Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
CEKLANGSUNG.COM - Bursa saham dunia mengalami reli dan dolar AS melanjutkan pelemahan pada Selasa (24/6), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Iran dan Israel telah sepakat melakukan gencatan senjata, meredbakal kekhawatiran bakal gangguan pasokan minyak dan mendorong nilai minyak jatuh tajam.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatbakal bahwa gencatan senjata bakal berlsaya dalam waktu 12 jam, setelah itu perang bakal dianggap "berakhir".
Baca Juga: Robert Kiyosaki Teriakkan Peringatan: Dunia Menuju Kehancuran Keuangan Global!
Seorang pejabat senior Iran mengonfirmasi bahwa Teheran telah menyetujui gencatan senjata dengan Israel.
Sementara Channel 12 Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setuju dengan gencatan senjata dalam percakapan dengan Trump, asalkan Iran menghentikan serangannya.
Harga minyak turun nyaris 4%, setelah sebelumnya sempat ambruk 9% pada Senin ketika Iran melakukan serangan simbolis terhadap pangkalan militer AS, nan tidak menimbulkan kerusbakal berarti dan mengisyaratkan bahwa Teheran untuk sementara mengakhiri pembalasan.
Dengan meredanya anckondusif terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak vital dunia, nilai minyak mentah AS turun lagi 3,4% ke level US$ 66,24 per barel, terendah sejak 11 Juni.
“Risiko lonjbakal nilai minyak nan baru tampaknya mereda. Hal ini memberikan sentimen positif dari sisi akibat dan mengurangi anckondusif terhadap pertumbuhan global,” ujar Ray Attrill, Kepala Strategi Vdasar di National Australia Bank.
“Ini juga memberi angan bahwa tren penurunan dolar AS bisa berlanjut.”
Baca Juga: Siapa Pengganti Ayatollah Ali Khamenei? Suksesi Pemimpin Tertinggi Iran Dipercepat
Bursa Saham dan Aset Risiko Melonjak
Aset berisiko menguat, dengan futures S&P 500 naik 0,5%, dan futures Nasdaq meningkat 0,7%. Futures EUROSTOXX 50 melonjak 1,1%, sementara futures FTSE Inggris naik 0,3%.
Indeks saham MSCI untuk area Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,8%, sedangkan Nikkei Jepang reli 1,3%.
Dolar Melemah, Yen dan Euro Menguat
Kabar gencatan senjata membikin dolar AS melanjutkan pelemahan, turun 0,3% terhadap yen ke level 145,70, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi enam pekan di 148 yen. Euro naik 0,2% ke US$ 1,1594, melanjutkan kenaikan 0,5% pada hari sebelumnya.
Yen dan euro diuntungkan dari turunnya nilai minyak lantaran baik Jepang maupun Uni Eropa sangat berjuntai pada impor minyak dan gas alam cair (LNG). Sebaliknya, Amerika Serikat merupbakal eksportir bersih energi.
Baca Juga: Iran Ancam Serangan Balasan, Kedubes AS di Qatar Minta Warganya Berlindung
Indeks dolar AS terhadap mata duit utama bumi turun 0,6% pada perdagangan sebelumnya dan terakhir stagnan di level 98,20.
Obligasi AS dan Suku Bunga
Imbal hasil obligasi Treasury bertenor 10 tahun naik 1 pedoman poin menjadi 4,353%, sementara perjanjian futures suku kembang turun tipis, seiring penanammodal mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku kembang dalam waktu dekat.
Pasar obligasi sempat menguat pada Senin setelah Wakil Ketua The Fed, Michelle Bowman, mengatbakal bahwa waktu untuk memangkas suku kembang semakin dekat lantaran akibat terhadap pasar tenaga kerja mulai meningkat.
Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan berbincang di hadapan Kongres pada Selasa, namun sejauh ini dia tetap hati-hati soal potensi pelonggaran kebijbakal dalam waktu dekat.
Baca Juga: Dua Supertanker Putar Balik di Selat Hormuz, Pasokan Minyak Global Terancam
Pasar sekarang hanya memperkirbakal sekitar 22% kemungkinan The Fed bakal menurunkan suku kembang pada rapat 30 Juli mendatang.
Harga Emas Turun
Sentimen risk-on turut menekan nilai emas. Harga spot gold turun 0,6% ke US$ 3.346 per ons troi.
7 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·