Wall Street Melonjak Di Tengah Konflik, Pasar Harap The Fed Pangkas Suku Bunga

Sedang Trending 9 bulan yang lalu

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup melonjak pada perdagangan Senin (23/6). Kenaikan itu di tengah ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve bakal memangkas suku kembang referensi sebesar 25 pedoman poin pada Juli mendatang. 

Optimisme penanammodal Wall Street setidaknya meredam kekhawatiran penanammodal dari ketegangan geopolitik menyusul eskalasi bentrok AS-Iran. Indeks Dow Jones naik 374,96 poin alias 0,89% ke level 42.581,78. Indeks S&P 500 melonjak 57,33 poin alias 0,96% ke posisi 6.025,17, dan Nasdaq menguat 183,57 poin alias 0,94% ke level 19.630,98.

Kenaikan ini didorong oleh reli saham sektor konsumen diskresioner, terutama Tesla nan melonjak 8,2% usai peluncuran jasa robotaxi di Austin, Texas. Saham Fiserv juga naik 4,4% setelah mengumumkan rencana peluncuran platform aset digital, sementara Northern Trust melejit 8% setelah laporan merger potensial dengan Bank of New York Mellon.

Dari 11 sektor utama di S&P 500, hanya sektor daya nan ditutup turun lantaran tekanan nilai minyak. Meski ketegangan militer meningkat, nilai minyak turun lbawaan Iran tidak menindaklanjuti anckondusif untuk menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak global.

Di New York Stock Exchange (NYSE), jumlah saham nan naik melampaui nan turun dengan rasio 2,35 banding 1, disertai 128 rekor tertinggi baru, dan 71 rekor terendah baru. Sementara itu, di Nasdaq, 2.591 saham menguat dan 1.875 saham melemah, menghasilkan rasio 1,38 banding 1 untuk saham nan naik. 

Nasdaq Composite mencatat 91 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 113 rekor terendah baru. S&P 500 turut mencatat 12 rekor tertinggi baru dan 4 rekor terendah baru.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 18,60 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari terakhir nan berada di level 18,16 miliar saham. CEO InfraCap, Jay Hatfield,  menilai kenaikan ini agak mengejutkan. 

“Ini adalah periode Juni nan biasanya penuh koreksi, tetapi penanammodal tampaknya enggan menjual,” kata Hatfield, dikutip Reuters, Selasa (24/6). 

Ketidakpastian Geopolitik Mereda

Optimisme pasar saham AS pada awal pekan diperkuat oleh meredanya ketidakpastian geopolitik dan sinyal dovish dari bank sentral. Analis menyebut serangan militer AS justru memberikan kepastian bagi pelsaya pasar, sehingga memicu reli saham di tengah periode nan biasanya rawan koreksi pada bulan Juni.

"Pasar bergerak sangat bullish lantaran serangan AS mengakhiri spekulasi bakal tindakan militer. Di tengah ketegangan, penanammodal justru enggan menjual," kata Jay Hatfield, CEO InfraCap.

Seiring dengan perihal itu, Wakil Ketua The Fed Michelle Bowman menegaskan pentingnya mempertimbangkan penyesuaian suku kembang demi menjaga pasar tenaga kerja. Sementara Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menilai akibat tarif terhadap perekonomian sejauh ini tidak seburuk perkiraan.

Pasar sekarang memperkirbakal sedikitnya dua kali pemangkasan suku kembang masing-masing sebesar 25 pedoman poin sebelum akhir 2025, dengan pemangkasan pertama kemungkinan dimulai pada September. Namun, Paul Nolte dari Murphy & Sylvest menilai Fed belum tentu bertindak tahun ini. 

“Strategi 'tunggu dan lihat' dari Powell mungkin tepat, tapi pasar tentu lebih menyukai suku kembang rendah,” ujarnya.

Meski ketegangan di Timur Tengah memanas, nilai minyak justru turun. Hal ini lantaran Iran tidak mengambil langkah ekstrem seperti menutup Selat Hormuz, jalur utama ekspor minyak global. “Pasar menilai serangan itu berhasil. Iran tidak membdasar segarang nan dikhawatirkan,” ujar Nolte.

Dari sisi ekonomi, info awal S&P Global PMI menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS sedikit melampaui proyeksi analis. Penjualan rumah baru juga meningkat secara tak terduga meski tekanan suku kembang tinggi tetap membayangi.

Investor sekarang menanti rilis info krusial akhir pekan ini, termasuk PDB kuartal I, nomor Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), serta kesaksian Ketua The Fed Jerome Powell di Kongres, nan dinilai bakal menjadi pedoman arah kebijbakal moneter dalam waktu dekat.

Selengkapnya
Sumber
-->