Penerbangan Global Kacau Imbas Konflik Iran-as, Wilayah Udara Timur Tengah Tutup

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

Maskapai penerbangan bergegas membatalkan penerbangan dan mengubah rute pesawat setelah beberapa negara Timur Tengah menutup wilayah udara negara mereka untuk sementara waktu. Hal itu terjadi setelah Iran menyerang pangkalan militer AS Al Udeid di Doha.

Meningkatnya ketegangan mulai mempengaruhi maskapai penerbangan di luar Timur Tengah, di mana rute penerbangan utama telah terputus sejak Israel mulai menyerang Iran pada tanggal 13 Juni. Pada Senin (23/6), Air India mengatbakal bakal menangguhkan penerbangan ke dan dari Amerika Utara bagian timur dan Eropa lantaran rute tersebut menggunbakal jalur nan semakin sempit antara tujuan tersebut dan anak benua India.

Setelah menutup wilayah udara mereka untuk sementara waktu, Bahrain dan Kuwait membukanya kembali, menurut media buletin pemerintah. Bandara Dubai mengatbakal operasinya telah dilanjutkan setelah penangguhan singkat, meskipun memperingatkan tentang penundaan alias pembatalan di situs media sosial X.

Qatar juga menutup wilayah udaranya. Konflik tersebut telah memutus rute penerbangan utama ke pusat-pusat penerbangan nan biasanya handal seperti Dubai, dengan airport internasional tersibuk di dunia, dan ibu kota Qatar, Doha. Wilayah udara nan biasanya sibuk membentang dari Iran dan Irak hingga Mediterania menyerupai kota hantu, tanpa lampau lintas udara komersial lantaran penutupan wilayah udara dan masalah keselamatan.

Air India mengatbakal bahwa mereka telah menghentikan semua operasi ke Timur Tengah, tetapi juga penerbangan ke pantai timur Amerika Utara dan Eropa. Ini termasuk mengalihkan penerbangan nan sudah mengudara kembali ke letak lepas landas mereka, dan menjauh dari wilayah udara nan ditutup.

"Ini mengerikan," kata Miret Padovani, seorang pemilik upaya nan terdampar di Bandara Internasional Hamad di Doha, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (24/6). Dia memesan tiket penerbangan Qatar Airways ke Thailand nan dijadwalkan berangkat Senin malam, tetapi membatalkan perjalanannya dan sekarang berencana untuk pulang ke Dubai Selasa pagi.

"Semuanya terjadi begitu cepat. Saya benar-betul mendengar dari orang-orang di ruang tunggu kelas satu bahwa rudal-rudal itu dikirim dengan langkah ini apalagi sebelum menjadi berita."

Menurut perusahaan kajian penerbangan Cirium, sekitar dua lusin penerbangan ke Doha, sebagian besar dari Qatar Airways, dialihkan pada hari Senin, dan sekitar segelintir penerbangan ke Dubai dialihkan lantaran penutupan wilayah udara. Kuwait Airways menangguhkan keberangkatan penerbangannya dari negara itu pada hari Senin, sementara Etihad Airways dari UEA mengalihkan rute penerbangan pada hari Senin dan Selasa.

Maskapai penerbangan Spanyol Iberia, AG, membatalkan rencana dari sebelumnya pada hari itu untuk melanjutkan penerbangan ke Doha pada hari Selasa setelah penutupan wilayah udara terbaru.

Sebelumnya, wilayah udara Rusia dan Ukraina juga ditutup untuk sebagian besar maskapai penerbangan lantaran perang selama bertahun-tahun. Hal itu menjadikan Timur Tengah telah menjadi rute nan lebih krusial untuk penerbangan antara Eropa dan Asia.

Di tengah serangan rudal dan udara selama 10 hari terakhir, maskapai penerbangan telah mengalihkan rute ke utara melalui Laut Kaspia alias selatan melalui Mesir dan Arab Saudi. Maskapai penerbangan kemungkinan menghindari Doha, Dubai, dan airport lain di area tersebut lantaran kekhawatiran bahwa Iran alias proksinya dapat menargetkan serangan pesawat nirawak alias rudal terhadap pangkalan militer AS di negara-negara tersebut, kata konsultan akibat penerbangan Osprey Flight Solutions.

Zona bentrok nan meluas menjadi beban operasional nan semakin besar bagi maskapai penerbangan lantaran serangan udara menimbulkan kekhawatiran tentang penembbakal nan tidak disengaja alias disengaja terhadap lampau lintas udara komersial.

Interferensi GPS di sekitar titik panas politik, tempat sistem GPS berpatokan darat "memalsukan" alias menyiarkan posisi nan salah nan dapat membikin pesawat komersial keluar jalur, juga menjadi masalah nan semakin besar bagi penerbangan komersial. SkAI, sebuah perusahaan Swiss nan mengelola peta gangguan GPS, mengatakan  bahwa mereka telah mengameninggal lebih dari 150 pesawat nan dipalsukan di atas Teluk Persia dalam 24 jam.

Selengkapnya
Sumber
-->