CEKLANGSUNG.COM – Jika Anda berpikir persaingan smartphone kelas menengah di tahun ini hanya berkutat pada besaran megapiksel kamera alias kecepatan pengisian daya, bersiaplah untuk meninjau ulang pandangan tersebut. Infinix Note 60 Series resmi mendarat di Tanah Air dengan membawa strategi nan cukup mengejutkan. Tidak hanya sekadar menawarkan spesifikasi di atas kertas, seri ini menumpama momen krusial kembalinya chipset Qualcomm ke jaliran Infinix setelah tidakhadir cukup lama sejak 2019.
Langkah ini jelas bukan keputusan sembarangan. Infinix tampaknya mau membuktikan bahwa mereka serius meningkatkan standar kompetisi, terutama di segmen nan selama ini menjadi “medan perang” paling sengit. Kehadiran jenis standar dan Pro memberikan opsi nan luas bagi konsumen, namun sorotan utama tentu tertuju pada jenis Pro nan sekarang ditenagai oleh Snapdragon 7s Gen 4 dengan fabrikasi 4nm.
Keputusan menggunbakal “otak” dari Qualcomm ini dipadukan dengan sistem pendingin uap alias vapor chamber 3D IceCore seluas 4.758mm². Klaimnya tidak main-main, suhu perangkat bisa diredam hingga turun 3°C saat dipacu untuk aktivitas gaming intensif. Sementara itu, model reguler tetap setia dengan Dimensity 7400 Ultimate, menjaga keseimbangan antara performa dan efisiensi biaya bagi pasar nan lebih sensitif terhadap harga.
Namun, nan membikin seri ini benar-betul menarik bukanlah sekadar dapur pacunya. Ada penemuan teknologi nan mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah bagi sebagian orang, ialah keahlian baterai untuk “menyembuhkan diri”. Ini adalah upaya berani Infinix untuk menjawab keluhan klasik pengguna HP Infinix Murah maupun kelas atas mengenai umur baterai jnomor panjang.
Inovasi Layar Matriks dan “Penyembuhan” Baterai
Berbicara mengenai diferensiasi desain, Infinix Note 60 Pro tampil mencolok dengan fitur Active Matrix Display. Ini adalah layar mini bergaya dot nan diletakkan pada modul kamera belakang. Fungsinya cukup beragam, mulai dari menampilkan notifikasi, emoji animasi, hingga mini game sederhana. Meskipun terkesan gimmick, fitur ini memberikan identitas visual nan unik di tengah kreasi smartphone nan kian seragam.
Di kembali desainnya nan estetis, tersembunyi teknologi Battery Self-Healing. Secara teknis, Infinix menyatakan teknologi ini bisa memperbaiki micro-crack alias keretbakal mikro pada struktur baterai menggunbakal arus rendah. Hasilnya, kesehatan baterai disebut bisa pulih sekitar 1% setiap 200 siklus pengisian. Dengan kapabilitas jumbo, ialah Baterai 6500mAh, teknologi ini diklaim bisa memperpanjang usia pemakaian hingga enam tahun dalam penggunaan normal.
Tentu saja, klaim laboratorium ini tetap perlu pembuktian di bumi nyata. Namun, inisiatif untuk menghadirkan solusi atas degradasi baterai di kelas menengah patut diapresiasi. Kedua jenis juga sudah mendukung pengisian daya nirkabel 30W, sebuah fitur mewah nan jarang ditemui di rentang nilai ini, melengkapi pengisian kabel 90W pada jenis Pro dan 45W pada model standar.
Kamera 50MP OIS dan Sentuhan Pininfarina
Sektor visual tidak luput dari peningkatan signifikan. Kedua perangkat mengusung layar OLED 6,78 inci dengan refresh rate 144Hz dan tingkat kecerahan puncak mencapai 4.500 nits. Layar ini dilindungi oleh Gorilla Glass 7i, memberikan rasa kondusif lebih bagi pengguna nan aktif. Bagi pecinta estetika, jenis Torino Black pada model Pro dirancang bekerjasama dengan rumah kreasi legendaris Pininfarina, memberikan sentuhan elegan nan jarang dimiliki kompetitornya.
Untuk urusan fotografi, Infinix menyematkan kamera utama 50MP nan dilengkapi OIS (Optical Image Stabilization) dan fitur Night Master Camera. Ada juga kamera ultra-wide 8MP dengan teknologi Flick Sensor untuk meminimalisir kedipan sinar lampu. Fitur Live Photo Mode akhirnya hadir, memungkinkan pengguna membikin foto bergerak nan bisa dikonversi menjadi GIF alias video pendek MP4, sangat cocok untuk konten media sosial nan “Ready-to-Post”.
Infinix tampaknya mau menghapus stigma bahwa ponsel mereka hanya untuk gamer. Dengan fitur videografi seperti 4K Pro Level Video, 2X Lossless Portrait, dan support Infinix AI Studio, perangkat ini diposisikan sebagai perangkat all-rounder. Sergio Ticoalu, Head of Marketing Infinix Indonesia, menyebut seri ini sebagai “sweet spot” nan menggabungkan performa andal dengan fitur nan membantu produktivitas harian.
Ekosistem AI dan Harga Kompetitif
Kejutan lain datang dari diperkenalkannya Infinix AI Glasses. Ini adalah kacamata pandai pertama dari Infinix nan dibanderol seharga Rp1.999.000. Perangkat wearable ini memanfaatkan kepintaran buatan untuk fitur fungsional seperti Live Translation, nan sangat berfaedah saat pengguna berjalan ke luar negeri. Ketersediaan aksesori canggih ini menunjukkan ambisi Infinix untuk membangun ekosistem AI nan lebih luas, tidak hanya terpsaya pada smartphone.
Lantas, gimana dengan harganya? Infinix Note 60 Series dibanderol dengan nilai nan cukup garang mengingat spesifikasi nan ditawarkan. Model standar (8GB/256GB) dijual mulai Rp4.499.000 dengan nilai spesial peluncuran Rp4.099.000. Sementara itu, jenis Pro dengan Chipset Baru Snapdragon dijual seharga Rp5.499.000 untuk jenis 8GB/256GB dan Rp5.999.000 untuk jenis tertinggi 12GB/256GB.
Dengan kombinasi layar OLED 144Hz, baterai “self-healing”, kembalinya chipset Snapdragon, dan fitur kamera nan ditingkatkan, Infinix Note 60 Series mempunyai modal kuat untuk mengguncang pasar. Namun, tantangan terbesarnya tetap pada pembuktian daya tahan jnomor panjang dan konsistensi performa, dua perihal nan sering menjadi pertimbangan utama konsumen di segmen ini.
10 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·