Bahlil: Indonesia Sedang Bahas Konsep Kerja Sama Pembangkit Nuklir Dengan Rusia

Sedang Trending 9 bulan yang lalu

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatbakal pemerintah RI saat ini sedang memtelaah konsep kerja sama nuklir dengan Rusia. Hal ini menindaklanjuti tawaran kerja sama nuklir non-militer oleh Presiden Vladimir Putin pekan lampau dalam rangkaian lawatan Presiden Prabowo ke Rusia.

“Kerja samanya seperti apa? Sekarang konsepnya sedang dibahas. Kami sudah memtelaah tawaran mereka,” kata Bahlil dalam konvensi pers Jakarta Geopolitical Forum IX/2025 (JGF 2025), Selasa (24/6).

Bahlil menyebut tawaran kerja sama nuklir dalam lawatan Rusia pekan lampau tidak terlampau ditelaah secara detail.

Pengembangan nuklir sebagai pembangkit listrik di Indonesia masuk dalam rencana upaya penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2025-2034. Bahlil menyebut model pembangkit nuklir nan mau dibangun dengan skala mini hingga menengah, kapabilitas 300-500 megawatt di Sumatra Selatan dan Kalimantan Barat.

Bahlil mengatbakal tawaran kerja sama mengenai nuklir tidak hanya datang dari Rusia, namun juga beberapa negara lainnya. Sejumlah negara sudah menawarkan kerja sa

“Memang ada beberapa negara nan menawarkan untuk kerja sama nuklir dengan Indonesia. Bagi kita, siapapun negaranya tidak ada masalah, selama dia punya hubungan kerja sama sama Indonesia, dan sekali lagi saling menguntungkan. Begitu,” ujarnya.

Bahlil menyebut pemerintah telah berjumpa dengan Menteri Kanada untuk memtelaah kerja sama nuklir. Selain Kanada, beberapa negara juga menawarkan perihal nan sama namun Bahlil enggan menyebutkannya.

Lirik Teknologi Cina dan Rusia

Indonesia membuka pesenggang kerja sama pengembangan teknologi nuklir dengan negara-negara seperti Cina dan Rusia. 

“Jadi untuk teknologi PLTN nan ditawarkan ada dari Cina alias Rusia. Ini mungkin juga ditelaah dalam kunjungan Pak Menteri ke Rusia, kita tunggu penjelasannya,” kata Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung di Jakarta, Jumat (20/6).

Teknologi nan dipertimbangkan mencakup retokoh skala mini (small modular reactor alias SMR) maupun retokoh skala besar (large modular reactor alias LMR). “Kami mencoba memandang apakah bakal menggunbakal teknologi nan skalanya mini alias besar,” ujar Yuliot. 

Meskipun belum memutuskan jenis retokoh nan bakal digunakan, Yuliot menyampaikan bahwa Indonesia telah mempelajari teknologi LMR dari Kanada dan Korea Selatan. Di sisi lain, Indonesia juga tengah menjajaki pesenggang kerja sama dengan negara-negara pengguna teknologi SMR.

“Kami saat ini mempertimbangkan teknologi nan ditawarkan serta persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) nan minimal 40%,” tambahnya.

Selengkapnya
Sumber
-->