Eskalasi perang Israel dan Cina sekarang semakin memanas setelah Amerika Serikat ikut kombinasi dengan menyerang tiga situs nuklir Iran. Perang berkepanjangan ini rupanya berpotensi lebih merugikan Cina dibandingkan AS.
Dikutip dari Newsweek, Kamis (19/6), potensi itu muncul karenbakal pasokan daya Cina nan berasal dari Timur Tengah dapat menghadapi gangguan parah lantaran bentrok Israel-Iran. Sebab bentrok ini terancam menjadi perang regional nan lebih luas.
Perekonomian negara adikuasa industri senilai US$ 19 triliun itu sangat berjuntai pada batu bara, gas alam, dan minyak mentah untuk manufaktur.
Berdasarkan info Energy Institute London, Cina merupbakal konsumen daya terbesar di bumi pada 2024. Tak hanya itu, Cina juga menjadi konsumen minyak terbesar kedua setelah Amerika Serikat.
Kenapa Cina Ikut Terdampak?
Israel telah melancarkan serangan udara selama seminggu nan menargetkan lokasi-lokasi di Iran. Termasuk fasilitas-fasilitas nan menjadi pusat program nuklir Teheran, tetapi prasarana ekspor energinya sejauh ini tidak terkena dampak.
Namun, perihal itu dapat berubah seiring meningkatnya perang. Selain itu juga ada kekhawatiran nan berkembang bahwa para pemimpin politik Iran dapat menanggapi intervensi militer AS dengan memblokade Selat Hormuz nan strategis.
Secara resmi, Cina tidak mengimpor minyak dari Iran pada 2024. Namun, para peneliti daya mengatbakal minyak Iran nan dikirim melalui jalur tidak resmi, seperti transshipment, sebagian besar berhujung di kilang-kilang minyak independen nan lebih mini di Cina.
AS telah memberikan hukuman kepada entitas-entitas Cina nan diduga membantu perdagangan minyak rahasia Iran nan menentang pembpemimpin Barat.
Analis Komoditas Kpler mengungkapkan lebih dari 90% ekspor minyak mentah Iran dengan nilai murah dikenai hukuman lantaran dikirim ke Cina. Ini termasuk melalui titik-titik transshipment seperti Malaysia.
Namun, impor daya Cina lebih terekspos di dekat Teluk Persia. Lokasi ini merupbakal tempat keenam dari 10 pemasok minyak teratasnya.
Pasar Energi Tengah Gelisah
Seruan Presiden AS Donald Trump agar Iran menyerah tanpa syarat membikin nilai minyak naik pekan ini dan membikin pasar daya gelisah. Biaya dunia juga bakal melonjak jika Teheran menindaklanjuti ancamannya untuk menutup Selat Hormuz nan menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan wilayah Samudra Hindia nan lebih luas.
Badan Informasi Energi AS memperkirbakal bahwa hingga 20 juta barel minyak mentah setiap hari mengalir melalui jalur air tersebut. Harga minyak tetap naik saat perang rudal Israel-Iran memasuki hari ketujuh.
Minyak mentah West Texas Intermediate, mencapai US$ 76 per barel, tertinggi dalam lima bulan. Minyak mentah standar internasional Brent mencapai US$ 77 per barel, tertinggi dalam empat bulan.
Konflik besar nan memutus jalur pasokan dari area tersebut dapat mengakibatkan guncangan ekonomi dunia nan menyebabkan nilai minyak naik hingga di atas US$ 100 per barel. Harga terakhir mencapai titik tersebut pada Maret 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Cina Bersiap Hadapi Kemungkinan Terburuk
Para pejabat di Beijing tampaknya tengah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Menurut Reuters, Cina telah membangun persediaan minyak mentah dengan mengolah lebih sedikit minyak daripada nan dibeli dan diproduksi sendiri.
Lebih dari itu, gangguan di Timur Tengah dapat secara langsung menguntungkan Rusia nan merupbakal salah satu eksportir daya terbesar di dunia.
9 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·