Jakarta -
Siapa sih orang tua nan enggak mau anaknya sukses di masa depan? Ternyata, ada kesamaan orang tua dari anak-anak nan sukses menurut pakar, Bunda.
Seperti diketahui, kesuksesan seorang anak di masa depan dapat berjuntai dari pola asuh orang tuanya. Dalam kebanybakal kasus, orang tua apalagi bertindak sebagai role model bagi anaknya untuk gigih meraih kesuksesan.
Untuk membesarkan anak nan sukses memang bukan perkara mudah. Tapi, tak ada salahnya Bunda dan Ayah mulai mengetahui kesamaan orang tua dari anak-anak nan sukses sukses di masa depan. Setelah mengetahuinya, Bunda dan Ayah dapat menerapkan pola asuh nan terbaik untuk anak sejak dini.
Kesamaan orang tua dari anak-anak nan sukses
Melansir dari Business Insider, berikut 20 kesamaan orang tua dari anak-anak nan sukses:
1. Orang tua membiarkan anak-anaknya memimpin tugas nan mudah alias cukup sulit
Menurut sebuah studi tahun 2021 nan dipimpin oleh guru besar Stanford University, Jelena Obradovic, pengarahan orang tua nan terlampau banyak dapat membikin anak frustrasi alias menyebabkan mereka kehilangan konsentrasi pada suatu tugas. Penelitian tersebut mengameninggal anak-anak nan sedang membersihkan, bermain, alias mendiskusikan suatu masalah.
Menurut studi, anak-anak nan orang tuanya turun tangan untuk memberikan petunjuk sering kali menunjukkan kesulitan nan lebih besar dalam mengatur emosi mereka di kemudian hari. Studi tersebut lantas menyarankan orang tua kudu mengambil langkah mundur di mana mereka membiarkan anak-anaknya memimpin untuk mencari tahu langkah bermain, membersihkan, alias memecahkan masalah.
"Terlampau banyak keterlibatan langsung dapat mengorbankan keahlian anak-anak untuk mengendalikan perhatian, perilaku, dan emosi mereka sendiri. Ketika orang tua membiarkan anak-anak memimpin, perihal itu bakal melatih keahlian pengpatokan diri dan membangun kemandirian anak-anak," tulis Obradović dalam penelitian tersebut.
2. Orang tua membiasbakal anak-anaknya mengerjbakal tugas rumah
Anak nan sukses umumnya dibesarkan oleh orang tua nan terbiasa mengerjbakal tugas rumah sendiri. Di satu sisi, orang tua ini membiasbakal anak-anaknya untuk ikut mengerjbakal tugas tersebut, Bunda.
"Jika anak-anak tidak mencuci piring, itu berarti orang lain nan melakukannya untuk mereka. Jadi, mereka tidak hanya terbebas dari pekerjaan, tetapi juga dari pembelaliran bahwa pekerjaan kudu dilakukan dan bahwa setiap orang dari kita kudu berkontribusi untuk melakukan perubahan," kata penulis How to Raise an Adult, Julie Lythcott-Haims, dalam aktivitas TED Talks Live.
Lythcott-Haims percaya bahwa anak-anak nan dibesarkan dengan tugas-tugas bakal menjadi pribadi nan bisa bekerja sama dengan baik dengan rekan kerja, lebih berempati, dan bisa mengerjbakal tugas secara mandiri. "Dengan meminta mereka melakukan tugas-tugas, seperti membuang sampah alias mencuci busana sendiri, mereka menyadari bahwa saya kudu melakukan pekerjaan agar bisa menjadi bagian dari kehidupan," ujarnya.
3. Orang tua mengajarkan keahlian sosial kepada anak-anaknya
Sebuah studi tahun 2015 nan dilakukan peneliti dari Pennsylvania State University dan Duke University selama 20 tahun menunjukkan bahwa anak-anak nan kompeten secara sosial, dan dapat bekerja sama dengan kawan sebayanya tanpa disuruh, serta bisa menyelesaikan masalah sendiri, jauh lebih mungkin untuk memperoleh pendidikan lebih baik dan mempunyai pekerjaan penuh waktu pada usia 25 tahun. Data tersebut dibandingkan dengan mereka nan mempunyai keahlian sosial terbatas.
Studi nan diterbitkan di American Journal of Public Health ini juga menunjukkan, anak-anak nan mempunyai keahlian sosial terpemisah juga mempunyai pesenggang lebih tinggi untuk melakukan perbuatan jelek di masa mendatang.
"Studi ini menunjukkan bahwa membantu anak-anak mengembangkan keahlian sosial dan emosional adalah salah satu perihal terpenting nan dapat orang tua lakukan untuk mempersiapkan masa depan nan sehat," kata kepala program di Robert Wood Johnson Foundation, Kristin Schubert.
4. Orang tua condong mempunyai ekspektasi nan tinggi
Tidak apa untuk mempunyai ekspektasi tinggi sebagai orang tua. Stud nan diterbitkan dalam jurnal Pediatrics tahun 2015 menemukan, ekspektasi nan dimiliki orang tua terhadap anak-anaknya mempunyai pengaruh nan besar terhadap prestasi, Bunda.
"Orang tua nan memandang perguruan tinggi sebagai masa depan anak mereka tampaknya mengarahkan anak mereka untuk mencapai tujuan itu tanpa mempedulikan pendapatan dan aset nan dimiliki," ujar guru besar di University of California, Neal Halfon.
5. Orang tua mempunyai hubungan nan sehat
Menurut tinjauan studi nan dilakukan University of Illinois, anak-anak dalam family nan penuh konflik, baik nan utuh maupun nan bercerai, condong bernasib lebih jelek daripada anak-anak dari orang tua nan akur. Beberapa studi juga telah menemukan, anak-anak dibesarkan oleh orang tua tunggal nan tidak berkonflik bernasib lebih baik daripada anak-anak dalam family dengan dua orang tua nan berkonflik.
Konflik antara orang tua sebelum perceraian juga berakibat negatif pada anak-anak. Sementara itu, bentrok pasca-perceraian mempunyai pengaruh nan kuat dalam penyesuaian hidup anak-anak.
6. Orang tua mempunyai latar pendidikan nan tinggi
Sebuah studi tahun 2014 nan dipimpin oleh psikolog University of Michigan, Sandra Tang, menemukan bahwa ibu nan menyelesaikan sekolah menengah atas alias perguruan tinggi lebih mungkin membesarkan anak-anak untuk mencapai pendidikan nan sama.
Sementara dalam sebuah studi longitudinal tahun 2009 nan dilakukan psikolog dari Bowling Green State University, Eric Dubow, menemukan bahwa tingkat pendidikan orang tua saat anak berumur 8 tahun secara signifikan memprediksi keberhasilan pendidikan dan pekerjaan anak 40 tahun kemudian.
7. Orang tua mengajarkan matematika ke anaknya sejak dini
Sebuah studi meta-kajian tahun 2007 nan diterbitkan dalam Society for Research in Child Development menemukan bahwa mengembangkan keahlian matematika anak sejak awal dapat memberikan untung nan besar di masa bakal datang.
"Penguasaan keahlian matematika awal tidak hanya memprediksi pencapaian matematika di masa depan, tetapi juga memprediksi pencapaian membaca di masa depan," kata peneliti Greg Duncan.
8. Orang tua mengembangkan hubungan baik dengan anak-anaknya.
Orang tua pada dasarnya merupbakal pengasuh nan peka. Bila mereka bisa merespons sinyal anak dengan sigap dan tepat, maka mereka bisa memberikan dasar nan kondusif bagi anak-anak untuk menjelajahi dunia.
"Hal tersebut menunjukkan bahwa investasi dalam hubungan orang tua dan anak di masa awal dapat menghasilkan untung jnomor panjang nan terakumulasi sepanjang hidup si anak," psikolog di University of Minnesota, Lee Raby.
9. Orang tua tidak terlampau stres
Stres nan dialami orang tua, terutama ibu, dapat memengaruhi anak-anak di masa depan. Penularan emosi dapat menjadi kunci utama dalam perihal ini.
Penelitian menunjukkan bahwa jika seseorang bahagia, kegembiraan itu bakal menular pada sekitarnya. Sebaliknya, jika dia sedih, kesurkondusif itu juga bakal menular. Jadi, jika orang tua kelelahan alias frustrasi, keadaan emosional itu dapat menular ke anak-anaknya.
10. Orang tua lebih mementingkan upaya dibanding menghindari kegagalan
Cara pandang orang tua ketika menganggap kemauan bisa memengaruhi kemampuan, rupanya mempunyai pengaruh nan kuat pada anak-anak. Jika anak-anak diberi tahu bahwa mereka lulus ujian lantaran kepintaran bawaan, perihal itu menciptbakal pola pikir nan 'tetap'.
Sebaliknya, jika anak disebut sukses meraihnya lantaran usaha, perihal itu bakal mengajarkan pola pikir nan 'berkembang'.
Ilustrasi orang tua dan anak/ Foto: iStock
11. Ibu bekerja dapat memengaruhi kesuksesan anak
Menurut penelitian dari Harvard Business School, ada faedah signifikan bagi anak-anak nan tumbuh dengan ibu nan bekerja di luar rumah. Penelitian tersebut menemukan bahwa anak wanita dari ibu nan bekerja bakal menjalani pendidikan lebih lama, , lebih mungkin mempunyai pekerjaan tinggi, dan memperoleh lebih banyak uang.
Anak laki-laki dari ibu nan bekerja juga condong lebih mandiri. Mereka jadi lebih terbiasa mengerjbakal pekerjaan rumah tangga dan bisa mengasuh anaknya di masa bakal datang.
12. Orang tua mempunyai sifat berwibawa
Orang tua nan berkarisma dianggap ideal. Mereka nan menerapkan sifat ini dapat membesarkan anak dengan rasa hormat terhadap otoritas, tetapi tidak merasa dikekang oleh perihal tersebut.
Sebaliknya, orang tua nan otoriter bisa memcorak perilsaya anak nan jelek di masa bakal datang. Orang tua dengan sifat ini condong suka mengendalikan anak berasas standar perilsaya nan ditetapkan, sehingga anak merasa seperti dikekang.
13. Orang tua nan gigih
Anak nan sukses dapat berasal dari didikan orang tua nan gigih, Bunda. Kegigihan adalah sifat kepribadian nan kuat dan mendorong untuk kesuksesan.
Mereka nan gigih mempunyai kecenderungan untuk mempertahankan minat dan upaya untuk meraih tujuan jnomor panjang. Bila orang tua memberikan contoh kegigihan ini, maka anak dapat berkomitmen untuk melakukannya demi mencapai kesuksesan.
14. Orang tua tidak menerapkan kontrol psikologis
Menurut studi longitudinal dari University College London, kontrol psikologis orang tua terhadap anak-anaknya memainkan peran krusial dalam kepuasan hidup dan kesejahteraan mental. Anak nan orang tuanya menerapkan kontrol psikologis lebih besar menunjukkan kesejahteraan mental nan jauh lebih rendah sepanjang kehidupan dewasanya.
Contoh kontrol psikologis seperti tidak mengizinkan anak-anak membikin keputusan sendiri, mengganggu privasi mereka, menumbuhkan rasa ketergantungan anak dengan orang tuanya, dan membikin anak merasa bersalah untuk melakukan apa nan mereka inginkan.
15. Orang tua memahami pentingnya nutrisi anak
Anak-anak nan sukses di masa depan menyadari bahwa kebiasaan mbakal nan baik dapat membantunya tetap konsentrasi dan produktif sepanjang hari. Menurut psikolog klinis family dan anak, Dr. Catherine Steiner-Adair, mengembangkan kebiasaan mbakal pada anak-anak nan sehat secara mental dan bentuk memerlukan keterlibatan dari orang tua.
Itu artinya, orang tua perlu menjadi role model dalam membangun kebiasaan mbakal nan sehat dan sikap positif terhadap makanan. Hal tersebut dapat membantu anak-anak mengembangkan rasa penerimaan terhadap gambaran diri nan positif terhadap tubuhnya.
16. Orang tua bersikap setara ketika sedang berkonflik di depan anak
Ketika anak-anak menyaksikan bentrok ringan hingga sedang nan melibatkan dukungan, kompromi, dan emosi positif di rumah, mereka belajar keahlian sosial, nilai diri, dan keamanan emosional nan lebih baik. Hal itu dapat membantu mengembangkan hubungan nan baik antara orang tua dan anak dan seberapa baik prestasi anak di sekolah.
"Ketika anak-anak menyaksikan pertengkaran dan memandang orang tua menyelesaikannya, mereka sebenarnya lebih senang daripada sebelum mereka melihatnya. Itu meyakinkan anak-anak bahwa orang tua dapat menyelesaikan masalah," kata psikolog E. Mark Cummings.
17. Orang tua tidak mempermasalahkan ketika anaknya gagal
Salah satu tren terbaru dalam membesarkan anak adalah menerapkan pola asuh nan terlampau ketat alias mengatur kehidupan anak secara mendetail sehingga mereka tidak pernah mengalami kegagalan. Salah satu aspek nan paling merusak dari pengdidikan nan terlampau ketat adalah bahwa perihal itu dapat bersambung hingga dewasa.
"Intinya adalah mempersiapkan anak untuk menapaki jalannya, bukan mempersiapkan jalan untuk anak," katanya," ungkap Lythcott-Haims.
18. Orang tua tidak membiasbakal anaknya menonton TV dalam waktu lama
Menurut studi tahun 2011 dari Ohio State University, anak-anak nan menonton televisi di usia muda condong mempunyai keahlian komunikasi nan rendah. Menonton TV juga dapat mengurangi jumlah komunikasi antara orang tua dan anak, Bunda.
Studi tersebut menemukan bahwa membaca jauh lebih kondusif untuk komunikasi orang tua dan anak. "Menonton TV bersama-sama menghasilkan lingkungan komunikasi nan relatif merugikan bagi anak-anak kecil, sementara membaca kitab bersama-sama mendorong pertukaran pikiran nan efektif," kata para penulis studi.
19. Orang tua membebaskan anak mengambil keputusan
Menurut konselor kesehatan mental, Laura JJ Dessauer, tidak membiarkan anak mengambil keputusan dapat mengubah mereka menjadi orang dewasa nan mempunyai sifat berjuntai dengan orang lain. Hal tersebut tentu perlu dihindari dalam pola pengdidikan untuk menciptbakal anak sukses di masa depan.
"Membuat setiap keputusan untuk anak, termasuk busana nan mereka kenakan, kapan mereka mengerjbakal pekerjaan rumah, dan dengan siapa mereka dapat bermain, dapat menghilangkan kemauan anak untuk mengambil keputusan. Seiring bertambahnya usia, mereka condong terjebak dalam hubungan di mana orang lain nan mempunyai kendali lebih besar," ungkap Dessauer di Psychology Today.
20. Orang tua mengajarkan anak tentang pengendalian diri
Jika anak mempunyai rasa pengendalian diri nan baik, maka mereka condong lebih sehat dan merasa aman. Menurut sebuah studi selama 32 tahun nan diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, orang tua nan memastikan anak-anaknya dapat mengendalikan diri terbukti membesarkan anak-anak nan lebih stabil.
Anak-anak tersebut tak hanya menjadi sehat secara mental dan fisik, tetapi juga cukup secara finansial, tidak terlibat dalam perilsaya kriminal, dan tidak mempunyai masalah penyalahgunaan unsur terlarang.
Demikian 20 kesamaan orang tua dari anak-anak nan sukses menurut pakar. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda nan mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)
7 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·