Harga saham emiten-emiten sektor minyak bumi dan tperiode emas melesat sejak pecahnya perang Israel dan Iran. Konflik kedua negara ini sekarang semakin memanas dengan keterlibatan Amerika Serikat nan mendorong nilai minyak makin tinggi.
Namun, gimana sebenarnya prospek saham emiten-emiten tersebut di tengah ketidakpastian geopolitik nan semakin tinggi?
Menurut tim riset Kiwoon Sekuritas, pelsaya pasar saat ini tengah mencermati bentrok lanjutan dari Israel-Iran. Mereka mencermati keputusan politik Presiden AS Donald Trump mengenai potensi intervensi lebih jauh, perkembangan nilai minyak dunia, dan potensi langkah bank sentral The Fed jika inflasi dunia meningkat.
Kiwoom Sekuritas dalam risetnya juga menyebut bahwa pola penurunan IHSG kemungkinan tetap bersambung menuju sasaran konsolidasi di level 6.766 alias setidaknya support di MA50 pada level 6.812.
“Investor alias trader diimaroma untuk antisipasi konsolidasi sekitar 1% lagi sebelum indeks mulai stabil. Di satu sisi, mungkin tetap ada kesempatan trading opportunities sekitar sektor basic material,” kata tim riset Kiwoom Sekuritas dikutip Senin (23/6).
Retail Research Analyst CGS International Sekuritas Indonesia Andrian A. Saputra mengatbakal bentrok Israel-Iran belum menunjukkan tanda-tkamu mereda sejak serangan Israel pada Jumat (13/6) lalu. Kedua negara tetap saling bdasar menyerang, nan memicu kekhawatiran pasar secara global.
Konflik ini bukan hanya berakibat pada pasar regional, tetapi juga berpotensi menyeret ekonomi global, terutama jika negara-negara sekutu Iran ikut terlibat. Ada kekhawatiran bentrok ini bisa menjadi cikal bnalar perang bumi ketiga.
“Sejak awal pandemi ini berlangsung, nilai organisasi nan paling sensitif melonjak adalah minyak mentah. Ini signifikan sekali, lonjbakal dahsyat ya,” kata Andrian.
Harga minyak bumi mencatat pergerbakal nan sangat fluktuatif. Harga minyak brent turun 2,3% ke level USD 77,01 per barel, meski secara mingguan tetap naik 3,6%. Sementara itu, minyak WTI untuk perjanjian bulan depan turun tipis 0,28% ke USD 74,93 per barel, naik 2,7% secara mingguan.
Selama bulan Juni, nilai minyak telah naik sekitar 20%, menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak 2020. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan dari area Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, jalur krusial nan dilewati sekitar 20% pasokan minyak global.
“Jadi pengaruh dominonya ketika nilai minyak ini terus naik, inflasi bakal naik juga, suku kembang tertahan alias apalagi dinaikkan untuk merendam inflasi dan pada akhirnya inflasi nan tinggi itu bisa membikin perlambatan ekonomi,” kata Andrian.
Sementara itu nilai emas bumi naik tipis pada perdagangan awal pekan ini di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, setelah Amerika Serikat dilaporkan ikut serta dalam serangan Israel terhadap akomodasi nuklir Iran akhir pekan lalu.
Situasi ini memicu kekhawatiran pasar bakal potensi bentrok dan berkapak pada melonjaknya nilai daya global. Mengutip Bloomberg, nilai emas spot tercatat naik 0,2% ke posisi US$ 3.375,04 per ons pada pukul 07.47 waktu Singapura, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Harga logam mulia ini sempat melonjak hingga 0,8% sebelum terkoreksi.
Lantas gimana proyeksi saham-saham minyak dan emas nan terdampak oleh peperangan Timur Tengah ini?
Berikut prospek saham nilai emiten minyak:
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
Salah satu emiten bagian perminybakal nan nilai sahamnya melambung adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Medco mencatatkan pergerbakal saham nan menanjak 2,10% alias 30 poin ke level 1.460 pada perdagangan sesi I hari ini. Dalam seminggu terakhir, saham medco melonjak 2,46%.
Head of Research MNC Sekuritas Retail Herditya menyarankan trading buy dengan level support Rp 1.400 dan level resistance di Rp 1.540, dengan sasaran nilai Rp 1.585-1.610.
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
Harga saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) meloncat 5,59% alias 20 poin ke level Rp 378 pada perdagangan siang ini. Bila menilik mobilitas sahamnya selama sepekan terakhir, nilai saham ENRG melesat 17,28%.
Herditya menyarankan ENRG trading buy dengan level support di 358 dan resistance di 380. Sementara untuk sasaran harga, ENRG bakal menguji Rp 404-410.
PT Elnusa Tbk (ELSA)
Harga aham PT Elnusa Tbk (ELSA) naik 1,23% alias 11 poin ke level 505 siang ini. Namun, dalam sepekan terakhir, nilai saham ELSA justru berfluktuasi dengan torehan nilai nan menurun 1,96%.
Menurut Herditya, saham ELSA cocok untuk speculative buy dengan level support 490 dan resistance di 525. Harga saham ELSA diperkirbakal menguji Rp 530-550.
Sementara proyeksi nilai emiten emas adalah sebagai berikut:
Harga PT Aneka Tperiode Tbk (ANTM)
Harga saham PT Aneka Tperiode Tbk (ANTM) turun 0,62% alias 30 poin ke level 3.170. Sementara dalam sepekan terakhir, nilai saham Antam juga 3,05%.
Herditya menilai, saham ANTM cocok untuk trading buy dengan level support di 3.030 dan resistance di 3.330. Saham Antam bakal menguji level sasaran 3.470-3.600.
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
Harga saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 2,90% alias 12 poin ke level 402. Adapun selama sepekan terakhir, sahamnya ambruk 11,45%.
Herditya menyarankan penanammodal untuk memandang dan menunggu alias wait and see perkembangan saham BRMS di tengah gejolak perang Timur Tengah. Ia memperkirbakal level support BRMS berada di 394, sedangkan level resistance di 424.
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Berbeda dengan dua saham emiten emas sebelumnya, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) justru meningkat 0,50% alias 10 poin ke level 2.030. Meski begitu, saham MDKA terpantau melemah 7,73% selama sepekan terakhir.
Herditya menyarankan penanammodal untuk melakukan speculative buy terhadap saham MDKA dengan level support di 1.965 dan resistance di 2.130. Saham MDKA bakal menguji level 2.230-2.350.
7 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·