Jakarta -
Negara China tengah menghadapi krisis lapangan kerja, Bunda. Banyak generasi muda di China kesulitan mencari kerja sesuai dengan perawat studi saat mereka kuliah.
Badai krisis tersebut terungkap dalam laporan CNA berjudul "Mengapa Sarjana Muda Banyak Menganggur di China". Dalam laporannya, beberapa waktu lampau CNA setidaknya menemukan beberapa pencari kerja di bursa kerja (job fair) Lishuiqiao, Beijing.
"Saya memandang peluangnya cukup suram, pasar tenaga kerja sepi, akhirnya saya mengurungkan niat mengejar posisi tertentu," kata Hu Die, pencari kerja berumur 22 tahun nan merupbakal sarjana kreasi dari Harbin University of Science and Technology kepada CNA, dikutip Minggu (21/6/25).
Pencari kerja lain, Li Mengqi, juga mengungkap kesulitannya mencari pekerjaan nan sesuai dengan jurusannya saat menempuh pendidikan di universitas. Pria 26 tahun ini merupbakal sarjana teknik kimia dari Institut Teknologi Shanghai nan sudah 8 bulan menganggur setelah menyelesaikan studi.
Sementara itu, pencari kerja lain ialah Chen Yuyan, mesti merelbakal gelarnya dari Guangdong Food and Drug Vocational College tahun 2022 untuk bekerja di luar studi. Chen Yuyan nan sekarang berumur 26 tahun akhirnya kudu bekerja sebagai petugas sortir paket di sebuah bagian pemasok kurir, Bunda.
Menurutnya, susah untuk mendapatkan pekerjaan dengan standar penghasilan nan mencukupi meski dia telah mendapatkan pendidikan vokasi. Sebab, banyak lowongan kerja nan mencantumkan syarat-syarat menyulitkan untuknya.
"Banyak perusahaan mencari kandidat nan sudah berpengalaman-orang-orang nan bisa langsung bekerja. Sebagai lulusan baru, kami tidak punya cukup pengalaman. Mereka sering mengatbakal tidak mempunyai sumber daya untuk melatih tenaga kerja baru, dan penghasilan nan ditawarkan sangat rendah," ungkap Chen.
Terjadinya krisis lapangan kerja di China dibenarkan oleh pendiri Young China Group, lembaga think tank alias ahli filsafat nan berpatokan di Shanghai, Zak Dychtwald. Ia mengatbakal bahwa apa nan dialami saat ini merupbakal gambaran dari krisis pasar di sana.
"Salah satu masalah terbesar saat ini adalah ketimpangan antara kerja keras nan mereka lakukan saat kuliah dan pekerjaan nan menanti ketika lulus," kata Zak Dychtwald.
Selain lantaran krisis pasar, banyak sarjana kesulitan mendapatkan pekerjaan lantaran meningkatnya persaingan di bursa kerja, Bunda. Seperti apa pandangan dari master mengenai perihal ini hingga muncul kejadian istilah 'anak dengan ekor busuk'?
TERUSKAN MEMBACA DI SINI.
Bagi Bunda nan mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)
7 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·