Dunia Menanti Respons Iran Pasca As Menyerang Situs Nuklir Fordow

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

ILUSTRASI. Dunia bersiap menanti respons Iran setelah AS menyerang situs nuklir utama Iran. Teheran berjanji untuk mempertahankan diri dengan segala cara. MAXAR TECHNOLOGIES/Handout via REUTERS

Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

CEKLANGSUNG.COM -  ISTANBUL. Dunia bersiap menanti respons Iran setelah AS menyerang situs nuklir utama Iran.

Mengutip Reuters, Senin (23/6), sehari setelah AS menjatuhkan peledak penghancur bunker seberat 30.000 pon ke gunung di atas letak nuklir Fordow milik Iran, Teheran berjanji untuk mempertahankan diri dengan segala cara. 

Para pemimpin Amerika mendesak Teheran untuk mundur, dan sejumlah pengunjuk rasa antiperang mulai turun ke jalan di kota-kota AS.

Dalam sebuah posting di platform Truth Social pada hari Minggu (22/6), Presiden AS Donald Trump memtelaah masalah pergantian rezim di Iran. 

Baca Juga: Iran Mengsaya Tak Ada Bahan Radiasi Nuklir di Target Pengeboman AS

"Tidaklah tepat secara politis untuk menggunbakal istilah, 'Pergantian Rezim,' tetapi jika Rezim Iran saat ini tidak bisa membikin Iran dahsyat lagi (Make Iran Great Again), kenapa tidak ada pergantian Rezim??? MIGA!!!" tulisnya.

Laporan media Iran menyebutkan, Iran dan Israel terus saling serang dengan rudal, dengan sebuah ledbakal di Iran barat nan merenggut nyawa enam personel militer. Sebelumnya, Iran menembakkan rudal nan melukai banyak orang dan meratbakal gedung di Tel Aviv.

Departemen Luar Negeri AS memerintahkan personil family tenaga kerja untuk meninggalkan Lebanon dan menyarankan penduduk di tempat lain di wilayah tersebut untuk tidak menonjolkan diri alias membatasi perjalanan.

Sebuah peringatan dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS memperingatkan tentang "lingkungan anckondusif nan meningkat di Amerika Serikat." 
Penegak norma di kota-kota besar AS meningkatkan patroli dan mengerahkan sumber daya tambahan ke tempat-tempat keagamaan, budaya, dan diplomatik.

Air France KLM mengatbakal telah membatalkan penerbangan ke dan dari Dubai dan Riyadh pada hari Minggu dan Senin, sebagai tkamu akibat nan lebih luas dari serangan tersebut.

Teheran sejauh ini belum menindaklanjuti anckondusif pembargumen terhadap Amerika Serikat - baik dengan menargetkan pangkalan AS alias mencoba memutus pasokan minyak global.

Baca Juga: Trump Sesumbar Bom Jatuh di Fordow, Lokasi Utama Nuklir Iran

Berbicara di Istanbul, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatbakal negaranya bakal mempertimbangkan semua kemungkinan tanggapan. 

Menurutnya, tidak bakal ada kembalinya diplomasi sampai mereka membalas.

"AS menunjukkan bahwa mereka tidak menghormati norma internasional. Mereka hanya mengerti bahasa anckondusif dan kekerasan," katanya.

Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, mengatbakal di X bahwa inisiatif tersebut "sekarang berada di pihak nan bermain cerdas, menghindari serangan membabi buta. Kejutan bakal terus berlanjut!"

Trump, dalam pidato nan disiarkan televisi, menyebut serangan itu sebagai "keberhasilan militer nan spektakuler" dan membanggbakal bahwa akomodasi pengayaan nuklir utama Iran telah "dihancurkan sepenuhnya."

Namun, pejabatnya sendiri memberikan penilaian nan lebih bernuansa, selain foto satelit nan tampak menunjukkan kawah di gunung di atas pabrik bawah tanah Iran di Fordow, dan belum ada penghitungan publik tentang kerusbakal tersebut.

Penghati-hati nuklir PBB, Badan Energi Atom Internasional, mengatbakal tidak ada peningkatan tingkat radiasi di luar letak nan dilaporkan setelah serangan AS.

Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mengatbakal kepada CNN bahwa belum mungkin untuk menilai kerusbakal nan terjadi di bawah tanah. 

Seorang sumber senior Iran mengatbakal kepada Reuters bahwa sebagian besar uranium nan sangat diperkaya di Fordow telah dipindahkan ke tempat lain sebelum serangan itu. Reuters tidak dapat segera menguatkan klaim tersebut.

Trump, nan beranjak antara menawarkan untuk mengakhiri perang dengan diplomasi alias berasosiasi sebelum akhirnya melanjutkan pertaruhan kebijbakal luar negeri terbesar dalam kariernya, meminta Iran untuk tidak melakukan pembargumen apa pun. 

Ia mengatbakal pemerintah "harus berbaikan sekarang" alias "serangan di masa mendatang bakal jauh lebih besar dan jauh lebih mudah."

Wakil Presiden AS JD Vance mengatbakal Washington tidak bertempur dengan Iran tetapi dengan program nuklirnya, menamapalagi bahwa perihal ini telah ditunda dalam waktu nan sangat lama lantaran intervensi AS.

Dalam sebuah langkah menuju  anckondusif Iran nan paling efektif untuk menyakiti Barat, parlemennya menyetujui langkah untuk menutup Selat Hormuz. Hampir seperempat pengiriman minyak dunia melewati perairan sempit nan dibagi Iran dengan Oman dan Uni Emirat Arab.

Baca Juga: Donald Trump Kabarkan AS Telah Menjatuhkan Bom di 3 Situs Nuklir Iran

Siaran Pers Iran mengatbakal penutupan selat tersebut bakal memerlukan persetujuan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, sebuah badan nan dipimpin oleh orang nan ditunjuk oleh Khamenei.

Upaya untuk membendung minyak Teluk dengan menutup selat tersebut dapat menyebabkan nilai minyak dunia meroket, menggagalkan ekonomi dunia, dan nyaris pasti mengundang bentrok dengan Armada Kelima Angkatan Laut AS nan bermarkas di Teluk dan bekerja menjaga selat tetap terbuka.

Para master keamanan telah lama memperingatkan bahwa Iran juga dapat menemukan cara-cara tidak konvensional lainnya untuk membalas, seperti pengeboman alias serangan siber.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam sebuah wawancara di "Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo," memperingatkan Iran agar tidak membdasar serangan AS.

Rubio secara terpisah mengatbakal kepada aktivitas bincang-bincang CBS "Face the Nation" bahwa AS mempunyai "target lain nan dapat kami serang, tetapi kami telah mencapai tujuan kami."

"Tidak ada operasi militer nan direncanbakal saat ini terhadap Iran," tambahnya kemudian, "kecuali jika mereka mengacau."

Dewan Keamanan PBB berjumpa pada hari Minggu untuk memtelaah serangan AS terhadap situs nuklir Iran sementara Rusia, China, dan Pakistan mengusulkan agar badan nan beranggotbakal 15 orang itu mengmengambil resolusi nan menyerukan gencatan senjata segera dan tanpa syarat di Timur Tengah.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya mengatbakal bahwa pengeboman AS di Iran menumpama perubahan nan berancaman di area tersebut dan mendesak penghentian pertempuran dan kembali ke perundingan mengenai program nuklir Iran.

Beda Tujuan

Pejabat Israel, nan memulai permusuhan dengan serangan mendadak terhadap Iran pada tanggal 13 Juni, semakin banyak berbincang tentang ambisi mereka untuk menggulingkan lembaga ustadz Muslim Syiah garis keras nan telah memerintah Iran sejak tahun 1979.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatbakal kepada wartawan Israel bahwa Israel sangat dekat dengan memenuhi tujuannya untuk menghilangkan anckondusif rudal balistik dan program nuklir di Iran.

Pejabat AS, telah menekankan bahwa mereka tidak berupaya untuk menggulingkan pemerintah Iran.

"Misi ini bukan dan tidak bakal pernah tentang perubahan rezim," kata Menteri Pertahanan Pete Hegseth kepada wartawan di Pentagon. 

"Presiden mengesahkan operasi presisi untuk menetralkan anckondusif terhadap kepentingan nasional kita nan ditimbulkan oleh program nuklir Iran."

Aktivis antiperang mengorganisir demonstrasi pada hari Minggu di New York, Washington, dan kota-kota AS lainnya, dengan para pengunjuk rasa membawa tanda-tkamu bertuliskan "jangan usik Iran".

Selanjutnya: Biaya Perpanjang SIM Murah, Cek Jadwal SIM Keliling Depok & Bogor Hari Ini 23 Juni

Menarik Dibaca: Lihat Jadwal KRL Solo-Jogja pada Senin 23 Juni 2025 di Sini




Selengkapnya
Sumber
-->