SEMARANGUPDATE.COM – Perayaan Haul dan Tapak Tilas Sunan Kalijaga kembali berjalan semarak di Kelurahan Penggaron Timur, Keckajian Pedurungan, Kota Semarang.
Tradisi nan rutin digelar setiap tahun ini tidak hanya menjadi arena pelestarian budaya dan sejarah, tetapi juga dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui beragam aktivitas nan melibatkan warga.
Tahun ini, rangkaian aktivitas dikemas lebih meriah dibanding penyelenggaraan sebelumnya.
Beragam aktivitas digelar sejak pagi hari, mulai dari pagelaran UMKM, lomba anak-anak, hingga jasa publik nan menghadirkan sejumlah organisasi perangkat wilayah (OPD) untuk memberikan kemudahan pelayanan kepada masyarakat.
Selain memperkuat nilai-nilai budaya dan religius, penyelenggaraan haul juga diharapkan bisa mengenalkan kembali jejak sejarah Sunan Kalijaga di area Penggaron Timur sekaligus memberikan akibat positif bagi perekonomian penduduk setempat.
Cbanget Pedurungan, Nurul Hidayati, mengatbakal tradisi haul tersebut telah berjalan secara turun-temurun dan diselenggarbakal oleh masyarakat setempat.
Pemerintah keckajian dan kelurahan hanya berkedudukan memberikan support agar aktivitas dapat melangkah lebih meriah dan berfaedah bagi warga.

“Haul ini sebenarnya aktivitas rutin masyarakat. Kami dari pemerintah hanya supporting. Karena masyarakat mau aktivitas ini lebih besar, akhirnya kami kolaborasikan dengan beragam program seperti gebyar UMKM, cooking class, lomba mewarnai anak, lomba make up, donor darah, pelayanan Samsat, hingga jasa dari sejumlah OPD,” ujarnya.
Menurut Nurul, aktivitas tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Semarang dalam menghadirkan program nan mendukung kesehatan, kecerdasan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Puncak aktivitas bakal berjalan pada malam hari melalui kirab kebo nan menjadi tradisi unik dalam rangkaian haul.
Setelah dikirab mengelilingi area Penggaron Timur, kebo tersebut bakal disembelih sebagai bagian dari tradisi nan telah berjalan selama bertahun-tahun.
“Rencananya malam ini ada kirab kebo mulai pukul 18.30 WIB. Setelah kirab selesai, kebonya bakal disembelih dan besok pagi hasilnya dibagikan kepada masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Lurah Penggaron Timur, Dian Amaliasari, mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja mengemas peringatan Haul Sunan Kalijaga tahun ini lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya agar semakin dikenal masyarakat luas.
“Setiap tahun aktivitas ini memang dilaksanakan, tetapi biasanya hanya malam hari. Tahun ini kami mau mengangkatnya lebih besar agar masyarakat mengetahui bahwa di Penggaron Timur ada sejarah tapak tilas Sunan Kalijaga nan pernah singgah dan beristirahat di area ini,” kata Dian.
Ia menjelaskan, aktivitas nan berjalan sejak pagi menghadirkan beragam agenda, mulai dari pagelaran UMKM, lomba mewarnai tingkat PAUD dan TK, hingga lomba nan melibatkan ibu-ibu PKK.
Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan jasa Samsat Keliling, pemgaji pajak daerah, pemeriksaan kesehatan, donor darah, hingga perpustakaan keliling.
“Alhamdulillah antusiasme masyarakat luar biasa. Banyak UMKM nan dagangannya lenyap terjual. Bahkan beberapa produk kebutuhan pokok nan dijual dengan nilai murah langsung ludes dibeli warga,” ungkapnya.
Menurut Dian, puncak seremoni bakal semakin meriah dengan kirab kebo nan diikuti empat gunungan hasil bumi.
Setelah didobakal oleh para ulama, gunungan tersebut bakal diperebutkan masyarakat sebagai simbol keberkahan dan rasa syukur.
“Kirab kelak diikuti empat gunungan nan bakal diarak berbareng kebo. Setelah didoakan, gunungan itu bakal diperebutkan warga. Tradisi ini selampau menjadi daya tarik masyarakat setiap tahunnya,” jelasnya.
Selain kirab, suasana malam haul juga bakal dimeriahkan dengan penampilan hadrah serta peserta nan mengenbakal busana tradisional bernuansa budaya Jawa.
Tokoh masyarakat dan sejumlah pejabat juga dijadwalkan mengikuti kirab menggunbakal pedati nan mengelilingi area Penggaron Timur.
Melalui aktivitas ini, Pemerintah Kota Semarang berbareng masyarakat berambisi tradisi Haul dan Tapak Tilas Sunan Kalijaga dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya sekaligus menjadi sarana memperkuat kebersamaan, ekonomi kerakyatan, dan nilai-nilai religius di tengah masyarakat.
“Kami mau aktivitas ini bukan hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga menjadi identitas budaya nan dikenal masyarakat luas serta bisa memberikan faedah ekonomi bagi warga,” pungkas Dian. (*)
10 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·