3 Sinyal Yang Sering Diabaikan Saat Hubungan Hampir Kandas

Sedang Trending 7 bulan yang lalu
  1. Home
  2. Life
  3. love & relationship

Kyla Putri Nathania | Beautynesia

Senin, 23 Jun 2025 18:30 WIB

3 Sinyal nan Sering Diabaikan Saat Hubungan Hampir Kandas

Foto: pexels.com/timur-weber

Dalam banyak hubungan, perpisahan seringkali terasa seperti terjadi tiba-tiba. Namun, menurut studi terbaru tahun 2025 nan dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology, kenyataannya tidak begitu. 

Studi ini mengkajian info lebih dari 10.000 peserta dari empat penelitian longitudinal di beberapa negara. Hasilnya menunjukkan bahwa kepuasan dalam hubungan tidak langsung ambruk begitu saja, melainkan mengalami fase penurunan berjenjang nan disebut sebagai "terminal decline".

Fase ini dimulai bertahun-tahun sebelum perpisahan benar-betul terjadi. Awalnya, terjadi penurunan perlahan (preterminal dip), lampau diikuti dengan penurunan tajam beberapa bulan sebelum akhirnya berpisah. Menariknya, penurunan ini jauh lebih terasa dibandingkan dengan penurunan kepuasan hidup secara umum, dan paling menyakitkan dirasbakal oleh pihak nan tidak menginisiasi perpisahan.

Nah, jika Anda lagi merasa ragu apakah Anda tetap memilih hubunganmu alias hanya memperkuat lantaran kebiasaan, ini dia tiga tkamu Anda mungkin sudah masuk fase pra-putus, menurut para peneliti!

1. Merasa Lega Saat Membayangkan Hidup Tanpa Pasangan

Membayangkan Hidup Tanpa Pasangan/ Foto: freepik.com/prostooleh

Sebelum putus, banyak orang mulai membayangkan tentang kebebasan. Bukan lantaran mau menyakiti pasangan, tapi lantaran mau kembali jadi diri sendiri. Menurut studi tahun 2024 nan dimuat dalam Behavioral Sciences, kelelahan emosional dalam hubungan sering kali muncul dari kurangnya self-compassion (belas kasih pada diri sendiri) dan rendahnya kepercayaan terhadap hubungan itu sendiri.

Studi ini meneliti 401 pasangan menikah dan menemukan bahwa rendahnya kebahagiaan merupbakal parameter terkuat dari burnout dalam hubungan, apalagi lebih berpengaruh dibandingkan lama pernikahan, jumlah anak, alias kondisi finansial. Artinya, kelelahan itu tidak selampau terlihat dari pertengkaran, tapi dari hilangnya daya emosional untuk memperjuangkan hubungan. 

2. Selampau Lelah, Tapi Tidak Tahu Penyebabnya

Selampau Lelah/ Foto: freepik.com

Ketika Anda terus menerus berupaya menjaga hubungan, menahan omongan demi damai, dan pura-pura baik-baik saja, tubuhmu mulai merasa capek jauh sebelum pikiranmu menyadarinya. Studi tahun 2023 dalam Family Relations menunjukkan bahwa pada pasangan nan sama-sama bekerja, kelelahan emosional sering kali berasal dari ketimpangan beban emosional dalam hubungan. 

Kelelahan ini juga terbukti punya akibat fisik. Studi tahun 2018 dalam jurnal Psychoneuroendocrinology melrandom kadar stres dan kelelahan pasangan selama lima hari, dan menemukan bahwa intertindakan negatif nan meskipun tidak sampai berujung konflik, menyebabkan kelelahan signifikan pada kedua pihak. Tubuh kita rupanya bisa “mencatat” emosi nan tidak tersalurkan. 

3. Terus Bertanya: “Haruskah Aku Pergi?”

Terus Bertanya/ Foto: freepik.com

Di fase pra-putus, Anda mulai sering mempertanybakal kenapa dulu memilih bertahan.  Terkadang, nggak ada argumen besar untuk putus, tapi juga tidak ada argumen kuat untuk tetap bertahan. Kekosongan inilah nan mulai mengganggu.

Studi tahun 2024 dari jurnal Emotion mengungkap bahwa orang nan merasa ambivalen terhadap pasangannya condong mengalami “mental whiplash” ialah beranjak dari mau dekat, lampau menjauh, lampau kembali ragu. Ambivalensi ini rupanya bisa mempengaruhi perilsaya sehari-hari, mulai dari menarik diri secara emosional hingga overthinking.

Kalau Anda mulai merasa lelah, hampa, dan bertanya-tanya apakah hubungan ini tetap layak dipertahankan, mungkin sudah waktunya mendengarkan apa kata tubuh dan hatimu. Karena kadang, nan paling jujur adalah hal-hal nan tidak Anda ucapkan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca nan bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke organisasi pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah nan pertama memberikan komentar.

Selengkapnya
Sumber
-->