Harga Saham Bank Bumn Makin Rontok Di Tengah Perang Israel-iran, Waktunya Serok?

Sedang Trending 8 bulan yang lalu

Harga saham bank-bank pelat merah semakin rontok di tengah memanasnya perang Israel dan Iran. Analis menilai, kondisi ini justru dapat menjadi pesenggang bagi penanammodal saham jnomor panjang nan mengincar dividen besar. 

Pada perdagangan kemarin, Senin (23/6), nilai saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) ambruk paling dalam mencapai 2,25% ke level Rp 1.085. Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) jeblok 1,85% ke level Rp 3.720, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 1,22% ke level Rp 4.060, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 0,20% ke level 4.920. 

Adapun dalam sebulan terakhir, nilai saham BBTN telah turun 14,23%, BBRI 13,89%, BMRI 10,14%, dan BBNI 9,78%. 

“Kami menilai penurunan nilai ini membuka kesempatan bagi penanammodal untuk mendapatkan dividen yield nan menarik dari ketiga saham tersebut,” kata Edi dalam risetnya, dikutip Selasa (24/6).

Menurut Edi, dengan nilai saham nan lebih rendah, potensi imbal hasil dividen atau dividend yield dari BMRI, BBRI dan BBNI diperkirbakal bisa mencapai lebih dari 7%. Ini dihitung beberapa skenario pertumbuhan untung bersih dan rasio pembagian dividen nan telah disimulasikan.

Namun, Edi memperkirbakal rasio pembagian dividen dari ketiga bank tersebut kemungkinan tidak bakal setinggi tahun 2024. Meski begitu, tetap ada kemungkinan rasio tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan level tahun 2023. 

Hal ini mempertimbangkan dua ftokoh utama, ialah kebutuhan modal untuk mendukung ekspansi upaya ke depan, serta kebutuhan pembiayaan untuk BPI Danantara. Holding BUMN ini baru berdiri  pada awal tahun ini dan berpotensi memerlukan pendanaan dari induk perbankan BUMN.

Asumsi Pertumbuhan Laba Bersih Tahun 2025 dan 2026

Dalam membikin kalkulasi potensi dividen, Edi membikin dugaan kenaikan untung bersih pada 2025 dan 2026. Berikut dugaan pertumbuhan untung ketiga bank BUMN  tersebut:

  • Laba bersih BMRI diperkirbakal naik tipis 0,3% pada 2025 dan meningkat 7,7% pada 2026.
  • Laba BBRI diperkirbakal turun 2,8% pada 2025, tetapi pulih dengan pertumbuhan 10,3% pada 2026.
  • Laba BBNI diprediksi paling tinggi mencapai 4,3% pada 2025 dan 8,6% pada 2026.

Kinerja Bank BUMN Solid dan Target Harga Saham

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan,  saham bank-bank besar secara esensial tetap menunjukkan keahlian nan solid. 

"Apalagi harganya saat ini sedang terkoreksi, sehingga membikin valuasinya menjadi semakin menarik," kata dia ketika dihubungi Katadata.co.id pada Senin (23/6).

Ia memaparkan sejumlah info keahlian bank BUMN nan solid. Penyaluran angsuran tetap tumbuh dua digit, rata-rata rasi angsuran bermasalah alias Non Performing Loan/NPL di bawah 3%, dan cakupan pencadangan atau LLR coverage tergolong tinggi. 

Ia memperoteksi nilai saham BBRI dapat berpotensi kembali ke level Rp 5.000, BBNI ke level Rp 5.200, dan BMRI ke level Rp 5.500.0.

Adu Laba 3 Bank Jumbo BUMN Kuartal I 2025

BBNI

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) membukukan untung bersih Rp 5,38 triliun sepanjang kuartal pertama 2025. Torehan untung bersih itu naik 1,1% secara tahunan dari periode nan sama sebelumnya Rp 5,32 triliun. 

Sejalan dengan pertumbuhan laba, BNI mencatat pertumbuhan angsuran dan tabungan masing-masing sebesar 10,1% dan 10,2% secara tahunan (yoy) pada kuartal pertama 2025.

BMRI

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencetak untung Rp 13,20 triliun sepanjang kuartal pertama 2025. Torehan untung itu naik 3,89% secara tahunan (yoy) dari sebelumnya Rp 12,70 triliun. 

Seiring dengan kenaikan laba, pendapatan kembang tumbuh 11,51% yoy menjadi Rp 39,63 triliun dari semula Rp 35,54 triliun pada periode nan sama tahun lalu. Pencapaian tersebut mendorong pendapatan kembang bersih naik 4,87% yoy menjadi Rp 28,73 triliun.

BBRI

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Tbk (BBRI) mencatatkan untung periode kuartal pertama Rp 13,8 triliun. Angka ini turun 13,63% dibandingkan periode nan sama tahun lampau atau year on year (yoy) Rp 15,88 triliun pada kuartal I 2024. 

Margin kembang namalain net interest margin (NIM) turun dari 6,71% menjadi 6,28%. Namun beban kembang membaik dari Rp 14,11 triliun menjadi Rp 13,99 triliun. Pendapatan kembang konsolidasi pun turun 1,52% menjadi Rp 49,83 triliun. Pendapatan kembang bersih melorot 1,75% menjadi Rp 35,85 triliun.

Selengkapnya
Sumber
-->