Konflik Iran-israel Makin Panas, Kemenkeu Yakin Apbn Masih Kuat Redam Dampaknya

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

Amerika Serikat (AS) sudah ikut campir dalam bentrok Israel-Iran. Serangan AS ke situs nuklir Iran memicu kekhawatiran terhadap akibat lanjutan, termasuk tekanan terhadap perekonomian dunia seperti lonjbakal nilai bahan bakar minyak (BBM).

Meski begitu, pemerintah memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap bisa menjadi tameng untuk meredam akibat tersebut. Saat ini, potensi tekanan nilai minyak akibat eskalasi bentrok Timur Tengah dinilai tetap bisa dikendalikan.

“Tekanan nilai minyak terhadap inflasi, khususnya nan berangkaian dengan nilai BBM, dapat diredam dengan adanya subsidi dan kompensasi nan diberikan pemerintah,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro, Senin (23/6).

Deni memastikan pemerintah tetap mempunyai ruang fiskal untuk menyerap akibat inflasi melalui beragam kebijbakal penyesuaian. “Fungsi APBN sebagai shock absorber tetap dapat melangkah dengan baik,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, level nilai minyak saat ini tetap berada di bawah dugaan dalam APBN 2025, ialah US$ 82 per barel. Harga minyak Brent pada akhir pekan lampau tercatat di level US$ 77,27 per barel.

Sementara rata-rata nilai minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) tetap di bawah US$ 73 per barel secara year to date. “Sehingga tetap terdapat ruang fiskal untuk meredam rambatan inflasi,” kata Deni.

Selain itu, kepercayaan penanammodal terhadap instrumen utang pemerintah seperti Surat Berharga Negara (SBN) juga tetap terjaga. Meski terjadi aliran modal keluar (capital outflow), tekanan terhadap nilai SBN dinilai tetap sangat terbatas.

“Pemerintah terus mewaspadai akibat dunia dan transmisinya terhadap perekonomian domestik dengan menyiapkan langkah-langkah mitigasi awal dan mengoptimalkan peran APBN sebagai shock absorber,” ujar Deni.

Lonjbakal Harga Minyak Mengintai

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai akibat terbesar dari bentrok Iran-Israel bagi Indonesia adalah potensi lonjbakal nilai minyak dunia.

“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, berpotensi memicu guncangan besar di pasar daya global,” kata Yusuf kepada Katadata.co.id.

Ia mengingatkan, Indonesia bukan lagi negara eksportir minyak bersih, sehingga setiap kenaikan nilai minyak mentah bakal langsung berakibat pada biaya impor daya dan memperlemah neraca perdagangan.

“Setiap kenaikan nilai minyak mentah langsung berakibat pada biaya impor dan tekanan terhadap neraca perdagangan,” jelas Yusuf.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira juga menilai bentrok Israel-Iran berpotensi besar memengaruhi perekonomian Indonesia, apalagi setelah serangan pertama AS ke Iran nan memicu kekhawatiran bakal meluasnya eskalasi konflik.

Bhima mengingatkan, bentrok ini bisa mengganggu pengedaran migas dan bahan bsaya krusial melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan daya dunia. Menurutnya, nilai minyak mentah berpotensi menyentuh kisaran US$ 80-83 per barel dalam waktu dekat, setidaknya pada awal Juli 2025.

“Meskipun permintaan daya dunia sedang melambat, bentrok tetap bisa mendorong nilai minyak naik signifikan,” kata Bhima.

Dengan kondisi ini, pemerintah perlu mengantisipasi lonjbakal biaya impor BBM. Hal ini dapat memicu inflasi di tengah kondisi daya beli masyarakat nan tetap lemah.

Selengkapnya
Sumber
-->