SEMARANGUPDATE.COM – Sedikitnya 19 rumah penduduk di RT 06 RW 05, Kelurahan Tinjomoyo, Keckajian Banyumanik, mengalami kerusbakal berupa retbakal nan kian membesar dalam beberapa bulan terakhir.
Warga menduga kondisi tersebut berangkaian dengan aktivitas dua proyek nan tengah melangkah di area Gombel, ialah perbaikan Jalan Gombel Lama dan pekerjaan pematangan lahan untuk pengembangan area komersial Pakuwon.
Kondisi itu menimbulkan keresahan di lingkungan setempat. Selain retbakal nan terus bertambah pada gedung rumah, penduduk juga mengeluhkan debu dan kebisingan dari aktivitas proyek nan dinilai mengganggu kenyamanan sehari-hari.
Salah satu penduduk terdampak, Parjono (70), mengatbakal kerusbakal pada rumahnya tergolong cukup parah. Retbakal muncul di beragam bagian bangunan, mulai dari ruang tamu, bilik tidur hingga area belakang rumah. Bahkan, sejumlah bagian lantai terlihat menggelembung.
Menurut Parjono, rumahnya memang pernah mengalami retbakal ringan lantaran berada di area nan rawan pergerbakal tanah. Namun sejak proyek-proyek besar berjalan di sekitar permukiman, kondisi tersebut disebut semakin memburuk.
“Dulu hanya retbakal kecil, sekarang semakin lebar dan jumlahnya bertambah. Ada bagian tembok nan mulai rentan sehingga membikin kami khawatir,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Ia juga mengsaya sering merasbakal getaran, terutama saat musim hujan dan ketika perangkat berat tetap beraksi hingga malam hari. Karena itu, dia rutin memeriksa kondisi rumah untuk memastikan tidak muncul kerusbakal baru.
Kerusbakal serupa juga terjadi pada rumah milik anaknya nan berada tepat di samping kediamannya.
Ketua RT 06, Tugimin, mengatbakal akibat proyek tidak hanya berupa kerusbakal bangunan. Warga juga terdampak oleh debu nan cukup tebal serta menurunnya aktivitas ekonomi setelah akses Jalan Gombel Lama ditutup sementara.
Berdasarkan pendataan lingkungan setempat, terdapat 19 rumah milik 16 kepala family nan mengalami keretakan. Data tersebut telah dilaporkan kepada pihak Kelurahan Tinjomoyo untuk ditindaklanjuti.
“Sebelumnya retbakal hanya sangat kecil, sekarang ada nan lebarnya sampai beberapa sentimeter. Bahkan ada retbakal nan cukup besar hingga bisa dimasuki jari tangan,” kata Tugimin.
Ia menambahkan, pihak pelaksana proyek telah melakukan pendataan awal terhadap rumah-rumah nan terdampak, termasuk mendokumentasikan kondisi gedung melalui foto dan sketsa.
Warga berambisi ada langkah konkret dari pihak terkait, baik berupa perbaikan maupun kompensasi atas kerusbakal nan dialami. Mereka menilai akibat proyek tidak hanya memengaruhi kondisi rumah, tetapi juga kenyamanan lingkungan sekitar.
Menanggapi perihal tersebut, Kepala Dinas Penataan Ruang Kota Semarang, Ferry Kuntoaji, menjelaskan bahwa saat ini terdapat dua pekerjaan bentuk nan berjalan berbarengan di area Gombel Lama.
Pekerjaan pertama adalah perbaikan Jalan Gombel Lama nan menjadi kewenangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta.
Sementara pekerjaan kedua berupa pematangan lahan di sisi barat area untuk kebutuhan pengembangan area komersial oleh pihak swasta.
Ferry menegaskan, aktivitas nan berjalan saat ini tetap berupa penguatan stabilitas tanah dan belum memasuki tahap pemgedung gedung.
Menurutnya, kedua pekerjaan tersebut dilakukan secara terintegrasi agar sistem drainase jalan nasional dapat selaras dengan bangunan pengamanan lereng nan sedang dikerjakan.
Sebagai upaya mitigasi, area Gombel telah dipantau menggunbakal perangkat pemantau pergerbakal tanah seperti inclinometer dan piezometer nan dipasang di 20 titik sejak dua tahun lalu.
“Pemantauan kondisi tanah terus dilakukan secara berkala sehingga potensi pergerbakal tanah dapat diketahui lebih awal dan langkah antisipasi bisa segera dilakukan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa pekerjaan nan sedang melangkah saat ini merupbakal proyek perbaikan jalan dan pematangan lahan, bukan pemgedung pusat perbelanjaan seperti nan banyak dipersepsikan masyarakat. (*)
10 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·