Selat Hormuz Jalur Vital Bagi Perdagangan Migas Dan Dampak Ke Ekonomi Global

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

ILUSTRASI. FILE PHOTO: Oil tankers pass through the Strait of Hormuz, December 21, 2018. REUTERS/Hamad I Mohammed/File Photo

Reporter: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar

CEKLANGSUNG.COM - JAKARTA- Anckondusif Iran untuk menutup Selat Hormuz dari lampau lintas perdagangan laut menjadi anckondusif serius bagi ekonomi dunia. Sebab tindakan nan telah disetujui oleh Parlemen Iran sebagai bargumen atas serangan Amerika Serikat dan sekutunya Israel ke negara Persia ini bakal berakibat serius bagi pasokan minyak bumi dan gas alam cair (LNG) ke pasar global.

Selat Hormuz sangat krusial dalam perdagangan daya dunia – berikut info dan insightnya berasas sumber resmi nan dihimpun KONTAN.

Baca Juga: Iran Geram! Parlemen Setujui Penutupan Selat Hormuz Usai Serangan AS ke Situs Nuklir

Pertama, Selat Hormuz menjadi jalur utama minyak dan gas dunia.

Mengutip catatan US Energy Information Administration (16/6/20205), sekitar 20 juta barel minyak per hari nan melewati Selat Hormuz sepanjang 2024 hingga kuartal I 2025.

Jumlah ini setara dengan kurang lebih sekitar 20 % dari total konsumsi minyak dunia .

Sementara jika dibandingkan dengan volume perdagangan minyak dan gas bumi dunia, nomor ini ini setara dengan lebih dari seperempat alias 25 % dari seluruh volume perdagangan minyak lewat laut dan serta 20 % dari perdagangan gas alam cair alias LNG dunia .

Kedua, Selat Hormuz menjadi sentral ekspor bagi minyak dan gas Asia.

Baca Juga: Jika Iran Tutup Selat Hormuz, Ini Antisipasi Pertamina Amankan Pasokan Minyak

Sebagian besar aliran predagangan minyak dan LNG melalui ekspor melalui selat Hormuz dikirim ke area Asia seperti China, India, Jepang, Korea Selatan.

Secara persentase sekitar 84 % minyak bumi dan 83 % LNG dari area ini di ekspor menuju benua Asia.

Ketiga jalur pengganti perdagangan ekspor dari area ini sangat terpemisah

Saat ini terdapat beberapa jalur pengganti perdagangan minyak dan gas bumi nan di hasilkan negara-negara di area teluk:

Misalnya Saudi Arabia bisa menjalankan ekspor melali pipa dengan jalur Saudi–Yanbu Pipeline dengan kapabilitas sebesar 5 juta barrel per hari. 

Selain itu Uni Emirat Arab bisa mengoperasikan jalur pipa ke Fujairah nan berkapasitas 1,8 juta barrel per hari.

Baca Juga: Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Ini Dampaknya Bagi Perekonomian Global

Sedangkan Iran sendiri juga punya jalur pipa Goreh–Jask pipeline dengan kapabilitas 300.000 barrel per hari. Tapi jalur ekspor pipa Iran ini nyaris tidak digunbakal sejak Sept 2024 .

Meskipun ada jalur pengganti ekspor dari Kawasan Teluk selain melalui jalur laut di Selat Hormuz, jalur pengganti ini hanya bisa mengalihkan sebagian mini volume alias sekitar 10% saja. Sedangkan lebih dari 90% minyak nan diperdagangkan lewat jalur laut dari Teluk Persia tetap berjuntai ke Selat Hormuz.

Dampak keempat dari penutupan Selat Hormuz adalah akibat geopolitik & akibat ekonomi.

Jika terjadi gangguan alias penutupan Selat Hormuz oleh Iran, nilai minyak bisa melonjak drastis:

Beberapa analis asar seperti dikutip The Times dari Market Watch, memperkirbakal nilai minyak Brent melonjak melewati US$ 100 – 150 per barel  dalam skenario terburuk .

Selain itu Oxford Economics seperti dikutip marketwatch.com memperkirbakal penurunan produk domestik bruto (PDB) dunia bisa mencapai sekitar 0,8 persen jika terjadi lockdown atas Selat Hormuz.

Gangguan lampau lintas perdagangan minyak di Selat Hormuz saja, apalagi tanpa penutupan total bnalar memicu kenaikan premi geopolitik berupa kenaikkan biaya asuransi & transportasi .

Dampak kelima bagi pengimpor migas global.

Baca Juga: Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Terancam Tembus US$130 per Barel

Saat ini Amerika Serikat hanya mengimpor sekitar 0,5 juta barrel per hari dari Timur Tengah lewat Selat Hormuz nan berarti hanya sekitar 7 % dari total impor migas AS, dan 2 % konsumsi AS.

Dampak besar bakal dirasbakal oleh negara negara di Kawasan Asia nan dinilai sangat tergantung dengan minyak dari Teluk Persia: misalnya China & India saat ini menerima 69 % aliran minyak dari Kawasan Teluk. Sedangkan Jepang dan Korea paling terpengaruh jika terjadi gangguan.
 
Demikian gambaran pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur vital untuk sekitar sepertiga perdagangan minyak laut dunia dan 20 % perdagangan LNG.

Jalur ini sangat krusial bagi pasokan daya dunia. Gangguan di sana, walaupun sementara, cukup untuk memicu shok nilai besar, ketidakpastian ekonomi global, dan memicu penurunan pertumbuhan ekonomi dunia.

Selanjutnya: Bank Dunia Soroti Beban Bunga Utang Indonesia Cukup Tinggi, Imbas Penerimaan Rendah

Menarik Dibaca: Ekspansi Berlanjut, Starbucks Raybakal 23 Tahun Lewat Gerai Premium




Selengkapnya
Sumber
-->