Perang Iran-Israel tetap berjalan hingga saat ini. Suasana perang kian memanas saat Amerika Serikat menyerang Iran pada akhir pekan lalu. Dampaknya, harga minyak pagi ini sudah mendekati US$ 80 per barel.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira mengatbakal perang ini bakal berakibat bagi Indonesia. Apalagi serangan perdana AS ke Iran menimbulkan kekhawatiran eskalasi bentrok bakal meluas di Timur Tengah.
Dia menyebut situasi ini bakal menyebabkan terganggunya pengedaran migas dan beragam bahan bsaya melalui selat hormuz. Harga minyak mentah dapat menyentuh US$ 80-83 per barel dalam waktu dekat, setidaknya awal Juli 2025.
"Meskipun permintaan daya saat ini sedang turun, tapi bentrok bisa mendorong naiknya nilai minyak signifikan,” kata Bhima saat dihubungi Katadata.co.id, Senin (23/6).
Dengan kondisi ini, pemerintah kudu memperhatikan lonjbakal biaya impor bahan bakar minyak alias BBM. Hal ini bakal menyebabkan inflasi nilai melonjak di tengah daya beli masyarakat lesu.
“Proyeksinya jika perang berjalan lebih lama ekonomi Indonesia hanya bakal tumbuh 4,5% year on year tahun ini,” ujarnya.
Bhima menyampaikan perihal ini membikin Indonesia semakin berat untuk mencapai sasaran 8% pertumbuhan ekonomi lantaran situasi eksternal nya terlalu berat, ditambah adanya efisiensi anggaran pemerintah.
Dia merekomendasikan empat perihal nan kudu dilakukan pemerintah, diantaranya:
- Segera mengamankan komitmen investasi dari negara Timur Tengah sebelum eskalasi konflik meningkat.
- Mendorong pengembangan daya terbarukan lebih sigap sehingga ketahanan daya dapat terjaga, tidak terlalu berjuntai pada impor BBM dan LPG.
- Mempercepat serapan anggaran khususnya nan berorientasi pada pembuatan lapangan kerja
- Bank Indonesia wajib memastikan transmisi suku kembang nan lebih rendah ke bank domestik
Potensi Kenaikan Harga BBM
Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus Rektor Institut Teknologi PLN, Iwa Garniwa mengatbakal tidak hanya inflasi, kenaikan nilai minyak akibat situasi Selat Hormuz juga mempunyai akibat lain, seperti:
- Kenaikan biaya impor minyak
- Kenaikan nilai BBM di dalam negeri
- Dampak pada inflasi dan stabilitas ekonomi
“Perlu dilakukan langkah-langkah untuk mengurangi dampaknya, seperti diversifikasi sumber daya dan meningkatkan efisiensi serta meningkatkan kemandirian energi,” kata Iwan kepada Katadata.co.id.
Iwa juga menyampaikan dirinya memproyeksikan kenaikan nilai minyak referensi bumi dapat mencapai US$ 100-130 per barel jika perang di Timur Tengah tidak kunjung mereda. Terlbih jika pemerintah Iran akhirnya menutup Selat Hormuz, jalur pengedaran utama minyak dan gas bumi global, dalam jnomor waktu nan lama.
“Jika penutupan Selat Hormuz berjalan selama beberapa minggu alias bulan, nilai minyak bumi dapat melonjak tajam,” ujarnya.
7 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·