Ngaji Kebangsaan Di Usm, Kh Munif Zuhri Tekankan Iman Sebagai Sumber Ketenangan Dan Kepasrahan

Sedang Trending 11 jam yang lalu

SEMARANGUPDATE.COM – Universitas Semarang (USM) menggelar Ngaji Kebangsaan dan Nilai Kemanusiaan di Auditorium Prof. H. Muladi, Selasa malam (2/6/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Girikusumo Mranggen Demak, KH Munif Muhammad Zuhri alias nan berkawan disapa Mbah Munif.

Acara nan berjalan khidmat itu dihadiri sekitar 150 peserta nan berasal dari beragam kalangan. Selain civitas akademika USM, datang pula personil Forum Santri Lintas Profesi, mahasiswa, wartawan, advokat, pengajar dari sejumlah perguruan tinggi seperti Undip, Unissula, UPGRIS, dan Unnes, serta masyarakat umum.

Turut datang dalam aktivitas tersebut Rektor USM nan juga Ketua Forum Santri Lintas Profesi Dr Supari ST MT, Sekretaris Forum Santri Lintas Profesi sekaligus moderator Dr Muhammad Ja’far S MSi Ak CA, Prof Dr Muhammad Haddin, Prof Dr Slamet Imam Wahyudi, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Dalam tausiahnya, Mbah Munif membujuk jamaah memahami makna ketaatan secara lebih mendalam.

Menurutnya, ketaatan tidak hanya dimaknai sebagai corak kepercayaan semata, tetapi juga menghadirkan rasa kondusif dan nykondusif dalam kehidupan.

“Iman mempunyai makna nan sangat luas. Tidak hanya seperti nan disampaikan oleh para ustaz, guru, ustad bahwa ketaatan adalah artinya hanya sekedar percaya. Bukan. Iman ini adalah kondusif dan nyaman,” ujar Mbah Munif.

Ia menjelaskan bahwa perihal paling mendasar nan kudu dimiliki setiap manusia dalam menjalani kehidupan adalah iman.

Bagi dirinya, ketaatan bukan hanya soal percaya, melainkan kondisi jiwa nan menghadirkan ketenangan lantaran adanya kepercayaan penuh kepada pihak nan dipercaya.

“Sesugguhnya perihal pokok nan pertama nan kudu dimiliki seorang manusia dalam menjalani kehidupannya adalah iman. Iman nan saya maksud, tidak sekadar “percaya”, lebih dari itu, ketaatan adalah nykondusif dan aman. Seperti seseorang nan mempercayai sahabatnya, dia bakal merasa tenang bersamanya, taka da sedikit pun rasa kuatir di dalam dada, jika sahabatnya itu bakal menimbulkan masalah untuknya,” imbuhnya.

Mbah Munif kemudian memberikan ilustrasi tentang seorang pegawai nan mendampingi rektor dalam perjalanan dinas.

Pegawai tersebut tidak perlu memikirkan biaya perjalanan, tempat menginap, maupun kebutuhan lainnya lantaran semuanya telah menjadi tanggung jawab pimpinan.

Menurutnya, gambaran tersebut serupa dengan seorang hamba nan benar-betul beragama kepada Allah SWT.

Seorang nan beriman, lanjutnya, bakal merasa tenteram dalam menjalani hidup lantaran meyakini seluruh ketentuan Allah pasti mengandung kebaikan dan tidak bakal mencelakbakal hamba-Nya.

Selain memtelaah makna iman, Mbah Munif juga mengingatkan bahwa beragam ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji pada hakikatnya kudu bermuara pada sikap bertawakal diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

“Inilah sebenarnya puncak dari pengabdian. Salat, puasa, zakat, pergi haji. Ini hanya teori sebenarnya. Pernahkah kita bertawakal diri kepada Allah? Kalau kita mau jujur, jawab belum pernah,” tutur KH Munif Zuhri.

Ia juga menyinggung beragam persoalan nan kerap dihadapi manusia dalam kehidupan. Menurutnya, banyak masalah nan muncul sebenarnya berasal dari perilsaya manusia sendiri, bukan lantaran bumi nan bermasalah.

Karena itu, dia membujuk jamaah untuk lebih banyak melakukan introspeksi diri daripada terus-menerus mengeluhkan keadaan.

“Apa nan kita risaukan? Apa nan kita keluhkan? apa nan perlu kita perhatikan adalah diri kita sendiri,” pesannya.

Mbah Munif menambahkan, hanya Allah SWT nan tidak bakal pernah mengecewbakal ketika dicintai dengan sepenuh hati.

Oleh karena itu, manusia semestinya menempatkan cinta kepada Sang Pencipta di atas segala corak cinta lainnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan hidup bukan ditentukan oleh tingkat kecerdasan, kekayaan, ataupun kedudukan nan dimiliki seseorang. Hakikat hidup, menurutnya, adalah menyadari bahwa seluruh kehidupan berada dalam genggkondusif Allah SWT.

“Hidup ini tidak hanya jadi orang pintar, tidak hanya jadi orang kaya, jadi tidak hanya jadi orang nan punyai kedudukan tinggi, bukan. Hidup ini adalah milik Allah,” tegasnya.

Menurut Mbah Munif, ketika kesadaran spiritual tersebut telah tertanam kuat dalam diri seseorang, maka beragam status dan pencapaian duniawi tidak lagi menjadi sumber kegelisahan.

Menutup tausiahnya, dia menyampaikan refleksi bahwa bumi pada dasarnya tidak mempunyai persoalan. Justru manusialah nan sering kali menciptbakal masalah melalui langkah berpikir dan tindakannya sendiri.

“Kita nan bikin masalah. Dunianya tidak ada masalah,” pungkasnya.

Melalui aktivitas Ngaji Kebangsaan dan Nilai Kemanusiaan tersebut, Mbah Munif berambisi seluruh jamaah dapat memperoleh pemahkondusif nan lebih mendalam tentang makna ketaatan dan pengabdian kepada Allah SWT, sehingga bisa menjalani kehidupan dengan penuh ketenangan, keikhlasan, dan rasa syukur. (*)

Selengkapnya
Sumber semarangupdate
-->