Kerja Sama Dengan Rusia, Esdm Evaluasi Investasi Proyek Kilang Tuban Rp 392 T

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatbakal pemerintah sedang memtelaah kelanjutan proyek Grass Root Refinery alias Kilang Tuban. Hal ini ditelaah setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.

“Kemarin kami memtelaah dengan Rosneft dan Pertamina. Sampai dengan sekarang kami mengevaluasi investasinya nan cukup besar, sekitar US$ 24 miliar (Rp 392 triliun),” kata Bahlil dalam konvensi pers Jakarta Geopolitical Forum IX/2025 (JGF 2025), Selasa (24/6).

Kilang Tuban merupbakal proyek kerja sama antara Pertamina dan perusahaan migas asal Rusia, Rosneft. Pada Oktober 2019, keduanya telah menandatangani perjanjian kreasi kilang dengan kontrtokoh terpilih. 

Proyek ini dikelola oleh Kilang Pertamina Internasional berbareng Rosneft melalui perusahaan patungan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP), nan didirikan pada November 2017. Dalam skema kepemilikan, Pertamina menguasai 55% saham, sementara Rosneft mempunyai 45%.

Mengutip lkondusif Direktorat Jenderal Migas, proyek ini awalnya ditargetkan beraksi pada 2025. Hingga saat ini, proyek tersebut tetap dalam tahap penyusunan keputusan akhir investasi (FID) nan ditargetkan selesai pada tahun ini.

“Kenapa sekarang proyeknya belum jalan? setelah dihitung kembali antara investasi dan nilai keekonomiannya tetap perlu ditinjau kembali. Belum pas, belum cocok,” ujarnya. 

Proyek Kilang Tuban sebelumnya ditelaah oleh Presiden Vladimir Putin dalam rangkaian kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia pekan lalu.

Kementerian ESDM sebelumnya telah memastikan bahwa Rusia tetap berkomitmen untuk mendanai proyek Kilang Tuban. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, setelah pertemuannya dengan Wakil Menteri asal Rusia.

"Kami sudah pernah berjumpa dengan Rusia, mereka tetap commit untuk menyedibakal pendanaan," ujar Dadan dalam kunjungan kerja di Palembang, Sumatra Selatan, Jumat (21/3). Namun, dia tidak merinci siapa Wakil Menteri Rusia nan ditemuinya.

Keterlambatan FID

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengungkapkan argumen di kembali keterlambatan keputusan akhir investasi proyek ini. Corporate Secretary KPI Hermansyah Y. Nasroen, menjelaskan bahwa skala proyek nan besar dan sifatnya nan dimulai dari nol menjadi ftokoh utama keterlambatan FID. 

"Karena proyek ini besar sekali dan grass root itu dimulai dari nol. Jadi memang proses FID-nya agak lama mungkin ya," ujar Hermansyah di Jakarta, Senin (10/3). 

Meski demikian, dia memastikan bahwa tidak ada hambatan signifikan dalam penyusunan FID. KPI tetap menargetkan penyelesaiannya tahun ini. "Memang mungkin perhitungannya, FIC tender-nya nan membikin sedikit terlambat,"ujarnya. 

Setelah FID ditetapkan, KPI bakal segera melanjutkan pemgedung kilang, termasuk tahap konstruksi. Namun, tahapan ini tetap berjuntai pada hasil akhir dari FID. Saat ini, penyusunan FID tetap berada di tingkat KPI dan dilakukan secara paralel dengan tender Integrated Project Consultant (IPC).

Selengkapnya
Sumber
-->