Profil Blaise Metrewli, Perempuan Pertama Yang Pimpin Badan Intelijen Inggris Mi6

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

Badan intelijen rahasia Inggris, nan dikenal dengan nama MI6, baru-baru ini menelurkan sebuah rekor. Untuk pertama kalinya, sejak dicorak pada tahun 1909,  lembaga ini dipimpin oleh seorang perempuan. Melansir Al Jazeera, Blaise Metreweli saat ini telah ditetapkan sebagai 'C', ialah posisi tertinggi dalam MI6. 

Pengangkatan Metreweli ini jelas menarik perhatikan publik dan mendapat sambutan positif. Selain lantaran sepak terjangnya nan luar biasa di bumi spionase, sosoknya juga dianggap telah sukses mendobral dominasi pria dalam lembaga nan telah berdiri selama lebih dari 100 tahun ini. 

Blaise Metreweli Ditunjuk Sebagai Pimpinan MI6

Segimana dilaporkan Al Jazeera, Blaise Metreweli diumumkan sebagai 'C' (sebutan untuk pemimpin MI6) MI6 pada pada 15 Juni 2025, menggantikan Richard Moore nan telah menjabat selama lima tahun. Dengan demikian, dia menjadi wanita pertama dalam sejarah nan menduduki posisi tertinggi dalam lembaga tersebut. Meski demikian, dia baru bakal resmi menggantikan Moore pada 1 Oktober 2025 mendatang.

Dalam struktur MI6, kepala lembaga disebut "C" bukan singkatan dari "Chief", melainkan mengikuti tradisi dari Mansfield Smith-Cumming, kepala pertama MI6. Saat menjabat, Smith-Cumming menandatangani arsip dengan inisial tersebut menggunbakal tinta hijau, dan perihal ini menjadi tradisi ini tetap dipertahankan hingga kini.

"Saya bangga dan merasa terhormat diminta untuk memimpin "Angkatan Bersenjata" tempat saya mengabdi. MI6 memainkan peran penting, berbareng MI5 dan GCHQ, dalam menjaga keamanan rakyat Inggris dan memajukan kepentingan Inggris di luar negeri. Saya menanti untuk melanjutkan pekerjaan tersebut berbareng para perwira dan pemasok MI6 nan pemberani, serta beragam mitra internasional kami," pernyataan Metreweli, melansir sis.gov.uk.

Terlepas dari kedudukan sebagai "C", posisi ini menjadikan Metreweli sebagai satu-satunya staf MI6 nan identitasnya dibuka ke publik. Nantinya dia bakal bertanggung jawab langsung kepada Menteri Luar Negeri Inggris.

Mengenal Sosok Blaise Metreweli

Ilustrasi/Foto: Freepik.com

Blaise Metreweli bukan nama baru dalam bumi intelijen Inggris. Perempuan kelahiran 30 Juli 1977 ini merupbakal lulusan antropologi dari Pembroke College, Universitas Cambridge. Sempat menghabiskan masa mini di Hong Kong, ia juga dikenal menguasai bahasa Arab dan mempunyai pemahkondusif lintas budaya nan kuat, nan menjadi modal krusial dalam operasi intelijen luar negeri.

Karier Metreweli sendiri di MI6 dimulai pada tahun 1999 sebagai case officer. Ia pernah ditugaskan di area Eropa dan Timur Tengah nan merupbakal dua wilayah nan krusial dalam geopolitik Inggris. Pengalamannya tidak hanya terpemisah pada MI6, lantaran dia juga sempat bekerja di MI5, badan intelijen dalam negeri Inggris. Hal ini memberinya pemahkondusif menyeluruh tentang sistem intelijen nasional Inggris.

Sebelum diangkat menjadi "C", Metreweli menjabat sebagai Direktur Teknologi dan Inovasi MI6, posisi nan dikenal secara informal sebagai "Q". Di posisi tersebut, dia menjadi salah satu ahli filsafat utama MI6 dalam isu-isu teknologi, khususnya di era spionase digital nan kian kompleks.

Apa Peran dan Tugasnya Sebagai Kepala MI6 alias C?

Ilustrasi/Foto: Freepik.com/KamranAydinov

Sebagai "C", Blaise Metreweli bakal memimpin seluruh operasi intelijen luar negeri Inggris, termasuk pengumpulan dan kajian info nan krusial untuk keamanan nasional. Ia juga bakal menjalin kerja sama strategis dengan mitra internasional seperti MI5, GCHQ (Government Communications Headquarters), dan jaringan Five Eyes nan terdiri dari Inggris, Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Selandia Baru.

Meskipun hanya satu orang, peran "C" begitu strategis. Ia menentukan arah kebijbakal dan strategi jnomor panjang MI6. Tradisi menulis dengan tinta hijau, seperti nan dilakukan Smith-Cumming, tetap menjadi simbol identitas posisi ini hingga sekarang.

Pengangkatan Metreweli sendiri disambut positif, termasuk oleh Richard Moore, kepala MI6 sebelumnya. Ia menyebut Metreweli sebagai sosok visioner nan bisa memimpin MI6 menghadapi tantangan keamanan baru di era digital. Banyak pihak juga memandang ini sebagai momentum krusial dalam membuka jalan bagi keterlibatan lebih besar wanita dalam bumi intelijen global.

Sekilas Kiprah Perempuan dalam Dunia Spionase

Blaise Metreweli/Foto: sis.gov.uk

Blaise Metreweli/Foto: sis.gov.uk

Meski Blaise Metreweli adalah wanita pertama nan memimpin MI6, jejak wanita dalam bumi intelijen bukan perihal baru. Lembaga lain di Inggris, MI5, pernah dipimpin oleh dua perempuan, ialah Stella Rimington (1992) dan Eliza Manningham-Buller (2002). GCHQ saat ini juga dipimpin oleh Anne Keast-Butler.

Di tingkat internasional, wanita seperti Gina Haspel (mantan Direktur CIA, AS), Avril Haines (Direktur Intelijen Nasional AS di era Biden), dan Kerri Hartland (kepala ASIS Australia) juga menunjukkan bahwa wanita bisa menduduki posisi strategis di bagian ini. Nama Tulsi Gabbard juga sempat disebut dalam struktur intelijen AS pada masa pemerintahan Trump.

Jika memandang ke belakang, selama Perang Dunia II, banyak wanita memainkan peran krusial sebagai pemasok rahasia. Di antaranya adalah Noor Inayat Khan, Violette Szabo, Virginia Hall, dan Melita Norwood. Blaise Metreweli dan para wanita dahsyat lainnya menjadi bukti bahwa keberanian dan kepintaran dalam bumi spionase tak pernah mengenal gender.

***

Ingin jadi salah satu pembaca nan dapat ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke organisasi pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Selengkapnya
Sumber
-->