Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
CEKLANGSUNG.COM - JAKARTA. Selat Hormuz kembali menjadi titik panas bumi setelah dua kapal supertanker dilaporkan melakukan putar kembali menyusul serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Ketegangan geopolitik ini memicu kekhawatiran terganggunya pasokan daya global.
Dua Supertanker Ubah Haluan, Hindari Risiko Selat Hormuz
Data pelacbakal kapal menunjukkan setidaknya dua very large crude carriers (VLCC) — Coswisdom Lake dan South Loyalty — melakukan manuver putar kembali di dekat Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Hal ini terjadi menyusul eskalasi bentrok di area setelah Washington menyatbakal support dan partisipasinya dalam serangan Israel terhadap akomodasi nuklir Iran.
Coswisdom Lake, nan disewa oleh Unipec — unit perdagangan milik Sinopec (perusahaan migas milik negara Tiongkok) — awalnya menuju pelabuhan Zirku di Uni Emirat Arab untuk memuat minyak mentah tujuan Tiongkok.
Baca Juga: Iran Geram! Parlemen Setujui Penutupan Selat Hormuz Usai Serangan AS ke Situs Nuklir
Namun, kapal ini berkembali arah ke selatan pada Minggu dan baru kembali melanjutkan perjalanannya pada Senin. South Loyalty, nan dijadwalkan memuat minyak dari terminal Basra, Irak, juga melakukan U-turn dan memilih menunggu di luar area Selat Hormuz.
Kapal-Kapal Kurangi Waktu Berada di Selat Hormuz
Ketakutan terhadap potensi bargumen Iran, termasuk anckondusif penutupan Selat Hormuz, telah membikin banyak perusahaan pelayaran dan pemilik kapal berhati-hati. KY Lin, ahli bicara Formosa Petrochemical asal Taiwan, menyatbakal bahwa kapal-kapal sekarang hanya bakal masuk ke wilayah tersebut menjelang waktu pemuatan untuk meminimalkan risiko.
Perusahaan pelayaran Jepang seperti Nippon Yusen dan Mitsui O.S.K. Lines juga tetap mengizinkan transit melalui Selat Hormuz, namun telah memberikan petunjuk agar kapal-kapal mereka mengurangi waktu berada di Teluk.
Lalu Lintas Kapal Turun Drastis, Pasar Minyak Tegang
Menurut info dari Sentosa Shipbrokers nan berpatokan di Singapura, jumlah tanker kosong nan memasuki Teluk turun 32% selama sepekan terakhir, sementara keberangkatan tanker bermuatan turun 27% dibanding awal Mei. Ini menunjukkan bahwa gangguan logistik mulai nyata terjadi.
Beberapa pedagang minyak dan analis mengatbakal kepada Reuters bahwa mereka telah menerima peringatan tentang kemungkinan keterlambatan pengiriman akibat kapal-kapal nan menunggu di luar area tersebut hingga situasi lebih aman.
Baca Juga: Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Ini Dampaknya Bagi Perekonomian Global
Harga Minyak Diprediksi Melejit ke US$100 per Barel
Anckondusif penutupan Selat Hormuz — nan menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia — telah memicu spekulasi bahwa nilai minyak bisa melonjak hingga US$100 per barel. Meskipun Parlemen Iran telah menyetujui rancangan undang-undang untuk menutup Selat, keputusan final tetap memerlukan persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Iran telah berulang kali menakut-nakuti bakal menutup Selat Hormuz dalam beberapa tahun terakhir, tetapi belum pernah benar-betul merealisasikannya.
7 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·