Lahir Piatu, Anak Pencari Ikan Alami Cerebral Palsy Pasif Tegar Hadapi Cobaan

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

Jakarta -

Andini terbaring ksaya dengan leher mendangak ke atas sesekali mengerang namun tak jarang juga di tersenyum. Di atas kasur tipis Andini terasa lebih tenang dalam ayunan ibu sambungnya, Sijah. Walaupun Andini bukan lahir dari rahimnya, Sijah begitu lembut mengasihi Andini nan mengalami Cerebral Palsy jenis pasif.

Sijah lihai mengurusnya dan tetap berada di samping Andini sedari dia bayi. Sungguh pengorbanan bagi Sijah mengasuh anak spesial seperti Andini.

"Awalnya saya berat ya tapi seiring waktu lantaran dari lahir, jiwa saya sama dia jadi satu. Saya (sayang) lebih dari anak sendiri. Lelah iya manusiawi, capek iya, tapi yaudah buat ladang pahala saya kelak itu aja prinsip Saya. Saya ga peduli orang mau bilang apa. Dia ga bisa apa-apa nan bisa gendong ga ada satupun nan bisa," ungkap Sijah tanpa membendung air matanya.

Andini memang begitu malang. Dia dilahirkan paksa lantaran ibunya mengalami koma. Dokter pun memutuskan menyelamatkan Andini dan merelbakal ibunya pulang pangkuan Tuhan.

"Dia lahir kejang-kejang. Karena mungkin kata master kekurangan oksigen. Saking lamanya di dalam perut," tutur Sijah.

Sesaat setelah lahir, Andini telah menjadi piatu. Beruntung Sijah datang dan menjadi ibu sambungnya selama 11 tahun ini.

Sijah mengatbakal terdapat bercak darah di otak Andini sehingga menyebabkan Andini mengalami cerebral palsy. Kondisi makin memprihatinkan lantaran sang ayah hanya seorang pencari ikan di empang sekitar rumahnya di area Koja, Jakut.

andiniandini/ Foto: berbuatbaik

Penghasilan didapat pun tak tentu tergantung masa panen. Sijah menyebut suaminya hanya membawa pulang Rp 4 juta untuk 6 bulan. Dengan pemasukan nan minim ini Sijah kudu pandai memutar otak memenuhi kebutuhan rumah dan juga kesehatan Andini.

"Dia kan ada setiap bulan tuh ada obat nan ditebus ya gak di-cover sama BPJS ya obat kejang. Sebulan tuh nyaris Rp 300 Kadang saya jika ada duit seperapat aja lah," pungkasnya.

Pekerjaan membawa Andini kontrol ke rumah sakit pun semakin berat. Selain lantaran biaya operasiona, Andini juga semakin besar sehingga dia kesulitan membawa Andini nan sudah terlanjur kaku.

Oleh lantaran itu, terkadang Sijah mencari tambahan dari menggetok rantai untuk jala kapal agar dia bisa ikut membantu memenuhi kebutuhan Andini.

"Saya getokin rante buat jala ada nan ngirim. Andini ga bisa ditinggal, ke manapun saya bawa. Pokok utama itu butuh pempers 24 jam dan tetap minum susu," sambungnya.

Tak banyak nan bisa dilakukan Sijah, apalagi Andini sudah divonis mengalami gizi jelek lantaran berat badannya begitu rendah. Kendati begitu, sedapat mungkin jika ada rezeki, Sijah membawa Andini untuk diurut.

andiniandini/ Foto: berbuatbaik

"Karena terapi pengganti tiap jumat diurut jadi bisa ngebuka tangan tadinya kaku," jelasnya.

Besar angan Sijah, kondisi Andini terus membaik. Sijah nan tinggal di rumah semi permanen pun ini menginginkan Andini bisa kontrol lagi ke rumah sakit tanpa kudu memikirkan biaya dan kebutuhan rumah nan kudu family ini penuhi setiap hari.

#sahabatbaik, malangnya nasib Andini serta kelapangan hati Sijah menjadi pelaliran nan begitu berharga. Kita bisa membantu mereka dengan mulai Donasi sekarang juga. Tenang saja, bantuan di berbuatbaik.id seluruhnya tersalurkan.

(mul/ziz)

Selengkapnya
Sumber
-->