Pengusaha Waswas Perang Iran-israel Ganggu Pasokan Gandum, Gas, Kedelai Dan Bbm

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatbakal bahwa perang Iran-Israel mulai berakibat pada rantai pasok global, termasuk ke Indonesia. Sejumlah komoditas strategis seperti gandum, kedelai, gas, dan bahan bakar minyak (BBM) terancam terganggu akibat meningkatnya tensi geopolitik tersebut.

Wakil Ketua Umum Apindo Sanny Iskandar menjelaskan gangguan ini terutama disebabkan terganggunya jalur logistik internasional, terutama jalur nan melewati Selat Hormuz. Jalur ini dikenal sebagai salah satu titik vital perdagangan global, termasuk pasokan energi.

Dampak tersebut juga bakal berkapak pada biaya produksi dan pengedaran di sektor industri nan berjuntai pada komoditas tersebut. Oleh lantaran itu, pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas pasokan logistik dalam negeri, khususnya untuk energi.

“Hal ini krusial agar industri manufaktur dan pangan tetap dapat menjalankan aktivitas usahanya,” ujar Sanny kepada Katadata.co.id, Senin (23/6).

Ia menekankan, tingkat akibat kenaikan biaya produksi sangat berjuntai pada posisi masing-masing pelsaya upaya dalam rantai pasok. Namun demikian, keempat komoditas nan menjadi perhatian pengusaha saat ini tetap sangat berjuntai pada impor.

Sanny menilai, perang ini berpotensi mengganggu pasokan komoditas impor dari area Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Ia menekankan bahwa dalam menjaga ketahanan industri memerlukan kerjasama dan respons sigap nan terkoordinasi.

Lonjbakal Harga Energi Jadi Anckondusif Utama

Selain gangguan logistik, pelsaya upaya juga mewaspadai lonjbakal nilai minyak global. Sekitar 20% pasokan minyak bumi melewati Selat Hormuz, sehingga bentrok di area itu langsung memengaruhi nilai energi.

“Sebagai negara importir BBM, Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan nilai daya global. Kenaikan nilai minyak otomatis meningkatkan biaya logistik nasional,” kata Sanny.

Ia menyebut sektor industri pbudaya karya sebagai golongan nan paling rentan terdampak. Dengan margin untung nan tipis dan ketergantungan tinggi pada biaya logistik, lonjbakal nilai daya bisa memperburuk kondisi sektor nan saat ini tetap berupaya memperkuat di tengah ketidakpastian global.

"Situasi ini bakal memperberat kondisi sektor nan sedang berjuang untuk bertahan," katanya.

Data dari Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia menunjukkan, impor gandum Indonesia tahun lampau mencapai 3 juta ton, alias sekitar 25% dari total kebutuhan nasional. Ukraina, salah satu pemasok utama dari area Eropa, menyumbang sekitar 2,58 juta ton.

Meski demikian, sejak 2021 posisi pemasok utama gandum Indonesia telah bergeser ke Australia. Tahun lalu, impor gandum dari Australia mencapai 3,09 juta ton, menjadikannya sumber terbesar kebutuhan gandum domestik.

Reporter: Andi M. Arief

Selengkapnya
Sumber
-->