Niat Baca Yasin 3x Malam Tahun Baru Islam 1447 H/2025 Beserta Doa Dan Hukum Membacanya

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

Malam tahun baru Islam alias malam 1 Muharram merupbakal momentum spesial nan banyak dimanfaatkan umat Muslim untuk memperbanyak ibadah. Salah satu ibadah nan terkenal dilakukan adalah membaca surah Yasin sebanyak tiga kali.

Amalan ini dipercaya membawa banyak keberkahan dan menjadi sarana untuk memohon kebaikan di tahun baru Hijriah.

Meskipun tidak secara definitif dianjurkan dalam hadits shahih, membaca surah Yasin di malam hari, terlebih pada malam 1 Muharram, menjadi tradisi di kalangan umat Islam Indonesia.

Berikut penjelasan mengenai norma membaca surah Yasin di bulan Muharram komplit dengan keutamaannya.

Berapa kali surah Yasin dibaca pada 1 Muharram?

Dikutip dari kitab Kedahsyatan Membaca Al-Qur'an karya Amirulloh Syarbini dan Sumantri Jamhari, surah Yasin merupbakal surat ke-36 dalam Al-Qur'an nan mempunyai 83 ayat dan tergolong sebagai surat Makkiyah. 

Pada malam 1 Muharram, sebagian umat Muslim membaca surah Yasin sebanyak tiga kali. Namun mengutip detikcom, tidak ditemukan dalil kuat dari hadits Rasulullah SAW nan secara unik menyebut jumlah tiga kali pada malam tersebut. 

Salah satu riwayat menyebutkan, "Barang siapa nan membaca surat Yasin di malam hari, maka di pagi harinya dia bakal diampuni" (HR Abu Ya'la dan Ibnu Hibban).

Oleh lantaran itu, membaca Yasin di malam tahun baru Islam tetap dianjurkan sebagai corak ibadah nan baik selama diniatkan untuk mengharapkan ridha Allah.

Hukum membaca Yasin 3 kali di bulan Muharram

Dikutip dari beragam ustadz dan sumber keislaman, membaca surah Yasin di malam hari adalah ibadah nan baik dan mendatangkan pahala, terlebih jika dilakukan secara rutin dan diniatkan untuk kebaikan.

Meski tidak ada dalil definitif dari Nabi SAW tentang membaca surah Yasin tiga kali di malam 1 Muharram, ibadah ini masuk dalam kategori ibadah ghairu mahdhah alias ibadah sunnah nan tidak terikat waktu dan tempat tertentu.

Oleh lantaran itu, norma membaca Yasin tiga kali pada malam 1 Muharram adalah mubah (boleh).

Keutamaan membaca surah Yasin

Dikutip dari kitab Tafsir Ibnu Katsir Surah Yasin nan disusun oleh Ibnu Katsir, di bawah ini beberapa keistimewaan membaca surah Yasin.

1. Penghapus dosa

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa membaca surat Yasin lantaran mengharapkan ridha Allah SWT, maka bakal diberikan pembebasan baginya." (HR Ibnu Hibban)

2. Mendapat pahala nan berlipat

Dalam hadits riwayat Anas RA, Nabi SAW berfirman bahwa Yasin adalah "jantung" Al-Qur'an. Siapa nan membacanya bakal mendapatkan pahala seperti membaca Al-Qur'an sepuluh kali.

3. Kemudahan dalam meraih hajat

Mengutip dari kitab 5 Amalan Penyuci Hati karya Ali Akbar bin Aqil, Rasulullah SAW bersabda: "Siapa nan membaca Yasin di awal pagi, seluruh hajatnya bakal dikabulkan oleh Allah." (HR Ad-Darimi)

Bacaan surah Yasin lengkap: Arab, Latin, dan Artinya

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

1.


يٰسۤ ۚ

Yā sīn.

Yā Sīn.


2.


وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ


Wal-qur'ānil-ḥakīm(i).


Demi Al-Qur'an nan penuh hikmah,


3.


اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ

Innaka laminal-mursalīn(a).

sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-betul salah seorang dari rasul-rasul

4.


عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ

'Alā ṣirāṭim mustaqīm(in).

(yang berada) di atas jalan nan lurus,

5.


تَنْزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙ

Tanzīlal-'azīzir-raḥīm(i).

(sebagai wahyu) nan diturunkan oleh (Allah) nan Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,

6.


لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اُنْذِرَ اٰبَاۤؤُهُمْ فَهُمْ غٰفِلُوْنَ

Litunżira qaumam mā unżira ābā'uhum fahum gāfilūn(a).

supaya engkau (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada suatu kaum nan nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka lalai.

7.


لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلٰٓى اَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Laqad ḥaqqal-qaulu 'alā akṡarihim fahum lā yu'minūn(a).

Sungguh, benar-betul berlsaya perkataan (ketetapan takdir) terhadap kebanybakal mereka, maka mereka tidak bakal beriman.

8.


اِنَّا جَعَلْنَا فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ اَغْلٰلًا فَهِيَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَ

Innā ja'alnā fī a'nāqihim aglālan fa hiya ilal-ażqāni fahum muqmaḥūn(a).

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lampau (tangan mereka nan terbelenggu diangkat) ke dagu, lantaran itu mereka tertengadah.

9.


وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ

Wa ja'alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fahum lā yubṣirūn(a).

Kami memasang penghkepalang di hadapan mereka dan di belakang mereka, sehingga Kami menutupi (pandangan) mereka. Mereka pun tidak dapat melihat.

10.


وَسَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Wa sawā'un 'alaihim a'anżartahum am lam tunżirhum lā yu'minūn(a).

Sama saja bagi mereka, apakah engkau (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada mereka alias tidak. Mereka (tetap) tidak bakal beriman.

11.


اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ

Innamā tunżiru manittaba'aż-żikra wa khasyiyar-raḥmāna bil-gaib(i), fa basysyirhu bimagfiratiw wa ajrin karīm(in).

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) hanya (bisa) memberi peringatan kepada orang-orang nan mau mengikutinya, 638) dan nan takut kepada Tuhan nan Maha Pengasih tanpa melihat-Nya. Berilah mereka berita ceria dengan pembebasan dan pahala nan mulia.

Catatan Kaki
638) Peringatan nan diberikan oleh Nabi Muhammad saw. hanya berfaedah bagi orang nan mau mengikutinya.

12.


اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ 

Innā naḥnu nuḥyil-mautā wa naktubu mā qaddamū wa āṡārahum, wa kulla syai'in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn(in).

Sesungguhnya Kamilah nan menghidupkan orang-orang nan meninggal dan Kami (pulalah) nan mencatat apa nan telah mereka kerjbakal dan bekas-jejak nan mereka (tinggalkan). Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk nan nyata (Lauhulmahfuz).

13.


وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا اَصْحٰبَ الْقَرْيَةِۘ اِذْ جَاۤءَهَا الْمُرْسَلُوْنَۚ

Waḍrib lahum maṡalan aṣḥābal-qaryah(ti), iż jā'ahal-mursalūn(a).

Buatlah suatu perumpamaan bagi mereka (kaum kafir Makkah), ialah masyarakat suatu negeri, ketika para utusan datang

kepada mereka,

14.


اِذْ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوْهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوْٓا اِنَّآ اِلَيْكُمْ مُّرْسَلُوْنَ

Iż arsalnā ilaihimuṡnaini fa każżabūhumā fa 'azzaznā biṡāliṡin faqālū innā ilaikum mursalūn(a).

(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lampau mereka mendustbakal keduanya. Kemudian Kami menguatkan dengan (utusan) nan ketiga. Maka, ketiga (utusan itu) berkata, "Sesungguhnya kami adalah orang-orang nan diutus kepadamu."

15.


قَالُوْا مَآ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَاۙ وَمَآ اَنْزَلَ الرَّحْمٰنُ مِنْ شَيْءٍۙ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَكْذِبُوْنَ

Qālū mā antum illā basyarum miṡlunā, wa mā anzalar-raḥmānu min syai'(in), in antum illā takżibūn(a).

Mereka (penduduk negeri) menjawab, "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami. (Allah) nan Maha Pengasih tidak (pernah) menurunkan sesuatu apa pun. Kamu hanyalah berdusta."

16.


قَالُوْا رَبُّنَا يَعْلَمُ اِنَّآ اِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُوْنَ

Qālū rabbunā ya'lamu innā ilaikum lamursalūn(a).

Mereka (para rasul) berkata, "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami benar-betul para utusan(-Nya) kepadamu.

17.


وَمَا عَلَيْنَآ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

Wa mā 'alainā illal-balāgul-mubīn(u).

Adapun tanggungjawab kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) nan jelas."

18.


قَالُوْٓا اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهُوْا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Qālū innā taṭayyarnā bikum, la'il lam tantahū lanarjumannakum wa layamassannakum minnā 'ażābun alīm(un).

Mereka (penduduk negeri) menjawab, "Sesungguhnya kami bernasib mkepalang karenamu. Sungguh, jika Anda tidak berakhir (menyeru kami), niscaya kami merajam Anda dan Anda pasti bakal merasbakal siksaan nan perih dari kami."

19.


قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

Qālū ṭā'irukum ma'akum, a'in żukkirtum, bal antum qaumum musrifūn(a).

Mereka (para rasul) berkata, "Kemalangan Anda itu (dampak perbuatan) Anda sendiri. Apakah lantaran Anda diberi peringatan, (lampau Anda menjadi malang)? Sebenarnya Anda adalah kaum nan melampaui batas."

20.


وَجَاۤءَ مِنْ اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَّسْعٰى قَالَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِيْنَۙ

Wa jā'a min aqṣal-madīnati rajuluy yas'ā qāla yā qaumittabi'ul-mursalīn(a).

Datanglah dengan bergegas dari ujung kota, seorang laki-laki.639) Dia berkata, "Wahai kaumku, ikutilah para rasul itu!

Catatan Kaki

639) Menurut sebagian mufasir, laki-laki tersebut berjulukan Habib an-Najjar.

21.


اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ۔

Ittabi'ū mal lā yas'alukum ajraw wa hum muhtadūn(a).

Ikutilah orang nan tidak meminta hadiah (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang nan mendapat

petunjuk.

22.


وَمَا لِيَ لَآ اَعْبُدُ الَّذِيْ فَطَرَنِيْ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Wa mā liya lā a'budul-lażī faṭaranī wa ilaihi turja'ūn(a).

Apa (alasanku) untuk tidak menyembah (Allah) nan telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah Anda bakal dikembalikan?

23.


ءَاَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً اِنْ يُّرِدْنِ الرَّحْمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يُنْقِذُوْنِۚ

A'attakhiżu min dūnihī ālihatan iy yuridnir-raḥmānu biḍurril lā tugni 'annī syafā'atuhum syai'aw wa lā yunqiżūn(i).

Mengapa saya (harus) mengambil sembahan-sembahan selain-Nya? Jika (Allah) nan Maha Pengasih menghendaki musibah terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berfaedah sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku.


24.


اِنِّيْٓ اِذًا لَّفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Innī iżal lafī ḍalālim mubīn(in).

Sesungguhnya saya (jika berbuat) begitu, pasti berada dalam kesesatan nan nyata.

25.


اِنِّيْٓ اٰمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُوْنِۗ

Innī āmantu birabbikum fasma'ūn(i).

Sesungguhnya saya telah beragama kepada Tuhanmu. Maka, dengarkanlah (pengakuan)-ku."

26.


قِيْلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۗقَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَۙ

Qīladkhulil-jannah(ta), qāla yā laita qaumī ya'lamūn(a).

Dikatbakal (kepadanya), "Masuklah ke surga."640) Dia (laki-laki itu) berkata, "Aduhai, sekiranya kaumku mengetahui

Catatan Kaki

640) Menurut riwayat, laki-laki itu dibunuh oleh kaumnya segimana tersebut dalam ayat 20‒25. Pada saat sakratulmaut, malaikat turun untuk memberinya berita ceria bahwa Allah Swt. telah mengampuni dosanya dan menyedibakal surga untuknya.

27.


بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ

Bimā gafaralī rabbī wa ja'alanī minal-mukramīn(a).

(bagaimana) Tuhanku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang nan dimuliakan."

28.


 وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى قَوْمِهٖ مِنْۢ بَعْدِهٖ مِنْ جُنْدٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِيْنَ

Wa mā anzalnā 'alā qaumihī mim ba'dihī min jundim minas-samā'i wa mā kunnā munzilīn(a).

Setelah dia (dibunuh), Kami tidak menurunkan satu pasukan pun dari langit kepada kaumnya dan Kami tidak perlu menurunkannya.

29.


اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ خٰمِدُوْنَ

In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa'iżā hum khāmidūn(a).


(Azab mereka) itu cukup dengan satu teribakal saja. Maka, seketika itu mereka mati.


30.


يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ

Yā ḥasratan 'alal-'ibād(i), mā ya'tīhim mir rasūlin illā kānū bihī yastahzi'ūn(a).

Alangkah besar penyesalan diri para hamba itu. Setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selampau memperolok-olokkannya.


31.


اَلَمْ يَرَوْا كَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنَ الْقُرُوْنِ اَنَّهُمْ اِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُوْنَ

Alam yarau kam ahlaknā qablahum minal-qurūni annahum ilaihim lā yarji'ūn(a).

Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat sebelum mereka nan telah Kami binasakan? Mereka (setelah binasa) tidak ada nan kembali kepada mereka (di dunia).

32.


وَاِنْ كُلٌّ لَّمَّا جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ 

Wa in kullul lammā jamī'ul ladainā muḥḍarūn(a).

Tidak ada satu (umat) pun, selain semuanya bakal dihadirkan kepada Kami (untuk dihisab).

33.


وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الْاَرْضُ الْمَيْتَةُ ۖاَحْيَيْنٰهَا وَاَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُوْنَ

Wa āyatul lahumul-arḍul-maitah(tu), aḥyaināhā wa akhrajnā minhā ḥabban faminhu ya'kulūn(a).

Suatu tkamu (kekuasaan-Nya) bagi mereka adalah bumi nan meninggal (tandus lalu) Kami menghidupkannya dan mengeluarkan darinya biji-bijian kemudian dari (biji-bijian) itu mereka makan.

34.


وَجَعَلْنَا فِيْهَا جَنّٰتٍ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ وَّفَجَّرْنَا فِيْهَا مِنَ الْعُيُوْنِۙ

Wa ja'alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a'nābiw wa fajjarnā fīhā minal-'uyūn(i).

Kami (juga) menjadikan padanya (bumi) kebun-kebun kurma dan anggur serta Kami memancarkan padanya beberapa mata air

35.


لِيَأْكُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖۙ وَمَا عَمِلَتْهُ اَيْدِيْهِمْ ۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ

Liya'kulū min ṡamarihī wa mā 'amilathu aidīhim, afalā yasykurūn(a).


supaya mereka dapat mbakal dari buahnya, dan dari hasil upaya tangan mereka. Mengapa mereka tidak bersyukur?

36.


سُبْحٰنَ الَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ

Subḥānal-lażī khalaqal-azwāja kullahā mimmā tumbitul-arḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya'lamūn(a).

Maha Suci (Allah) nan telah menciptbakal semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa nan ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri maupun dari apa nan tidak mereka ketahui.

37.


وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ ۖنَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙ

Wa āyatul lahumul-lailu naslakhu minhun-nahāra fa'iżā hum muẓlimūn(a).

Suatu tkamu juga (atas kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam. Kami pisahkan siang dari (malam) itu. Maka, seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan.

38.


وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗ

Wasy-syamsu tajrī limustaqarril lahā, żālika taqdīrul-'azīzil-'alīm(i).

(Suatu tkamu juga atas kekuasaan Allah bagi mereka adalah) mentari nan melangkah di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) nan Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

39.


وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ

Wal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā 'āda kal-'urjūnil-qadīm(i).

(Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(-nya) tempat-tempat peredaran sehingga (setelah dia sampai ke tempat peredaran nan terakhir,) kembalilah dia seperti corak tandan nan tua.641)

Catatan Kaki

641) Bulan itu mulanya bermotif seperti sabit, kemudian secara berangsur makin besar dan bundar sempurna pada saat purnama. Kemudian, bulan berangsur mengecil kembali hingga terlihat seperti tandan kering nan melengkung.

40.


لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār(i), wa kullun fī falakiy yasbaḥūn(a).

Tidaklah mungkin bagi mentari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.

41.


وَاٰيَةٌ لَّهُمْ اَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙ

Wa āyatul lahum annā ḥamalnā żurriyyatahum fil-fulkil-masyḥūn(i).

Suatu tkamu (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami mengangkut keturunan mereka dalam kapal nan penuh muatan.

42.


وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِّنْ مِّثْلِهٖ مَا يَرْكَبُوْنَ

Wa khalaqnā lahum mim miṡlihī mā yarkabūn(a).

(Begitu juga) Kami menciptbakal untuk mereka dari jenis itu pikulan (lain) nan mereka kendarai.642)

Catatan Kaki

642) Maksudnya adalah hewan-hewan tunggangan dan alat-perangkat pikulan pada umumnya.

43.


وَاِنْ نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيْخَ لَهُمْ وَلَاهُمْ يُنْقَذُوْنَۙ

Wa in nasya' nugriqhum falā ṣarīkha lahum wa lā hum yunqażūn(a).

Jika Kami menghendaki, Kami bakal menenggelamkan mereka. Kemudian, tidak ada penolong bagi mereka dan tidak (pula) mereka diselamatkan.

44.


اِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍ

Illā raḥmatam minnā wa matā'an ilā ḥīn(in).

Akan tetapi, (Kami menyelamatkan mereka) lantaran rahmat nan besar dari Kami dan untuk memberi mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu.

45.


وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّقُوْا مَا بَيْنَ اَيْدِيْكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Wa iżā qīla lahumuttaqū mā baina aidīkum wa mā khalfakum la'allakum turḥamūn(a).

Ketika dikatbakal kepada mereka, "Takutlah Anda bakal (siksa) nan ada di hadapanmu (di dunia) dan balasan nan ada di belakangmu (akhirat) agar Anda mendapat rahmat," (maka mereka berpaling).


46.


وَمَا تَأْتِيْهِمْ مِّنْ اٰيَةٍ مِّنْ اٰيٰتِ رَبِّهِمْ اِلَّا كَانُوْا عَنْهَا مُعْرِضِيْنَ

Wa mā ta'tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānū 'anhā mu'riḍīn(a).

Tidak satu pun dari tanda-tkamu (kebesaran) Tuhan datang kepada mereka, selain mereka beralih darinya.

47.


وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۙقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنُطْعِمُ مَنْ لَّوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ اَطْعَمَهٗٓ ۖاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Wa iżā qīla lahum anfiqū mimmā razaqakumullāh(u), qālal-lażīna kafarū lil-lażīna āmanū anuṭ'imu mal lau yasyā'ullāhu aṭ'amah(ū), in antum illā fī ḍalālim mubīn(in).

Apabila dikatbakal kepada mereka, "Infakkanlah sebagian rezeki nan diberikan Allah kepadamu," orang-orang nan kufur itu berbicara kepada orang-orang nan beriman, "Apakah layak kami memberi mbakal kepada orang-orang nan jika Allah menghendaki, Dia bakal memberinya makan? Kamu benar-betul dalam kesesatan nan nyata."

48.


وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Wa yaqūlūna matā hāżal-wa'du in kuntum ṣādiqīn(a).

Mereka berkata, "Kapankah janji (hari Kebangkitan) ini (terjadi) jika Anda orang-orang benar?"

49.


مَا يَنْظُرُوْنَ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُوْنَ

Mā yanẓurūna illā ṣaiḥataw wāḥidatan ta'khużuhum wa hum yakhiṣṣimūn(a).

Mereka hanya menunggu satu teribakal 643) nan bakal membinasbakal mereka saat mereka (sibuk) bentrok (tentang urusan dunia).

Catatan Kaki


643) nan dimaksud dengan teribakal adalah bunyi tiupan sangkakala pertama nan menghancurkan alam ini.

50.


فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ تَوْصِيَةً وَّلَآ اِلٰٓى اَهْلِهِمْ يَرْجِعُوْنَ 

Falā yastaṭī'ūna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji'ūn(a).

Oleh karena itu, mereka tidak dapat beramanat dan tidak dapat kembali kepada keluarganya.

51.


وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مِّنَ الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ

Wa nufikha fiṣ-ṣūri fa'iżā hum minal-ajdāṡi ilā rabbihim yansilūn(a).

Sangkakala pun ditiup 644) dan seketika itu mereka bergerak sigap dari kuburnya menuju kepada Tuhannya.

Catatan Kaki

644) Ini adalah tiupan sangkakala nan kedua nan membangkitkan orang-orang dari kubur.

52.


قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا ۜهٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ

Qālū yā wailanā mam ba'aṡanā mim marqadinā...hāżā mā wa'adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalūn(a).

Mereka berkata, "Celakalah kami! Siapakah nan membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" (Lalu, dikatbakal kepada mereka,) "Inilah nan dijanjikan (Allah) nan Maha Pengasih dan benarlah para rasul(-Nya)."

53.


اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ

In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa'iżā hum jamī'ul ladainā muḥḍarūn(a).


Teribakal itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami (untuk dihisab).

54.


فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا وَّلَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Fal-yauma lā tuẓlamu nafsun syai'aw wa lā tujzauna illā mā kuntum ta'malūn(a).

Pada hari itu tidak ada sama sekali orang nan dirugikan sedikit pun. Kamu tidak bakal diberi balasan, selain atas apa nan telah Anda kerjakan.

55.


اِنَّ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِيْ شُغُلٍ فٰكِهُوْنَ ۚ

Inna aṣḥābal-jannatil-yauma fī syugulin fākihūn(a).

Sesungguhnya penunggu surga pada hari itu berada dalam kesibukan (sehingga tidak sempat berpikir tentang penunggu neraka) lagi bersenang-senang.

56.


هُمْ وَاَزْوَاجُهُمْ فِيْ ظِلٰلٍ عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ مُتَّكِـُٔوْنَ ۚ

Hum wa azwājuhum fī ẓilālin 'alal-arā'iki muttaki'ūn(a).

Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat nan teduh sembari berebahan di atas ranjang berkelambu.

57.


لَهُمْ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّلَهُمْ مَّا يَدَّعُوْنَۚ

Lahum fīhā fākihatuw wa lahum mā yadda'ūn(a).

Di (surga) itu mereka memperoleh buah-buahan dan apa saja nan mereka inginkan.

58.


سَلٰمٌۗ قَوْلًا مِّنْ رَّبٍّ رَّحِيْمٍ

Salāmun qaulam mir rabbir raḥīm(in).

(Kepada mereka dikatakan,) "Salam sejahtera" sebagai ucapan dari Tuhan nan Maha Penyayang.

59.


وَامْتَازُوا الْيَوْمَ اَيُّهَا الْمُجْرِمُوْنَ

Wamtāzul-yauma ayyuhal-mujrimūn(a).

(Dikatbakal kepada orang-orang kafir,) "Berpisahlah Anda (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai para pendurhaka!

60.


 اَلَمْ اَعْهَدْ اِلَيْكُمْ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ اَنْ لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطٰنَۚ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Alam a'had ilaikum yā banī ādama allā ta'budusy-syaiṭān(a), innahū lakum 'aduwwum mubīn(un).

Bukankah Aku telah berpesan kepadamu dengan sungguh-sungguh, wahai anak cucu Adam, bahwa janganlah Anda menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh nan nyata bagi kamu.

61.


وَاَنِ اعْبُدُوْنِيْ ۗهٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ

Wa ani'budūnī, hāżā ṣirāṭum mustaqīm(un).

(Begitu juga bahwa) sembahlah Aku. Inilah jalan nan lurus."

62.


وَلَقَدْ اَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيْرًا ۗاَفَلَمْ تَكُوْنُوْا تَعْقِلُوْنَ

Wa laqad aḍalla minkum jibillan kaṡīrā(n), afalam takūnū ta'qilūn(a).

Sungguh, dia (setan itu) benar-betul telah menyesatkan sangat banyak orang dari kamu. Maka, apakah Anda tidak mengerti?

63.


هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Hāżihī jahannamul-latī kuntum tū'adūn(a).

Inilah (neraka) Jahanam nan dulu telah diperingatkan kepadamu.

64.


اِصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ

Iṣlauhal-yauma bimā kuntum takfurūn(a).

Masuklah ke dalamnya pada hari ini lantaran dulu Anda mengingkarinya.

65.


اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Al-yauma nakhtimu 'alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim wa tasyhadu arjuluhum bimā kānū yaksibūn(a).

Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah nan berbicara kepada Kami dan kaki merekalah nan bakal berstindakan terhadap apa nan dulu mereka kerjakan.

66.


وَلَوْ نَشَاۤءُ لَطَمَسْنَا عَلٰٓى اَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَاَنّٰى يُبْصِرُوْنَ

Wa lau nasyā'u laṭamasnā 'alā a'yunihim fastabaquṣ-ṣirāṭa fa annā yubṣirūn(a).

Seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami bakal menghapus penglihatan (membutakan) mereka sehingga mereka berlomba-lomba (mencari) jalan (selamat). Maka, gimana mungkin mereka dapat melihat?

67.


وَلَوْ نَشَاۤءُ لَمَسَخْنٰهُمْ عَلٰى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوْا مُضِيًّا وَّلَا يَرْجِعُوْنَ 

Wa lau nasyā'u lamasakhnāhum 'alā makānatihim famastaṭā'ū muḍiyyaw wa lā yarji'ūn(a).

Seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami bakal mengubah corak mereka di tempat mereka berada, sehingga mereka tidak sanggup meneruskan perjalanan dan juga tidak sanggup pulang kembali.

68.


وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ

Wa man nu'ammirhu nunakkishu fil-khalq(i), afalā ya'qilūn(a).

Siapa nan Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembali proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah). Maka, apakah mereka tidak mengerti?

69.


وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهٗ ۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙ

Wa mā 'allamnāhusy-syi'ra wa mā yambagī lah(ū), in huwa illā żikruw wa qur'ānum mubīn(un).

Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Nabi Muhammad) dan (bersyair) itu tidaklah layak baginya. (Wahyu nan Kami turunkan kepadanya) itu tidak lain hanyalah pelaliran dan Al-Qur'an nan jelas

70.


لِّيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ

Liyunżira man kāna ḥayyaw wa yaḥiqqal-qaulu 'alal-kāfirīn(a).

supaya dia (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang nan hidup (hatinya) dan agar ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir itu menjadi pasti.

71.


اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِّمَّا عَمِلَتْ اَيْدِيْنَآ اَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مٰلِكُوْنَ

Awalam yarau annā khalaqnā lahum mimmā 'amilat aidīnā an'āman fahum lahā mālikūn(a).

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Kami telah menciptbakal untuk mereka hewan-hewan ternak dari buatan tangan Kami (sendiri), lampau mereka menjadi pemiliknya?

72.


وَذَلَّلْنٰهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوْبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُوْنَ

Wa żallalnāhā lahum fa minhā rakūbuhum wa minhā ya'kulūn(a).

Kami menjadikannya (hewan-hewan itu) tunduk kepada mereka. Sebagian di antaranya menjadi tunggangan mereka dan sebagian (lagi) mereka makan.

73.


وَلَهُمْ فِيْهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ

Wa lahum fīhā manāfi'u wa masyārib(u), afalā yasykurūn(a).


Pada dirinya (hewan-hewan ternak itu) terdapat beragam faedah dan minuman untuk mereka. Apakah mereka tidak bersyukur?

74.


وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنْصَرُوْنَ ۗ

Wattakhażū min dūnillāhi ālihatal la'allahum yunṣarūn(a).

Mereka menjadikan sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.

75.


لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ نَصْرَهُمْۙ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُّحْضَرُوْنَ

Lā yastaṭī'ūna naṣrahum, wa hum lahum jundum muḥḍarūn(a).

(Sesembahan) itu tidak bisa menolong mereka, padahal (sesembahan) itu adalah tentara nan dihadirkan untuk menjaganya.

76.


فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘاِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ

Falā yaḥzunka qauluhum, innā na'lamu mā yusirrūna wa mā yu'linūn(a).

Maka, jangan sampai ucapan mereka membikin engkau (Nabi Muhammad) berduka hati. Sesungguhnya Kami mengetahui apa nan mereka rahasibakal dan apa nan mereka nyatakan.

77.


اَوَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ

Awalam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa'iżā huwa khaṣīmum mubīn(un).

Tidakkah manusia mengetahui bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani? Kemudian tiba-tiba saja dia menjadi musuh nan nyata.

78.


وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ

Wa ḍaraba lanā maṡalaw wa nasiya khalqah(ū), qāla may yuḥyil-'iẓāma wa hiya ramīm(un).

Dia membikin perumpamaan bagi Kami dan melupbakal asal penciptaannya. Dia berkata, "Siapakah nan bisa menghidupkan tulang-belulang nan telah hancur luluh?" 645)

Catatan Kaki

645) Ayat ini mengenai dengan kisah al-'As bin Wa'il nan mendatangi Nabi Muhammad saw. dengan membawa tulang belulang nan sudah hancur, lampau berkata, "Siapakah nan bisa menghidupkan tulang-belulang nan telah hancur luluh ini?"

79.


قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙ

Qul yuḥyīhal-lażī ansya'ahā awwala marrah(tin), wa huwa bikulli khalqin 'alīm(un).

Katakanlah (Nabi Muhammad), "Yang bakal menghidupkannya adalah Zat nan menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui setiap makhluk.

الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الشَّجَرِ الْاَخْضَرِ نَارًاۙ فَاِذَآ اَنْتُمْ مِّنْهُ تُوْقِدُوْنَ

Allażī ja'ala lakum minasy-syajaril-akhḍari nārā(n), fa'iżā antum minhu tūqidūn(a).

(Dialah) nan menjadikan api untukmu dari kayu nan hijau. Kemudian, seketika itu Anda menyalbakal (api) darinya."

81.


اَوَلَيْسَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يَّخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۗبَلٰى وَهُوَ الْخَلّٰقُ الْعَلِيْمُ

Awa laisal-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa biqādirin 'alā ay yakhluqa miṡlahum, balā wa huwal-khallāqul-'alīm(u).

Bukankah Zat nan menciptbakal langit dan bumi bisa menciptbakal manusia nan serupa mereka itu (di alambaka kelak)? Benar. Dialah nan Maha Banyak Mencipta lagi Maha Mengetahui.

82.


اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Innamā amruhū iżā arāda syai'an ay yaqūla lahū kun fa yakūn(u).

Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berbicara kepadanya, "Jadilah!" Maka, jadilah (sesuatu) itu.


83.


فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ 

Fa subḥānal-lażī biyadihī malakūtu kulli syai'iw wa ilaihi turja'ūn(a).

Maka, Maha Suci (Allah) nan di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya Anda dikembalikan.

19 Amalan utama 1 Muharram 

Berikut sejumlah ibadah utama 1 Muharram.

1. Membaca angan akhir tahun

Meski tidak mempunyai dasar norma nan kuat dari syariat, membaca angan akhir tahun menjadi tradisi positif nan dilakukan sebagian umat Muslim.

Amalan ini dilakukan menjelang Magrib pada hari terakhir bulan Dzulhijjah untuk memohon pembebasan atas segala dosa selama satu tahun terakhir dan berambisi mendapat ridha Allah di tahun berikutnya.

Berikut angan akhir tahun nan dikutip dari kitab Maslakul Akhyar dari Sayid Utsman bin Yahya:

اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Allahumma ma 'amiltu min 'amalin fi hadzihis sanati ma nahaitani 'anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîha 'alayya bi fadhlika ba'da qudratika 'ala 'uqubati, wa da'autani ilattaubati min ba'di jara'ati 'ala ma'shiyatik. Fa inni astaghfiruka, faghfirli wa ma 'amiltu fiha mimma tardha, wa wa'attani 'alaihits tsawaba, fa'as'aluka an tataqabbala minni wa la taqtha' raja'i minka ya karim.

Artinya: "Ya Allah, segala perbuatan nan telah saya lakukan pada tahun ini nan Engkau larang dan saya belum bertobat darinya, sementara Engkau tetap bersabar terhadapku dengan karunia-Mu padahal Engkau berkuasa untuk menghukumku, dan Engkau mengajakku untuk bertaubat setelah saya berani melakukan maksiat kepada-Mu, maka saya memohon ampunan-Mu, ampunilah aku. Dan segala perbuatan nan saya lakukan tahun ini nan Engkau ridai dan Engkau janjikan pahala atasnya, saya memohon kepada-Mu untuk menerimanya dariku. Janganlah Engkau memutuskan harapanku kepada-Mu, wahai nan Maha Mulia."

2. Membaca angan awal tahun

Sama halnya dengan angan akhir tahun, membaca angan awal tahun menjadi corak angan untuk mengawali tahun baru Islam dengan keberkahan dan perlindungan dari segala keburukan.

Doa ini biasanya dibaca setelah Magrib pada malam 1 Muharram.

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa 'ala fadhlikal 'azhimi wa karimi judikal mu'awwal. Hadza 'amun jadidun qad aqbal. As'alukal 'ishmata fîhi minas syaithani wa auliya'ih, wal 'auna 'ala hadzihin nafsil ammarati bis su'i, wal isytighala bima yuqarribuni ilaika zulfa, ya dzal jalali wal ikrâm.

Artinya: "Ya Allah, Engkau nan Abadi, Qadim, dan Awal. Dengan karunia dan kemurahan-Mu nan besar, Engkau adalah harapanku nan teguh. Ketika memasuki tahun baru ini, saya memohon perlindungan dari bujukan setan dan pengikut-pengikutnya. Aku juga memohon pertolongan-Mu untuk menaklukkan hawa nafsu nan sering menggoda untuk melakukan jahat. Aku memohon petunjuk dari-Mu agar setiap aktivitasku sehari-hari dapat mendekatkan diriku pada rahmat-Mu, wahai Tuhan nan Maha Agung dan Maha Mulia."

3. Menyiapkan diri puasa Muharram

Salah satu ibadah utama adalah merencanbakal puasa sunnah di bulan Muharram. Ada beberapa jenis puasa sunnah nan bisa dilakukan selama Muharram, seperti puasa Tasua dan Asyura, puasa di tanggal 11 Muharram, puasa Ayyamul Bidh, hingga puasa rutin Senin dan Kamis.

Berikut ini agenda lengkapnya:

  • Puasa Tasua (9 Muharram 1446 H): Senin, 15 Juli 2024
  • Puasa Asyura (10 Muharram 1446 H): Selasa, 16 Juli 2024
  • Puasa 11 Muharram: Rabu, 17 Juli 2024
  • Puasa Ayyamul Bidh (13–15 Muharram): Jumat–Minggu, 19–21 Juli 2024
  • Puasa Senin-Kamis: 8, 11, 15, 18, 22, 25, 29 Juli 2024, dilanjutkan 1 dan 5 Agustus 2024

4. Memperbanyak sperangkat sunnah

Selain sperangkat wajib, dianjurkan untuk memperbanyak sperangkat sunnah seperti tahajud, hajat, dan witir di malam 1 Muharram untuk meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT.

Tradisi menulis kalimat Bismillahirrahmanirrahim sebanyak 113 kali dipercaya dapat menjadi corak angan perlindungan dari beragam mara ancaman sepanjang tahun.

6. Membaca Yasin 3 Kali

Membaca surah Yasin tiga kali setelah Magrib di malam 1 Muharram menjadi ibadah nan diyakini mendatangkan kebaikan, kemudahan rezeki, dan perlindungan sepanjang tahun.

7. Membaca ayat Kursi 360 Kali

Membaca Ayat Kursi sebanyak 360 kali merupbakal ibadah nan dilakukan sebelum membaca angan akhir tahun, sebagai corak perlindungan diri dari segala keburukan.

8. Berzikir

Seperti halnya di bulan-bulan lain, awal Muharram bisa diisi dengan memperbanyak zikir sebagai corak mengingat Allah SWT.

Zikir ini bisa berupa ucapan takbir, tahlil, tasbih, maupun istighfar. Hal ini segimana disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 103, 

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَوَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَما وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأَنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَوةَ إِنَّ الصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَبًا مَّوْقُوتًا

Artinya: Apabila Anda telah menyelesaikan salat, berzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika Anda berdiri, duduk, maupun berbaring. Apabila Anda telah merasa aman, laksanakanlah sperangkat itu (dengan sempurna). Sesungguhnya sperangkat itu merupbakal tanggungjawab nan waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.

9. Bersedekah

Memberikan infak adalah ibadah nan dianjurkan kapan saja, termasuk pada malam 1 Muharram. Dalam kitab 12 Bulan Mulia – Amalan Sepanjang Tahun karya Abdurrahman Ahmad As, disebutkan bahwa infak juga menjadi salah satu ibadah utama nan dianjurkan pada hari Asyura.

Anjuran ini didasarkan pada riwayat dari Sufyan bin Uyainah RA nan menekankan keistimewaan berbagi di hari nan mulia tersebut.

10. Bertobat

Tobat menjadi salah satu ibadah nan sangat dianjurkan saat memasuki bulan Muharram. Momentum malam 1 Muharram bisa dijadikan awal untuk memperbanyak istighfar dan memperbaiki diri.

Rasulullah SAW pun mendorong umatnya untuk bertobat di bulan ini melalui beragam ibadah saleh. Dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW berfirman bahwa bulan Muharram merupbakal waktu di mana Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya, segimana Dia menerima tobat satu kaum pada hari Asyura.

11. Tadarus Al-Qur'an

Membaca dan mengkaji Al-Qur'an menjadi corak ibadah nan sangat dianjurkan, terutama untuk mengisi malam pergantian tahun dengan aktivitas penuh keberkahan.

12. Bersilaturahmi

Mengunjungi family alias kerabat untuk mempererat silaturahmi di awal tahun Hijriah dapat menambah keberkahan dan memperpanjang umur segimana disebutkan dalam hadits.

13. Qiyamul Lail

Pada malam 1 Muharram, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah malam alias qiyamul lail mulai dari setelah sperangkat Isya hingga menjelang subuh.

Amalan malam ini mencakup salat-sperangkat sunnah seperti tahajud, witir, dan apalagi sperangkat tarawih jika dilakukan dengan niat ibadah. 

14. Memperbanyak ibadah setelah Subuh

Awal hari di bulan Muharram bisa diisi dengan memperbanyak ibadah baik setelah sperangkat Subuh. Salah satunya adalah berdzikir dan berdoa, mengingat pagi hari adalah waktu nan diberkahi.

Rasulullah SAW apalagi menyatbakal ketidaksukaannya terhadap kebiasaan tidur setelah Subuh, segimana disebutkan dalam salah satu hadits:

"Sungguh jika saya mendengar bahwa seseorang itu tidur di waktu pagi, maka saya pun merasa tidak suka dengan dirinya." (HR Ibnu Abi Syaibah)

15. Menyantuni anak yatim

Bulan Muharram kerap disebut sebagai bulan peduli anak yatim. Oleh lantaran itu, menyantuni anak-anak yatim menjadi salah satu ibadah nan dianjurkan, terlebih dimulai sejak malam pertama bulan ini.

16. Memakai celak mata

Salah satu ibadah nan bisa dilakukan pada malam 1 Muharram adalah menggunbakal celak mata, segimana dikutip dari NU Online dan kitab Kanzun Naja was Surur karya Syekh Abdul Hamid.

17. Memotong kuku

Memotong kuku pada awal bulan adalah bagian dari menjaga kebersihan nan sejalan dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.

18. Menjenguk orang sakit

Menjenguk orang sakit pada awal tahun Hijriah adalah salah satu corak kepedulian sosial nan mempunyai pahala besar.

19. Minum susu di 1 Muharram

Di sebagian tradisi Muslim, meminum susu di hari pertama Muharram diyakini membawa simbol kesucian dan angan hidup nan baik sepanjang tahun.

Demikian penjelasan tentang niat baca Yasin 3x di malam tahun baru Islam 1447 H/2025, beserta norma dan keutamaannya. Semoga bermanfaat, Bunda.

Bagi Bunda nan mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Selengkapnya
Sumber
-->