CEKLANGSUNG, Jakarta Di bumi kerja nan kompetitif, menit pertama wawancara kerja bisa menjadi landasan pertama nan memcorak alur percakapan selanjutnya. Profesor Sekolah Bisnis Columbia, Michael Chad Hoeppner mengemukbakal sebuah pendapat terkenal bahwa seseorang hanya mempunyai waktu sekitar tujuh detik untuk menciptbakal kesan pertama nan kuat. Maka, krusial bagi pelamar untuk memanfaatkan waktu singkat ini dengan sebaik-baiknya.
Selama interview kerja, kata Hoeppner, pelamar kerja mempunyai sekitar 90 detik untuk menarik perhatian pewawancara dan langkah berbincang adalah kuncinya.
Menurut dia, kunci utama dari perihal tersebut adalah komunikasi. Cara berbicara, intonasi suara, hingga ekspresi wajah saat menyampaikan jawaban pertama bakal memcorak persepsi awal pewawancara. Mulailah dengan memperkenalkan diri secara singkat namun percaya diri, tgenting mata pewawancara, dan berikan senyum ringan.
Tak kalah penting, perhatikan bahasa tubuh. Duduk tegak, jangan menyilangkan tangan, dan tunjukkan antusiasme saat menjawab pertanyaan pembuka. Wawancara bukan hanya soal isi jawaban, tetapi juga gimana langkah kita menyampaikannya.
Mempersiapkan kalimat pembuka nan efektif dan latihan berbincang di depan cermin bisa membantu meningkatkan percaya diri. Ingat, kesan pertama mungkin tak bisa diulang, tapi bisa dipersiapkan dengan matang.
3 Tips Membuat Kesan Pertama
Berikut liputan6.com ulas 3 tips membikin kesan pertama nan baik saat wawancara kerja seperti dikutip dari CNBC:
1. Tampilkan Kesan Pertama nan Kuat
Hoeppner nan merupbakal seorang guru besar dan pembimbing komunikasi sekaligus pembimbing kandidat politik, menyambakal menit pertama wawancara kerja dengan sesi pertama debat presiden. Menurutnya, banyak orang keliru menganggap pertanyaan pertama sebagai sekadar pemanasan. Padahal, konsentrasi audience justru sangat tajam di awal sesi.
“Rentang perhatian orang sekarang jauh lebih pendek. Karena itu, kita mempunyai waktu nan sangat terpemisah untuk menciptbakal kesan,” jelas Hoeppner.
Dalam wawancara kerja, perihal serupa berlaku. Anda mungkin hanya punya satu kesempatan untuk memberikan jawaban nan benar-betul diperhatikan dan diingat. Maka, manfaatkanlah pertanyaan pembuka seperti “Ceritbakal tentang diri Anda” dengan sebaik mungkin.
Pertanyaan semacam itu memberikan ruang besar untuk mengarahkan pembicaraan ke arah nan lebih luas juga menguntungkan posisi Anda sebagai kandidat. Hoeppner menyarankan agar jawaban dimulai dengan cerita alias anekdot nan konkret dan relevan. Cerita nan jelas dan individual bakal lebih mudah diingat dan memberi pemahkondusif nan lebih dalam tentang siapa Anda dan apa nilai nan Anda tawarkan.
2. Fokus pada Penyampaian, Bukan Hanya Isi
Menurut Hoeppner, banyak kandidat nan gugup saat wawancara dan condong mengubah langkah mereka berbincang demi terlihat profesional. Sayangnya, perihal ini justru membikin mereka tampak ksaya dan tidak otentik seolah menjadi jenis "robotik" dari diri sendiri. Nada bicara jadi monoton, gerbakal tubuh dibatasi, dan tatapan mata menjadi kosong serta kaku.
Sebaliknya, dia menyarankan agar kandidat tetap rileks dalam postur dan bahasa tubuh. Lakukan kontak mata nan wajar dan berbicaralah dengan jelas, lugas, dan percaya diri. Bukan hanya isi jawaban nan penting, tapi juga gimana langkah menyampaikannya.
Keterampilan komunikasi seperti ini bukan hanya krusial saat wawancara, tapi juga krusial dalam bumi kerja sehari-hari. Hoeppner menekankan bahwa komunikasi nan kuat bisa berakibat langsung pada kemajuan karier. “Banyak tenaga kerja nan sangat kompeten, tetapi kariernya mandek lantaran mereka tidak bisa menyampaikan buahpikiran secara meyakinkan,” ujarnya.
Tanpa keahlian komunikasi nan baik, pesenggang promosi ke posisi strategis alias nan berhadapan langsung dengan pengguna bisa susah diraih meski performa kerja mereka sangat baik.
3. Berlatih di Hadapan Cermin dengan Suara Lantang
Menurut Hoeppner satu-satunya langkah untuk meningkatkan keahlian berbincang adalah dengan berlatih secara konsisten. Ia menyarankan metode nan dia sebut sebagai "latihan pertanyaan dengan bunyi keras" sebagai langkah untuk membiasbakal diri menjawab pertanyaan secara spontan, alami, dan percaya diri, layaknya saat wawancara sebenarnya berlangsung.
Caranya sederhana: ajukan pertanyaan nan mungkin muncul dalam wawancara kepada diri sendiri kemudian jawab dengan bunyi keras, lakukan perihal itu berulang kali. “Pertama kali dilakukan, pasti bakal terasa canggung. Tapi tidak masalah. Ulangi terus sampai terasa alami,” katanya.
Tujuan dari latihan ini bukanlah menyusun jawaban sempurna, tetapi melatih keluwesan saat menyampaikan pikiran secara spontan dan jelas. Banyak kandidat nan terlampau terpsaya pada skrip alias catatan nan telah disiapkan, tapi saat diucapkan, kalimat-kalimat tersebut terdengar ksaya dan tidak mengalir.
“Cara kita berbincang berbeda dengan langkah kita menulis,” jelasnya. “Tak jarang, saat wawancara dimulai, nan keluar justru jawaban nan bertele-tele dan tak jelas.”
Untuk memperkuat keahlian komunikasi, Hoeppner juga menyarankan agar kita lebih sering berbincang langsung misalnya dengan mengalihkan percakapan telepon menjadi video call alias memperbanyak obrolan santuy dengan orang lain.
Kemampuan Komunikasi
Menurutnya, keahlian komunikasi tgenting muka bakal menjadi semakin krusial di era teknologi dan kepintaran buatan. Ketika akses terhadap info nyaris tak terbatas, langkah kita menyampaikan buahpikiran menjadi pembeda utama.
Wawancara kerja bukan hanya soal siapa nan paling pintar, tapi siapa nan paling bisa menyampaikan potensinya dengan jelas dan meyakinkan. Menit pertama adalah momen krusial nan bisa membuka alias menutup peluang. Dengan memulai secara meyakinkan, konsentrasi pada langkah penyampaian, dan membiasbakal diri berbincang dengan bunyi keras, Anda bisa tampil lebih percaya diri dan autentik.
Ingatlah bahwa pewawancara tidak hanya menilai dari isi jawaban, tetapi juga memandang gimana pembawaan diri Anda. Maka, persiapkan diri dengan baik, berlatih, dan tunjukkan jenis terbaik. Bukan jenis nan sempurna, tapi jenis nan jujur dan mengesankan.
Reporter: Linda Maulina
9 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·