Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat ambruk 2% pada perdagangan pagi ini, Senin (23/6) ke level di bawah 6.800. IHSG, antara lain terseret anjloknya nilai saham emiten-emiten pertambangan personil Mining Industry Indonesia (MIND ID).
Pada perdagangan pukul 09.29 WIB ini, nilai saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat penurunan paling dalam ialah ambruk 13,56% ke Rp 2.550. Penurunan nilai saham juga dicatatkan PT Timah Tbk (TINS) hingga 8,14% ke Rp 1.015, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencapai 3,69% ke Rp 3.130, dan PT Aneka Tperiode Tbk (ANTM) turun 2,19% ke Rp 3,130.
IHSG pada perdagangan hari ini dibuka ambruk hingga ke 6.833 alias 1,07%, dan sempat turun hingga lebih dari 2%. Adapun pada perdagangan pukul 09.30 WIB, IHSG berada di posisi 6.798.
Jebloknya keahlian IHSG hari ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat keterlibatan Amerika Serikat dalam perang Israel dan Iran pada pekan lalu.
Kiwoom Sekuritas menilai, ketegangan geopolitik menjadi ftokoh utama nan menggerakkan sentimen pasar dunia saat ini. Situasi memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan keberhasilan serangan udara nan diklaim telah menghancurkan akomodasi nuklir utama milik Iran.
Trump menegaskan AS siap melancarkan serangan tambahan jika Iran menolak menyepakati perdamaian Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi berkepanjangan antara Israel dan Iran.
Selama sepekan terakhir, Israel dilaporkan telah menyerang puluhan sasaran militer Iran dalam upaya menghentikan pengembangan senjata nuklir. Di sisi lain, Iran menolak membuka kembali negosiasi mengenai program nuklir di tengah serangan nan berjalan dan tambahan hukuman dari AS, termasuk terhadap perseorangan dan kapal nan diduga memasok peralatan pertahanan.
Situasi ini membikin penanammodal dunia semakin waspada terhadap potensi memburuknya bentrok di kawasan. Aksi bargumen dari Iran tetap menjadi akibat utama nan membayangi stabilitas pasar.
Oxford Economics memperkirakan, salah satu skenario terburuk perang ini adalah jika Iran menghentikan produksi dan menutup akses Selat Hormuz, jalur vital pengedaran minyak dunia. Ketika itu terjadi, nilai minyak dunia bisa melonjak hingga US$130 per barel.
Kondisi ini diperkirbakal bakal mendorong inflasi AS menembus nomor 6% pada akhir tahun, memperparah ketidakpastian ekonomi global. “Hal ini bisa menghapus seluruh kesempatan pemangkasan suku kembang The Fed pada 2025,” tulis tim riset Kiwoom Sekuritas, Senin (23/6).
8 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·