dibaca: Samsung S23 Ultra Harga Juni 2025, Smartphone Canggih dengan Snapdragon 8 Gen 2




Selengkapnya
Sumber
-->