Beauties, pernah nggak sih merasa hati Anda mudah banget tersentuh? Entah itu komentar teman, omongan pasangan, alias apalagi drama mini di media sosial bisa langsung bikin suasana hati Anda berubah total. Kalau iya, berfaedah Anda termasuk orang nan mudah baper namalain bawa perasaan.
Tapi tenang, Beauties, mempunyai emosi sensitif itu bukan perihal nan buruk. Namun, jika terlalu sering baper, perihal itu bisa membikin Anda merasa capek secara emosional. Makanya, krusial banget buat melatih hati agar lebih kuat. Bagaimana langkah melatih hati agar nggak mudah baper? Simak!
1. Simpan Emosimu dalam

Ilustrasi menuliskan emotional journal/Freepik: freepik
Daripada curhat di media sosial nan kadang justru memperkeruh suasana, coba deh, mulai biasakan menulis jurnal emosional pribadi sebelum tidur. Ini bukan sekadar kitab harian biasa, tapi tempat kondusif untuk menumpahkan semua emosi tanpa takut dihakimi.
Dr. James Pennebaker, guru besar ilmu jiwa dari University of Texas, melalui risetnya membuktikan bahwa menulis tentang emosi dapat membantu menurunkan stres, mengurangi rasa cemas, dan memperjelas pikiran. Dengan menuliskan semua nan Anda rasakan, Anda memberi ruang pada dirimu untuk memproses emosi tanpa perlu melampiaskannya langsung ke orang lain.
Hasilnya? Kamu jadi lebih tenang, lebih sadar, dan perlahan hati pun menjadi lebih kuat menghadapi hari-hari nan emosional.
2. Tonton Film Sedih dengan Sengaja (Tapi Fokusnya Bukan untuk Baper)

Ilustrasi menonton movie sedih/Freepik: DC Studio
Menonton movie sedih rupanya bisa jadi langkah pandai untuk memperkuat empati dan mengatur ulang emosi. Dr. Dacher Keltner, seorang guru besar dari UC Berkeley, menjelaskan bahwa ketika kita memandang cerita nan menyentuh, kita merasakan hubungan emosional dengan karakter dan itu melatih empati, bukan membikin kita makin lemah. Bahkan, menurutnya, movie sedih bisa memicu emosi syukur lantaran kita jadi lebih menghargai kehidupan sendiri.
Jadi, sesekali menonton movie nan menyayat hati itu bukan perihal buruk, Beauties. Justru bisa menjadi sarana untuk menyadari bahwa emosi adalah perihal nan wajar. Kuncinya adalah menyadari tujuan menontonnya: bukan untuk menambah drama hidup, tapi sebagai ruang refleksi dan latihan empati.
3. Lakukan 'Mental Rehearsal' saat Akan Bertemu Orang nan Berpotensi Bikin Baper

Ilustrasi mental rehearsal/Freepik: benzoix
Pernah grogi alias takut duluan sebelum ketemu seseorang nan biasa bikin Anda merasa nggak nyaman? Nah, Anda bisa coba teknik mental rehearsal, yaitu melatih pikiran menghadapi situasi susah sebelum betul-betul terjadi.
Dr. Tara Swart, neuroscientist dari MIT, menyebut ini sebagai strategi nan biasa dipakai atlet ahli untuk menjaga performa dan konsentrasi mereka tetap stabil.
Dengan membayangkan respons tenang dan dewasa saat menghadapi situasi nan bikin Anda baper, otakmu bakal terbiasa memberi reaksi nan lebih kalem saat waktunya tiba. Jadi, Anda nggak bakal mudah terpancing emosi alias terbawa emosi secara berlebihan. Ini latihan nan simpel tapi powerful banget buat memperkuat mental.
4. Dengarkan Musik Klasik alias Ambient Sound Sebelum Tidur untuk Reset Emosi

Ilustrasi mendengarkan musik sebelum tidur/freepik: freepik
Musik nggak hanya buat hiburan, tapi juga bisa jadi terapi emosional. Dr. Daniel Levitin, mahir saraf sekaligus penulis buku This Is Your Brain on Music, menemukan bahwa mendengarkan musik instrumental seperti klasik alias ambient dapat menurunkan hormon stres dan membikin tubuh serta pikiran jadi lebih rileks. Khususnya jika dilakukan menjelang tidur, efeknya bisa membantu memperbaiki mood besok hari.
Kalau Anda merasa capek lantaran terlalu banyak perihal nan menguras emosi sepanjang hari, coba matikan gadget, nyalakan musik lembut, dan nikmati momen menenangkan ini. Dalam jangka panjang, rutinitas ini bisa jadi langkah efektif untuk membentuk ketahanan emosional nan lebih kokoh, lho.
5. Biasakan Mengubah Perspektif lewat Teknik 'Temporal Distancing'

Ilustrasi temporal distancing/freepik: freepik
Salah satu argumen orang mudah baper adalah lantaran terlalu larut dalam momen saat ini tanpa memandang gambaran besarnya. Teknik temporal distancing atau memandang suatu situasi dari perspektif pandang waktu di masa depan bisa jadi solusi.
Dr. Ethan Kross dari University of Michigan membuktikan bahwa ketika seseorang membayangkan gimana perasaannya terhadap masalah sekarang dalam lima alias sepuluh tahun ke depan, intensitas emosinya condong turun drastis.
Misalnya, saat Anda merasa jengkel lantaran omongan teman, tanyakan pada diri sendiri: “Apa saya tetap bakal peduli soal ini lima tahun lagi?” Pertanyaan ini bakal membikin otakmu berpikir bening dan memprioritaskan perihal nan memang penting. Hasilnya, Anda jadi lebih tahan banting secara emosional dan nggak mudah larut dalam emosi nan hanya sementara.
Tapi ingat, Beauties, membangun hati nan kuat itu butuh waktu dan latihan konsisten setiap hari. Yuk, terus belajar mengelola emosi agar hidupmu makin senang dan penuh makna!
***
Ingin jadi salah satu pembaca nan bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke organisasi pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!
(ria/ria)
9 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·