Indonesia dikenal sebagai negeri nan kaya bakal warisan budaya dan tradisi nan berasal dari nenek moyang. Sampai saat ini, salah satu kekayaan budaya nan tetap terus hidup adalah cerita rakyat.
Kemudian cerita ini telah diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan moral dan pelestarian nilai-nilai luhur masyarakat. Setiap wilayah di Nusantara mempunyai cerita rakyatnya masing-masing nan menggambarkan kearifan lokal, budaya istiadat, serta pandangan hidup masyarakat setempat.
Mulai dari legenda nan menceritbakal asal-usul suatu tempat, hingga dongeng nan penuh pesan moral dan tokoh-tokoh ajaib, cerita rakyat menjadi gambaran kekayaan khayalan dan sejarah bangsa Indonesia. Cerita rakyat pendek sering kali menjadi pilihan terkenal untuk dibacbakal kepada anak-anak lantaran bahasanya nan sederhana dan isinya nan pbudaya makna.
Cerita ini juga membantu mengenalkan anak-anak pada keberagkondusif budaya Indonesia sejak dini. Tak jarang, cerita-cerita ini mengandung nilai-nilai universal seperti kejujuran, keberanian, dan kerja keras.
Setiap cerita dipilih lantaran karakter latar, tokoh, maupun pesan moral nan di kandungnya. Melalui cerita-cerita ini, Si Kecil dapat menjelajahi kekayaan budaya Indonesia tanpa kudu beranjak dari kasur.
20 Contoh cerita rakyat pendek dari beragam wilayah di nusantara
Simak kumpulan cerita rakyat dari daerah-daerah di Indonesia berikut ini ya, Bunda.
1. Cerita rakyat Indonesia, Danau Toba dari Sumatera Utara
Cerita rakyat terkenal asal Sumatera Utara berikut dikutip dari kitab Dongeng Nusantara, penerbit Bestari (2009).
Pada zkondusif dahulu, di sebuah desa di Sumatera Utara hiduplah seorang petani berjulukan Toba. Ia bekerja sebagai petani dan menangkap ikan. Setiap sore selesai menggarap ladang, dia menuju sungai dekat rumahnya. Namun hari itu kebaikan sial, seharian dia duduk di tepi sungai, tak seekor pun ikan mau menyantap umpan kailnya.
Toba sangat jengkel dan mulai putus asa. Akhirnya dia memutuskan pulang. Anehnya, baru saja bakal bangkit, tiba-tiba kailnya ditarik ke dasar sungai. Karena tarikannya terasa berat, dia percaya bakal menangkap ikan besar. Benar saja, setelah dia angkat, seekor ikan mas sebesar paha manusia menggelepar-gelepar di hadapannya. Betapa senangnya Toba. Segera dibawanya ikan tersebut pulang.
Sesampainya di rumah, sebuah keajaiban terjadi. Ketika dia hendak memotong ikan itu, tiba-tiba ikan tersebut dapat berbicara. “Tolong jangan bunuh aku. Nanti saya bakal membantu kehidupanmu.”
Toba terheran-heran. “Tapi saya lapar. Aku butuh lauk untuk mbakal hari ini.” Kata Toba.
“Nanti bakal ku sedibakal makanan untukmu. Lepaskanlah aku.” Jawab ikan itu mengiba. Toba nan iba padanya akhirnya melepaskan kembali ikan tersebut ke sungai.
Ajiab. Setibanya di rumah, terhidang makanan komplit di meja. Bahkan di dapur ada seorang wanita ckuno jelita nan sedang memasak.
“Terima kasih kau telah menolongku. Aku adalah wanita jelmaan ikan itu. Sekarang saya mengabdi kepadamu,” ujarnya. Wanita tersebut rupanya merupbakal seorang putri nan dikutuk menjadi ikan.
Beberapa waktu kemudian, Toba mau sekali menikahi wanita ckuno itu. Wanita itu setuju namun dia mengusulkan sebuah syarat.
“Jangan sekali-sekali kau mengatbakal asal-usulku dari mana, sekalipun kepada anak kita nanti. Bila kau langgar maka bakal terjadi sebuah bencana.” Toba menyanggupi perihal tersebut.
Tidak lama, mereka kemudian dikaruniai seorang anak laki-laki nan diberi nama Samosir. Mereka hidup bahagia. Tetapi lantaran Samosir hidup dimanja, dia tumbuh menjadi anak nan malas. Bahkan tingkahnya condong nakal.
Suatu hari, ibunya menyuruh Samosir untuk mengantarkan nasi untuk ayahnya. Karena dipaksa, kali ini Samosir mau melaksanakannya. Namun di tengah jalan, dia merasa lapar dan membakal makanan tersebut.
Di sisi lain, Toba nan merasa lapar tak sabar menanti-nanti. Berkali-kali dia menengok ke ujung jalan, dan ketika Samosir datang dia hanya menyerahkan nasi sisa. Betapa marahnya Toba, “Anak kurang ajar. Berani betul kau memberi ayahmu nasi sisa! Dasar anak keturunan ikan!”
Lalu dipukulnya Samosir hingga dia menangis. Samosir kemudian segera pulang dan menemui ibunya dan mengadukan apa nan terjadi.
Ibunya terperanjat. Tiba-tiba petir menyambar langit. Seketika angkasa menggelap. Cepat-cepat wanita itu menyuruh Samosir naik ke bukit paling tinggi.
“Cepatlah Nak! Selamatkan dirimu!” teriaknya. Samosir segera berlari menuju bukit. Lalu turunlah hujan banget lebatnya. Wanita itu segera terjun ke dalam sungai dan kembali berubah menjadi ikan.
Sungai mendadak bergolak. Toba ketakutan, dan teringatlah dia pada janjinya nan sudah dia langgar. Tapi sudah terlambat, air sungai terus meluap dan menenggelamkan seluruh desa. Lama-kelamaan genangan air itu memcorak sebuah waduk berjulukan Danau Toba. Sedangkan pulau di tengah-tengahnya dinambakal Pulau Samosir.
2. Cerita legenda Roro Jonggrang, Prambanan dari Yogyakarta
Dahulu, terdapat kerajaan berjulukan Prambanan nan dipimpin oleh Prabu Baka. Ia mempunyai putri berjulukan Roro Jonggrang. Rakyat merasa sejahtera di bawah kerajaan tersebut.
Berbeda dengan Kerajaan Prambanan, Kerajaan Pengging mempunyai raja nan buruk. Ia suka bertempur dan memperluas wilayah kekuasaannya. Raja Pengging pun mempunyai ksatria berjulukan Bandung Bondowoso.
Tak hanya kuat, dia juga sakti. Suatu hari dia diperintahkan untuk menaklukkan Kerajaan Prambanan. Usaha penaklukan pun sukses dilakukan. Raja Baka tewas, Kerajaan Prambanan pun jatuh pada Kerajaan Pengging.
Tersisa Roro Jonggrang nan rupanya disukai oleh Bandung Bondowoso. Usai kalah, dia malah dipinang oleh Bandung Bondowoso untuk jadi pramaisurinya.
Roro Jonggrang sebenarnya tak mau menerima, tapi di sisi lain iba dengan rakyat Kerajaan Prambanan. Alhasil, Roro Jonggrang memberikan syarat untuk dibuatkan 1.000 candi dan 2 sumur dalam semalam. Ternyata, Bandung Bondowoso menyanggupi. Dengan pasukannya, dia nyaris sukses membangun candi dalam semalam.
Tapi, dia kandas membangun ke-1.000 lantaran pasukannya mengira hari sudah pagi usai mendengar bunyi ayam berkokok. Rupanya, upaya Bandung digagalkan oleh Roro Jonggrang. Mengetahui Roro Jonggrang nan mencuranginya, akhirnya putri raja itu akhirnya dikutuk menjadi candi nan ke-1.000.
3. Cerita Rakyat Malin Kundang, dari Sumatera Barat
Dongeng rakyat nusantara nan terkenal berjudul Malin Kundang berikut dikutip dari buku Cerita Rakyat Nusantara 34 Provinsi oleh Penerbit Ruang Kata Imprint Kawan Pustaka (2017).
Alkisah di wilayah pesisir pantai wilayah Sumatera, hiduplah Ibu Rubayah dan anaknya berjulukan Malin Kundang. Suami Ibu Rubayah sudah lama meninggalkan mereka dan tak pernah kembali sejak itu.
Malin Kundang dan ibunya hidup sederhana berbekal berdagang kue di pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kelak jika sudah besar saya mau merantau. Aku kudu mengubah nasib!” kata Malin Kundang suatu hari.
Ketika menginjak remaja, sebuah kapal besar merapat di pantai. Malin terkagum-kagum memandangnya. Hari itu juga dia pamit pada ibunya untuk ikut dalam kapal itu.
Ibu Rubayah semula melarangnya. “Ini kesempatan baik bagi saya, Ibu!” ujar Malin Kundang. “Belum tentu setahun sekali ada kapal besar singgah di sini.” Lanjutnya.
Akhirnya dengan berat hati, Ibu Rubayah mengizinkannya. Air matanya berlinang saat mengantarkan Malin Kundang menaiki kapal itu. Tak lupa dia membekali tiga balut nasi untuk bekal di perjalanan.
Ketika kapal berangkat, Ibu Rubayah hanya bisa melambaikan tangannya sembari menangis hingga kapal itu menghilang di kejauhan.
Bertahun-tahun berlampau dengan cepatnya. Setiap hari Ibu Rubayah memandang ke laut berambisi anaknya pulang. Tapi tak ada kapal besar merapat ke pantai.
Kabar Malin Kundang pun tak jelas, Ibu Rubayah pun semakin tua.
Tapi dengan setia, dia tetap datang ke pantai setiap hari menantikan anaknya pulang.
Hingga suatu hari tersiar berita dari seorang nakhoda kapal bahwa Malin Kundang telah kaya raya dan menikah dengan gadis ckuno putri seorang bangsawan. Betapa bahagianya hati Ibu Rubayah mendengar perihal tersebut.
Kemudian tak lama setelah itu, sebuah kapal besar dan mewah merapat di pantai. Orang-orang ramai menyambut, itulah kapal Malin Kundang.
Di anjungan kapal, Malin Kundang menggandeng tangan wanita ckuno berpakaian gemerlapan.
Ibu Rubayah menguak keramaian dan berupaya menemui anaknya. “Malin, anakku!” serunya.
Namun Malin Kundang tak menggubrisnya, istrinya apalagi meludah memandang Ibu Rubayah. “Cuih! Perempuan jelek inikah ibumu? Mengapa kau bohong padaku? Bukankah kau dulu berbicara bahwa ibumu bangsawan sederajat dengan kami?”
Betapa malunya Malin Kundang mendengar perkataan istrinya itu. Apalagi setelah memandang busana Ibu Rubayah nan dekil dan compang-camping.
Untuk menutupi rasa malunya, dia berbicara “Bukan, dia bukan ibukku!” lampau diusirnya Ibu Rubayah dengan kasar.
“Hei, wanita dekil! Enyah kau dariku! Ikitab tidak melarat sepertimu!” apalagi Malin Kundang sampai menendang ibunya.
Setelah itu, Malin Kundang memerintahkan anak buahnya agar kembali berlayar. Betapa sedih hati Ibu Rubayah. Ia menangis sembari meratap, “Ya Tuhan, jika dia memang anakku, saya minta keadilan-Mu!”
Tak lama kemudian, tiba-tiba turunlah hujan angin besar banget dahsyatnya. Kapal Malin Kundang disambar petir dan pecah dihantam gelombang besar.
Pecahan kapalnya menyebar ke tepi. Setelah terang, tampak sebongkah batu menyerupai manusia terdampar di pinggir pantai. Itulah tubuh Malin Kundang nan dikutuk menjadi batu.
4. Cerita Legenda Batu Menangis
Dongeng ini berasal dari Kalimantan. Berkisah tentang seorang gadis nan cantik, namun perilakunya tak seelok rupanya. Ia merupbakal anak dari seorang wanita nan merupbakal ibu tunggal dan pekerja keras.
Suatu saat, gadis itu diajak ibu pergi ke pasar nan jaraknya jauh dari rumah. Mereka kudu melewati desa-desa untuk mencapainya. Lagi-lagi, gadis itu sibuk memamerkan kecantikannya di depan masyarakat desa.
Parahnya, dia bergaya seperti majikan, sementara dia menganggap ibu seperti pembantunya. Setiap kali ditanya warga, dia hanya membdasar bahwa ibu adalah pembantunya. Sekali, dua kali, ibu tetap tegar.
Tapi, begitu gadisnya mendusta berkali-kali, hatinya sakit. Kerja keras dan keberadaannya seolah tak dianggap. Sampai akhirnya, ibu berakhir dan bermohon agar gadisnya diberi pelajaran.
Gadis itu kemudian merasa aneh, kakinya ksaya dan terkejut memandang kakinya berubah jadi batu. Rupanya ibu mengutuknya. Baru separuh badan menjadi batu, gadis itu memohon ampun. Tapi, sudah terlambat. Sampai dia menangi-nangis, kutukan itu berlanjut. Hingga jadi batu pun, air mata sang gadis tetap berlinang. Begitu lah asal-usul legenda Batu Menangis.
5. Cerita Rakyat Sangkuriang nan berasal dari Jawa Barat
Cerita Rakyat asal Jawa Barat berikut berjudul Sangkuriang dikutip dari Sangkuriang Seri Cerita Rakyat Nusantara, penerbit JP Books (2012).
Setelah tinggal di istana bertahun-tahun, Dayang Sumbi memutuskan hidup menjadi pertapa di tengah hutan. Ia ditemani anjing berjulukan Tumang.
Tumang adalah pangeran dari Kayangan nan dikutuk menjadi anjing. Untuk mengisi waktu luang, Putri Kerajaan Parahyangan berparas ckuno itu menenun kain. Ketika sedang enak-enak menenun, tiba-tiba perangkat pintal benangnya terjatuh. Karena mdasar mengambil, Dayang Sumbi berkata, “Siapa nan mau mengambilkan perangkat pintalku, jika dia wanita bakal kujadikan adikku. Jika dia laki-laki, kujadikan suamiku!”
Si Tumang mendengar perkataan Dayang Sumbi. Segera diambilkannya perangkat pintal itu. Betapa terkejutnya Dayang Sumbi setelah mengetahui nan menyerahkan perangkat itu adalah anjingnya. Tapi dia tidak dapat mengelak dari janjinya hingga mau tidak mau menikah dengan Si Tumang.
Setelah mendapat tawaran untuk menikah, Tumang dapat berubah bentuk menjadi manusia. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak laki-laki berparas tampan dan diberi nama Sangkuriang.
Suatu hari Dayang Sumbi mau sekali mbakal hati rusa. disuruhnya Sangkuriang mencarikannya. Ditemani Si Tumang, Sangkuriang berburu ke hutan. Seharian dia berjalan, tak juga menemukan rusa. Karena putus asa dipanahnya Si Tumang dan diambilnya hatinya.
Ia tidak tahu jika anjing itu ayahnya. Sampai di rumah diserahkannya hati itu pada ibunya. Dayang Sumbi langsung memasak dan memakannya. Setelah itu dia bertanya, di mana Tumang? Sangkuriang menjelaskan bahwa nan dimbakal ibunya itu adalah hati Si Tumang. Betapa marahnya Dayang Sumbi. Ia memukul kepala Sangkuriang hingga terluka.
Dengan emosi sedih Sangkuriang pergi meninggalkan ibunya. Bertahun-tahun dia mengembara berupaya melupbakal kembimbingan ibunya dengan menimba beragam pengetahuan kesaktian.
Hingga suatu hari bertemulah dia dengan wanita ckuno di tepi telaga. Wanita itu tidak lain ibunya sendiri nan oleh dewa dikaruniai wajah awet muda. Mereka sama-sama jatuh cinta dan mau menikah.
Tapi ketika memeriksa kepala Sangkuriang, sungguh terkejutnya Dayang Sumbi. Ia mengenali jejak luka itu. “Kau adalah anakku, dan saya ibumu. Tak mungkin kita menikah.” Kata Dayang Sumbi. Sangkuriang tak percaya. Ia tetap mau mengawini wanita itu lantaran terlanjut jatuh cinta.
Untuk membatalkan niat Sangkuriang, Dayang Sumbi meminta syarat. Ia mau dinikahi asal Sangkuriang bisa membuatkan telaga besar dan perahu di atas bukit dalam waktu semalam.
Lewat kesaktiannya dan dibantu ribuan jin, Sangkuriang memenuhi permintaan itu. Dayang Sumbi pun semalkondusif bermohon kepada dewa agar membatalkan niat Sangkuriang.
Doanya dikabulkan, mentari terbit lebih sigap dari biasanya hingga menggagalkan pekerjaan Sangkuriang. Karena tidak sukses menikahi Dayang Sumbi, dengan jengkel Sangkuriang menendang perahu buatannya. Perahu itu terkembali dan menutup telaga nan belum selesai lampau berubah menjadi gunung besar nan sekarang dikenal sebagai Tangkuban Perahu.
6. Cerita Legenda Situ Bagendit
Situ Bagendit adalah salah satu lokasi wisata di Kabupaten Garut. Terdapat legenda alias cerita rakyat di kembali Situ Bagendit. Dahulu, tinggal seorang wanita berjulukan Nyai Bagendit. Ia adalah wanita kaya raya berkah warisan dari mendiang suaminya.
Takut jatuh miskin, Nyai Bagendit terkenal kikir dan tak ramah pada penduduk sekitarnya. Kalau pun ada nan meminjam uang, Nyai Bagendit memberikan kembang nan tinggi. Bahkan, dia pun tega meminta suruhannya untuk perlakukan peminjam dengan kasar jika utangnya tak kunjung dibayar.
Suatu hari, datang lah kakek-kakek misterius membawa tongkat. Ia merasa haus dan meminta minum pada Nyai Bagendit. Sudah tertebak retindakan Nyai Bagendit, dia menolaknya. Ia pun masuk ke dalam rumahnya, tanpa sadar bahwa sang kakek menancapkan tongkat di pekarangan rumahnya.
Kakek tersebut kecewa dan akhirnya memutuskan pulang. Ia kemudian menarik tongkatnya dan muncul lah air dari tanah nan keluar sangat deras. Air tersebut lama-kelamaan menjadi genangan dan banjir. Di situ, Nyai Bagendit tak lagi memikirkan nyawa. Ia malah sibuk menyelamatkan kekayaan hingga akhirnya tenggelam sia-sia berbareng hartanya.
7. Cerita Rakyat Keong Mas, Legenda dari Jawa Timur
Cerita rakyat pendek berjudul Keong Mas berikut dikutip dari buku Dongeng Mini Nusantara Keong Mas, penerbit Bhuana Ilmu Populer (2013).
Dahulu kala di Kerajaan Daha, ada dua putri berjulukan Galuh Ajeng dan Candra Kirana. Galuh Ajeng iri pada Candra Kirana nan bertukar cincin dengan Pangeran Inu Kertapati.
Disuruhnya nenek sihir jahat untuk mengutuk saudaranya menjadi keong mas.
Suatu hari, seorang nenek tua mencari ikan di sungai. Bukannya ikan nan ditangkap, justru seekor keong mas nan didapat. Keong mas itu lantas dibawa pulang dan dipelihara dengan aman.
Esok harinya si nenek mencari ikan lagi. Nasib baik belum datang, si nenek pulang ke rumah dalam keadaan lapar. Namun alangkah terkejutnya ia, ketika memandang banyak makanan telah terjadi di meja makan.
Berkali-kali keajaiban ini terjadi. Hingga suatu si nenek berpura-pura pergi, lampau dia kembali dan mengintip. Ternyata, keong mas nan didapatkan itu berubah bentuk menjadi seorang putri nan cantik.
Di sisi lain, Pangeran Inu Kertapati bingung lantaran tunangannya telah hilang. Ia lantas menyamar menjadi seorang rakyat jelata untuk mencari Putri Candra Kirana. Kakek Sakti kemudian menunjukkan sang pangeran bahwa sang putri berada di Desa Dadapan.
Pangeran Inu Kertapati akhirnya sukses menemukan sang pujaan hati. Begitu mereka bertemu, kekuatan sihir pun hilang. Pangeran lantas memboyong Putri Candra Kirani ke istana dan mereka hidup senang selamanya.
8. Cerita Legenda Timun Mas dari Jawa Tengah
Dahulu, tinggal lah seorang wanita sebatang kara berjulukan Mbok Randa. Ia menginginkan seorang anak untuk menemaninya. Suatu ketika, datang raksasa dan melakukan perjanjian untuk mewujudkan kemauan Mbok Rkamu itu.
Raksasa berjanji Mbok Rkamu bakal dikaruniai anak melalui biji mentimun nan diberikan padanya. Tapi satu syarat, jika anak itu sudah berusia enam tahun, raksasa bakal menyantapnya.
Mbok Rkamu awalnya abai dengan syarat itu lantaran tak sabar mempunyai anak. Ditanamkan lah biji mentimun itu. Bak sebuah kejutan, dari sekian biji timun nan disemai, ada satu mentimun nan besar dan berwarna emas, serta di dalamnya terdapat bayi.
Bayi itu kemudian dirawat hingga besar dan diberi nama Timun Mas. Begitu menginjak enam tahun, Timun Mas tumbuh menjadi anak pandai dan cantik. Tapi, rupanya raksasa tak lupa menagih janjinya.
Raksasa datang mau menyantap Timun Mas. Tak mau menyerahkan diri, Timun Mas dibekali jarum, garam, dan terasi oleh Mbok Rkamu nan didapat dari Pertapa. Jarum nan ditebar menjadi rimba bambu, garam nan ditebar menjadi laut sehingga raksasa kewalahan mengejar Timun Mas. Terakhir, terasi menjadi lumpur nan kemudian menenggelamkan raksasa.
9. Cerita Rakyat Lutung Kasarung dari Jawa Barat
Cerita rakyat menarik berjudul Lutung Kasarung berikut dikutip dari buku Seri Cerita Rakyat Balai Pustaka: Lutung Kasarung, penerbit Balai Pustaka (2011).
Purbararang dan Purbasari adalah putri kerajaan di Jawa Barat. Meski bersaudara, sifat mereka berbeda. Purbararang sombong dan pemalas. Sebaliknya, Purbasari banget ramah dan rajin.
Purbasari tak pernah menganggap dirinya putri raja. Dia berbaur dengan siapa saja, sekalipun dengan rakyat jelata. Tak heran, rakyat mencintainya. Prabu Tapa, ayahnya pun tahu perihal itu.
Saat Prabu Tapa semakin tua, beliau menyerahkan tahta pada Purbasari. Tentu saja, perihal itu membikin Purbararang berang. “Seharusnya aku, Ayah. Aku kan anak sulung.”
Prabu Tapa lampau menjelaskan dengan penuh kasih sayang, “Bukan masalah sulung alias bungsu. Ayah memilih Purbasari lantaran memandang rakyat begitu mencintainya.”
Purbasari memerintah dengan bijaksana. Dia mewarisi segala kelembutan dan kebaikan hati ayahnya. Purbararang banget jengkel. Dia tetap tak terima. “Seharusnya, saya nan jadi ratu!” tekadnya.
Purbararang lampau merencanbakal siasat jahat untuk Purbasari agar tahta kerajaan jatuh ke tangannya.
Suatu hari terdengar teribakal dari bilik Purbasari. Prabu Tapa dan Purbararang tergopoh-gopoh mendatangi Purbasari. “Ya ampun, apa nan terjadi padamu?” tanya Prabu Tapa pilu.
Kulit tubuh Purbasari berbintik-bintik hitam. Sebagian di antaranya mengeluarkan nanah nan bau.
“Huhuhu, kenapa jadi begini?” Purbasari menangis tak mengerti. Melihat adiknya menangis, Purbararang tak kasihan. Dia malah membujuk ayahnya untuk mengasingkan Purbasari.
“Ayah, jangan-jangan ini penyakit menular. Dia kudu diasingkan! Ayah tak mau kan seluruh negeri terserang penyakit mengerikan ini?”
Mendengar perkataan kakaknya, Purbasari semakin menangis. “Jangan asingkan aku, Ayah…” Prabu Tapa bimbang. Apalagi tabib istana juga tak mengerti apa nan terjadi pada Purbasari.
“Purbararang benar. Jika ini penyakit menular, seluruh rakyat bisa terserang. Maafkan Ayah, Nak. Ini untuk kebaikan semua orang.” Kata Prabu Tapa.
Akhirnya Purbasari diasingkan ke hutan. Di sana, patih istana membuatkannya sebuah rumah sederhana. Hati Purbasari banget sedih. Namun, demi rakyatnya, dia akhirnya ikhlas.
Purbasari mulai menjalani hari-harinya di hutan. Walau tak ada nan bisa diajak berbicara, dia bisa berckamu dengan burung, semut, dan kupu-kupu. Purbasari berupaya tetap ikhlas.
Suatu pagi, Purbasari sedang memetik bunga. Tiba-tiba dari atas pohon, ada hewan berayun-ayun. “Oh ada lutung!” teriak Purbasari.
Lutung itu turun, lampau menyodorkan sebiji mangga pada Purbasari.
Purbasari banget senang. Kini dia punya teman. Meski tak bisa bicara, lutung itu banget mengerti Purbasari. Dia membantu Purbasari mencari makanan.
Dia juga mendengarkan segala keluh kesah Purbasari. Purbasari memanggil lutung itu dengan julukan “Lutung Kasarung” nan berarti lutung nan tersesat.
Sudah berbulan-bulan Purbasari tinggal di hutan. Namun penyakitnya tak sembuh juga. Ia bercermin, memandang wajahnya nan tampak mengerikan. “Duhai Tuhanku, kapan penyakitku bakal sembuh?” tanyanya pilu.
Mendengar ratapan Purbasari, Lutung Kasarung lampau memetik banyak kembang dan memberikannya pada Purbasari. “Kamu mau saya membasuh diri dengan bunga-kembang ini?” tanya Purbasari.
Lutung Kasarung mengangguk, “Percuma. Bau tubuhku terlampau busuk…” Purbasari menolak.
Namun Lutung Kasarung terus memaksa. Ia membawa Purbasari masuk ke dalam hutan. Di sana rupanya ada waduk luas nan airnya cerah dan harum. Purbasari lampau membasuh diri dengan air waduk dicampur bunga-kembang nan dipetik Lutung Kasarung.
Ajaib! Penyakit kulit Purbasari hilang! Kulitnya sekarang kembali bersih, tak berbintik.
“Terima kasih Tuhan!” Purbasari tak henti-hetinya mengucap syukur. Ia lampau berencana untuk kembali ke istana.
Ketika hendak bersiap, tiba-tiba datang sebuah kereta kencana nan bakal mengantar mereka ke istana. Sesampainya di Istana, Purbasari turun dari kereta tersebut berbareng dengan lutung kasarung.
Melihat Purbasari, Purbararang menjadi penasaran. “Bagaimana Anda bisa sembuh?”
Purbasari pun menceritbakal semuanya. Mendengar perihal tersebut, Purbararang lampau memutar otak agar Purbasari tidak kembali ke istana.
“Adikku sayang, Anda boleh kembali ke istana dan menjadi ratu dengan satu syarat, ialah Anda kudu mengalahkanku.” Purbararang mengurai rambutnya.
“Jika rambutmu lebih panjang daripadaku, Anda boleh kembali ke istana.” Purbasari pun mengurai rambutnya.
Ternyata rambutnya lebih panjang! Hidup di rimba berbulan-bulan membuatnya tak pernah memotong rambut.
Masih tak mau kalah, Purbararang lantas memberikan satu syarat lagi.
“Ini Indrajaya, suamiku. Dia tampan sekali. Jika Anda mempunyai calon suami nan lebih tampan dari dia, maka kukembalikan tahta ratu padamu.” Kata Purbararang.
Purbasari terdiam, dia tak mempunyai calon suami. Saat hendak membuka mulut, mengakui kekalahannya, tiba-tiba Lutung Kasarung menarik jari Purbasari dan menunjuk dirinya sendiri.
“Oh Anda mau jadi suamiku? Tapi Anda kan…” Purbasari berbisik bingung. Lutung Kasarung mengangguk-angguk sembari terus menunjuk dirinya.
“Calon suamiku adalah dia.” Purbasari menunjuk Lutung Kasarung.
Sontak pecahlah tawa Purbararang dan Indrajaya.
“Lutung? Calon suamimu lutung? Mana mungkin dia mengalahkan ketampanan Indrajaya!” Purbararang dan Indrajaya membalikkan tubuhnya, bersiap kembali naik ke kereta kencana.
Sebelum Purbararang melangkahkan kaki, terdengar bunyi aneh.
Ajaib! Tubuh Lutung Kasarung tiba-tiba berubah menjadi laki-laki nan jauh lebih tampan dari Indrajaya.
“Si-siapa kamu?” Purbararang ketakutan. Ia menelisik laki-laki itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Aku Lutung Kasarung, calon suami Purbasari.”
Purbasari terkejut lampau Lutung Kasarung menceritbakal asal-usulnya nan rupanya merupbakal pangeran. Saat tetap bayi, dia dikutuk oleh musuh ayahnya. Kutukan tersebut bakal lenyap jika ada wanita baik hati nan mengakuinya sebagai calon suami.
Purbararang lantas mengsaya kalah. Ia membujuk Purbasari pulang ke istana dan kembali menjadi ratu. Tak berapa lama, Lutung Kasarung datang melamar Purbasari. Mereka menikah dan hidup senang selama-lamanya.
10. Cerita Legenda Rawa Pening
Di sebuah desa berjulukan Desa Ngasem, di kaki Gunung Telomoyo, terdapat kepala desa nan dikenal bijak berjulukan Ki Sela Gondang. Ia punya putri berjulukan Endang Sawitri. Suatu saat Endang Sawitri diutus sang ayah untuk meminjam pusaka sakti nan digunbakal untuk menolak bala pada sahabatnya, Ki Hajar Salokantara.
Akan tetapi, Endang Sawitri melanggar pesan sang ayah untuk tidak meletakkan pusaka di pangkuan. Pelanggaran itu membuatnya hamil. Sang ayah kemudian memohon Ki Hajar untuk menikahi Endang demi tutupi kejelekan keluarga.
Anak nan dikandung Endang rupanya adalah seekor naga nan kemudian diberi nama Baru Klinting. Naga tersebut bisa berbicara layaknya manusia biasa. Untuk memutus petaka dari pusaka, Baru Klinting temui sang ayah dan diminta bertapa dengan melingkari gunung.
Ia kemudian menjadi manusia biasa dan turun ke desa. Ketika turun, di desa sedang ada upkegiatan merti desa. Tapi, penduduk bukan menyambut hangat malah mengusir Baru lantaran penampilannya nan compang-camping.
Beruntung, dia disambut oleh Nyai Latung, wanita tua dari desa tersebut. Baru Klinting kemudian mencari perhatian penduduk desa dengan menancapkan lidi ke lesung kayu. Ia memberi woro-woro siapa nan sukses mencabutnya. Ternyata tidak ada nan mencabutnya.
Baru Klinting pun mencabutnya, seketika keluar air dari dalam tanah. Lama-kelamaan, air tersebut menenggelamkan seluruh desa. Genangan air tersebut kemudian dikenal sebagai Rawa Pening.
11. Cerita Legenda Selat Bali
Dahulu, hiduplah seorang Brahmana di Kerajaan Daha, Kediri. Brahmana alias pemuka kepercayaan itu berjulukan Empu Sidi Mantra. Ia sangat dihormeninggal oleh masyarakat lantaran sakti mandraguna. Hidupnya tenang, damai, dan kaya raya. Ia mempunyai seorang putra nan tampan dan gagah berjulukan Manik Angkeran.
Sayangnya, Manik adalah penjudi. Ia suka bertaruh dan sialnya, sering kalah. Hingga suatu saat, dia kebingungan bayar utang dan diburu untuk dibunuh. Ia pun mengadu pada ayahnya, Empu Sidi Mantra. Kebaikan hati sang ayah membikin Manik segera bisa melunasi utangnya.
Empu Sidi Mantra kemudian meminta petunjuk dari Tuhan nan Maha Kuasa agar dia bisa melunasi utang anaknya. Saat tengah malam, dia mendengar bunyi nan sangat jelas. Ia diminta pergi ke kawah Gunung Agung dan menemui Naga Besukih, lantaran ada kekayaan karun di sana.
Sesampainya di sana, dia berjumpa Naga Besukih. Ia pun mengabulkan permintaan hartanya dengan syarat Manik kudu berakhir judi. Karena uangnya terlampau banyak tersisa, Manik pun kumat. Ia bertaruh dan kalah lagi. Kali ini, Manik nan menemui Naga Besukih, seorang diri.
Bukannya meminta dengan baik, dia malah memotong ekor Naga Besukih. Sontak naga langsung membunuh Manik. Sang ayah pun mencari putranya nan tiba-tiba menghilang. Naga Besukih kemudian mengsaya jika dia membunuh Manik. Ia bisa menghidupkan Manik lagi, dengan syarat Manik tak bisa ikut dengan ayahnya.
Di perjalanan, sang ayah menorehkan tongkat saktinya di tanah. Namun, goresan tongkatnya justru bertambah lebar hingga membikin tanah terbelah dan diisi air laut. Hingga akhirnya menjadi selat nan disebut Selat Bali.
12. Cerita Rakyat Jaka Tarub dari Jawa Tengah
Kisah mengenai Jaka Tarub berikut dikutip dari buku Jaka Tarub; Pencuri Selendang Bidadari oleh penerbit Lontar Mediatama (2019).
Di sebuah desa di wilayah Jawa, tinggallah seorang jkamu tua berbareng anak angkatnya nan diberi nama Jaka Tarub. Ia diasuh sejak mini oleh seorang seorang diri oleh sang ibu hingga menjadi pemuda tampan.
Jaka Tarub senang berburu ke hutan. Ia menangkap ikan, burung, dan menjangan. Namun hari itu seharian dia melangkah tak menjumpai seekor hewan pun. Ketika istirahat, tiba-tiba terdengar sayup-sayup bunyi wanita berckamu di tengah hutan.
Jaka Tarub mencari sumber bunyi itu. Ia terkejut memandang tujuh gadis ckuno sedang mandi di telaga. Mereka rupanya bidadari nan turun ke bumi. Jaka Tarub juga menemukan setumpuk busana di tepi telaga itu. Kemudian disembunyikannya salah satu busana tersebut.
Menjelang sore, bidadari-bidadari itu mengenbakal pakaiannya kembali. Namun ada satu bidadari nan kebingungan lantaran pakaiannya hilang. Ia mencari ke sana kemari sembari menangis.
“Maafkan kami, Nawang Wulan. Kami tak dapat menolongmu, sejenak lagi mentari tenggelam, kami harus-harus cepat-cepat pulang ke kayangan,” kata bidadari lainnya.
Bidadari berjulukan Nawang Wulan itu sedih sekali memandang teman-temannya terbang meninggalkannya. Jaka Tarub segera keluar dari persembunyiannya untuk menolong bidadari itu dan mengajaknya pulang.
Akhirnya Jaka Tarub menikahinya. Mereka hidup bahagia. Setahun kemudian mereka dikaruniai bayi wanita nan diberi nama Nawangsih.
Suatu hari Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub “Kakang, saya bakal mencuci busana di sungai. Tolong tunggu tanbakal nasiku. Jangan sekali-kali kau buka kukusannya!” Jaka Tarub merasa penasaran terhadap pesan istrinya itu.
Dibukanya kususan tersebut. Ia terkejut tatkala menemukan setangkai padi. “Oh rupanya inilah pengetahuan nan dibawa Nawang Wulan dari kayangan. Menanak nasi hanya dengan setangkai padi cukup dimbakal satu keluarga. layak selama ini padi di lumbung tak pernah berkurang” demikian pikir Jaka Tarub.
Perbuatan Jaka Tarub itu diketahui Nawang Wulan. Ia marah memandang kelancangan suaminya. Sejak itu Nawang Wulan tak dapat lagi menanak nasi dengan setangkai padi. Terpaksa dia menyuruh Jaka Tarub membuatkan peralatan penumbuk padi.
“Sekarang kita kudu bekerja keras untuk memperoleh beras.” Kata Nawang Wulan. Karena setiap hari ditumbuk, padi di lumbung sigap sekali menyusut.
Jaka Tarub menyesali perbuatannya. Suatu hari ketika sedang mengambil padi, Nawang Wulan menemukan busana di bawah lumbung.
Alangkah terkejutnya dia rupanya itu pakaiannya nan lenyap ketika mandi di telaga beberapa tahun nan lalu. Tahulah dia rupanya nan menyembunyikannya selama ini adalah Jaka Tarub.
Nawang Wulan segera mengenbakal busana itu, Jaka Tarub terkejut memandang istrinya kembali menjadi bidadari. “Kakang selama ini kau telah membohongiku. Ternyata kaulah nan mencuri pakaianku. Kini sudah waktunya saya meninggalkan mayapada. Asuhlah anak kita hingga dewasa.” Kata Nawang Wulan berpamitan.
Jaka Tarub berupaya mencegah kepergian istrinya, namun Nawang Wulan menggeleng. “Kodratku adalah bidadari, dan saya kudu kembali ke kayangan.”
Alangkah sedihnya Jaka Tarub kehilangan istrinya. Sambil menggendong anaknya dia memandang kepergian bidadari itu. Hatinya teriris saat Nawang Wulan melambaikan tangan hingga lenyap di kembali awan.
13. Kisah Asal Usul Danau Nodi dari Papua Barat
Cerita legenda ini mengisahkan tentang sepasang suami istri nan berjulukan Jinum Etew dan Yaritew nan tinggal di suatu tepi pantai berjulukan Pantai Muara Nuni. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, sepasang suami istri menangkap ikan di muara dan juga bertani nan telah tertanam beragam umbi-umbian seperti, petatas, kasbi, keladi, dan pisang.
Pada suatu hari, sang istri merasa jenuh dengan hasil mereka menangkap ikan dan berkebun. Alhasil keesokan harinya, sepasang suami istri tersebut pergi berburu memasuki rimba di Kepala Air Nuni dan langsung mendapatkan ulat nibong.
Tak lama setelahnya, mereka menemui seekor kanguru. Sang suami dengan berhati-hati mengawasi kanguru tersebut lampau dengan sigap memanahnya sampai kanguru itu mati. Suami istri ini merasa sangat senang dan langsung memutuskan untuk pulang.
Namun, di tengah perjalanan keluar hutan, Yaritew merasa lapar. Akhirnya, suami istri tersebut memutuskan untuk berakhir dan mengeluarkan hasil buruan mereka untuk kemudian dibakar. Mereka pun beristirahat di depan sebuah gua. Kemudian, sang suami segera mengumpulkan kayu-kayu.
Ketika mereka hendak membakar kanguru hasil tangkapannya, mereka memandang ulat nibong mengisap susu hewan itu. Sang istri pun melepaskan ulat nibong dari susu kanguru. Tetapi, tiba-tiba air susu kanguru tersebut tersembur keluar.
Seketika itu juga, gelap gulita menyelimuti hutan. Hujan besar disertai petir-petir menyambar tak kenal ampun, Yaritew merasa ketakutan dan menangis. Suami istri itu juga tidak bisa memandang satu sama lainnya. Di tengah kegelapan itu, petir menggelegar dengan keras dan membelah tanah. Hujan nan tak kalah lebat pun tak kunjung henti menyebabkan tempat tersebut terendam air.
Dengan susah payah, mereka berupaya merangkak ke dalam gua. Tak berselang lama, rimba tersebut tenggelam dan berubah menjadi danau. Masyarakat Suku Meyah menyebut waduk itu dengan nama Danau Nodi nan mempunyai makna menangis. Sepasang suami istri tersebut telah dikutuk oleh alam.
14. Cerita Legenda Joko Kendil dari Jawa Tengah
Alkisah di suatu desa di wilayah Jawa Tengah, ada seorang wanita tua nan dikenal dengan nama Mbok Rondho. Ia tinggal berbareng anak laki-lakinya nan berbadan mini dan jelek. Oleh lantaran itu, dia sering dipanggil dengan nama Joko Kendil. Kendil merupbakal semacam periuk nan digunbakal untuk memasak nasi.
Sebenarnya, Joko Kendil bukanlah anak kandung dari Mbok Rondho. Dia adalah putra dari Raja Asmawikana.
Raja Asmawikana mempunyai satu permaisuri dan seorang selir. Namun selirnya mempunyai sifat dengki. Ia tidak rela jika kerajaan itu nantinya diwariskan kepada anak permaisuri. Maka dari itu, setiap kali permaisuri hamil, dia bakal mencampurkan racun ke makanannya hingga permaisuri keguguran.
Hal itu akhirnya menimbulkan kecurigaan dari sang raja. Saat permaisuri kembali hamil, Raja Asmawikana menjaganya dengan sangat ketat. Kondisi tersebut membikin si selir semakin gelap mata. Ia lantas menemui seorang penyihir dan meminta agar bayi di dalam kandungan permaisuri dikutuk.
Walhasil, ketika sang permaisuri melahirkan, bayi nan dia lahirkan berparas jelek dan kepalanya mirip kendil. Meski begitu, permaisuri tetap merawat bayinya dengan sepenuh hati.
Menurut seorang peramal, untuk melepaskan sihir tersebut, sang bayi kudu dirawat oleh seorang jkamu nan tinggal di pinggir sungai di perbpemimpin kerajaan. Akhirnya, Joko kencil dirawat oleh Mbok Rondho.
Ketika Joko Kendil menginjak dewasa, desanya dikunjungi oleh raja dari negeri seberang nan membawa serta ketiga putrinya. Joko Kendil lantas jatuh cinta kepada salah satu dari ketiga putri tersebut dan meminta Mbok Rondho untuk meminangnya.
Mbok Rondho lantas menemui Raja Asmawikana dan meminta izin untuk pergi ke negeri seberang untuk meminang salah satu putri tersebut. Raja pun setuju dan dan memerintahkan pengawal untuk menemani Mbok Rondho.
Bersamaan dengan itu, raja di negeri seberang bermimpi bahwa dia mendapatkan kendi nan kemudian berubah menjadi seorang ksatria tampan setelah diserahkan ke putri bungsunya.
Singkat cerita, kehadiran Mbok Rondho dan Joko Kendil disambut dengan baik oleh raja di negeri seberang. Pinangan tersebut akhirnya diterima, Joko Kendil resmi menjadi suami dari putri bungsu sang raja. Di tengah perhelatan pesta pernikahan, Joko Kendil tiba-tiba berubah menjadi sesosok laki-laki nan sangat tampan. Akhirnya Joko Kendil terbebas dari sihir.
15. Cerita Asal Muasal Danau Lipan dari Kalimantan
Cerita legenda dari Kalimantan Timur ini bercerita tentang sebuah negeri nan berjulukan Negeri Muara Kkondusif di bawah perintah seorang ratu berjulukan Ratu Aji Bidara Putih. Banyak sekali pangeran, raja, dan juga bangsawan nan mau mempersunting sang ratu namun selampau mendapat penolakan.
Pada suatu hari, ada seorang pangeran nan berasal dari negeri China datang untuk melamar sang ratu. Kedatangan pangeran tersebut disambut hangat layaknya penyambutan tamu kerajaan lainnya. Namun, ketika memasuki aktivitas mbakal bersama, sang ratu merasa jijik dengan langkah mbakal pangeran nan terkesan rakus dan tidak memperlihatkan kehormatannya.
Setelah aktivitas mbakal berbareng selesai, sang ratu pun mengunyah sirih dan melemparkannya ke area pertempuran. Anehnya, sirih tersebut berubah menjadi lipan-lipan raksasa nan sangat banyak. Lipan-lipan tersebut menyerang para prajurit pangeran dan memcorak barisan nan siap menyerang para prajurit Raja Negeri seberang.
Melihat lipan-lipan galak nan siap menyerang, para prajurit Raja Negeri Seberang pun lari meninggalkan wilayah tersebut. Tak hanya berakhir sampai di situ, lipan-lipan tersebut mengejarnya sampai ke laut tempat para prajurit menyelamatkan diri. Serbuan lipan tersebut membikin jung mereka nan besar tenggelam di laut.
Akhirnya, binasalah mereka. Tak memerlukan waktu lama, tempat tenggelamnya jung Raja Negeri seberang juga berubah menjadi padang nan sangat luas penuh dengan semak dan menyatu dengan laut. Tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Danau Lipan.
16. Cerita Rakyat Joko Bodo berasal dari Jawa Tengah
Cerita rakyat panjang berikut bercerita tentang Joko Bodo nan dikutip dari buku Cerita Rakyat dari Jawa Tengah, penerbit Rasindo (1992).
Di sebuah desa tinggallah seorang jkamu berbareng dengan anak laki-laki tunggalnya. Anak itu banget bodoh. Oleh karena itu, dia terkenal dengan nama Joko Bodo. Walaupun begitu, si ibu banget sayang padanya.
Pada suatu hari, Joko Bodo pergi ke rimba mencari kayu. Di dalam rimba di bawah sebatang kayu nan besar, dia menemukan seorang wanita ckuno nan sedang tertidur nyenyak.
Joko Bodo kagum memandang kecantikan wanita tersebut. Tanpa berpikir panjang, Joko Bodo menggendong wanita itu dan membawanya pulang ke rumah. Setibanya di rumah, wanita itu dibaringkan di atas tempat tidur di bilik ibunya. Kemudian Joko Bodo menemui ibunya dan berbicara “Ibu, saya menemukan seorang gadis nan banget manis rupanya. Saya mau mengawininya, Ibu.”
“Di mana gadis nan engkau katakan ckuno itu sekarang, anakku?” tanya ibunya girang.
“Sekarang dia sedang tidur nyenyak di bilik Ibu. mungkin lantaran dia terlampau capek menempuh perjalanan nan jauh dari hutan.”
Siang telah berganti malam. Di luar, alam telah menjadi gelap. Namun si gadis belum juga bangun dari tidurnya.
Karena resah bakal kesehatan gadis tersebut, si ibu berbicara kepada Joko Bodo. “Joko Bodo, bangunkan gadis itu agar dia mbakal dulu. Kasihan kelak dia lapar.”
“Bu, malam ini biarkan saja dia tidak usah makan. Tidak apa-apa, besok pagi saja kita bangunkan dia.”
Esok paginya ketika orang-orang sudah bersiap untuk mbakal pagi, si gadis tak muncul juga dari kamarnya.
Melihat peristiwa ini, ibu Joko Bodo menjadi curiga. Mana ada orang nan bisa tidur hingga satu separuh hari? Tanpa diketahui Joko Bodo, si ibu menengok ke dalam kamar. Kemudian dia memeriksa keadaan gadis nan tidak bangun dari tidurnya dengan teliti.
“Astaga…” teriak si ibu sembari mengelus dadanya setelah percaya bahwa gadis nan dianggapnya sedang tidur itu sebenarnya sudah meninggal.
Si ibu cepat-cepat menemui anaknya dan berkata, “Anakku, gadis nan engkau maksudkan itu sudah meninggal.”
“Saya tidak percaya, Ibu. Ia tidak meninggal. Gadis itu sedang tidur nyenyak dan sejenak lagi bakal bangun.”
Beberapa hari kemudian tercium aroma busuk. Ketika Joko Bodo mencium aroma busuk itu, dia menanybakal sebabnya pada ibunya.
Ibunya menjawab, “Anakku, aroma itu berasal dari tubuh si gadis nan sudah mulai membusuk. Itulah tandanya bahwa gadis itu sesungguhnya sudah mati. Orang nan meninggal bakal mengeluarkan aroma busuk.”
Sekarang mengertilah Joko Bodo bahwa setiap mayit bakal beraroma busuk. segera diangkatnya tubuh gadis itu dan dibuangkan ke dalam sungai.
Pada suatu hari, ketika ibunya sedang memasak, tiba-tiba ibunya kentut nan aroma sekali.
Waktu Joko Bodo mencium aroma nan sangat menusuk hidup itu, dia tanpa pikir panjang langsung menggendong ibunya sembari menangis dengan sedih sekali. Sebab disangkanya bahwa ibunya telah meninggal.
Si ibu terus meronta-ronta mau melepaskan diri. “Joko Bodo, saya belum mati. Aku tetap hidup. Lepaskan aku, ayoo… saya belum mati, anakku.”
“Ya, tapi tubuh ibu sudah bau. Itu artinya ibu sudah mati.” Jawab Joko Bodo.
“Bau itu lantaran saya kentut.” Jawab si ibu sembari terus meronta.
“Tidak, ibu sudah mati.” Kata Joko Bodo sembari terus membawa ibunya ke tepi sungai.
Ibu nan mkepalang itu terus dilemparkannya ke dalam sungai. Ia terbawa arus dan meninggal dunia.
Sore harinya, tatkala Joko Bodo sedang duduk sendiri sembari merenungkan nasibnya nan buruk, tiba-tiba dia pun kentut. Mencium aroma kentutnya sendiri nan busuk, Joko Bodo menjadi sangat terkejut.
“Kalau begitu saya juga sudah mati. Tubuhku beraroma busuk.” pikir Joko Bodo.
Tanpa pikir panjang lagi dia segera berlari dan menceburkan dirinya ke dalam sungai. Ia terbawa arus dan meninggal oleh kebodohannya sendiri.
17. Cerita Legenda dari Betawi Si Pitung
Pada zkondusif dulu di suatu wilayah berjulukan Rawabelong, ada seorang anak Betawi nan diberi nama Pitung. Pitung merupbakal seorang anak nan kepercayaan dan pendidikan silatnya berkedudukan besar. Pada suatu hari, Pitung diminta untuk menjual kambing ke wilayah Tanah Abang oleh bapaknya.
Saat di perjalanan pulang, Pitung diperdaya oleh beberapa preman. Sembari mengobrol, diam-diam seorang preman mencopet duit penjualan kambing. Tentunya Pitung tak menyadari perihal tersebut sampai dia merogoh kantongnya untuk memberikan duit hasil penjualan ke bapaknya.
Dengan penuh keberanian, Pitung menghampiri tempat preman itu berkumpul. Preman tersebut tidak mengsaya sampai Pitung mengeluarkan jurus-jurus silatnya. Akhirnya, preman tersebut mengembalikan duit nan dia rjejak dari Pitung. Sejak saat itu, Pitung berkeinginan untuk merampok harta-harta orang kaya nan sombong dan hasilnya bakal dia bagikan kepada orang nan membutuhkan.
Di zkondusif itu, kompeni Belkamu beserta kaki tangannya menggunbakal kekuasaan secara semena-mena dan selampau merugikan pribumi. Perilsaya Pitung dan teman-temannya membikin sang kompeni risau. Akhirnya, polisi sukses menangkap Pitung. Namun, Pitung sukses kabur. Saat polisi mengejar Pitung nan tengah berlari, mereka melepaskan peluru nan tertuju pada badan Pitung. Terkejutlah mereka ketika mendapati timah panas itu tak berpengaruh apapun pada Pitung.
Setelah kejadian tersebut, suatu hari Pitung pergi untuk mencukur rambutnya di salah satu temannya. Temannya pun kebingungan ketika gunting nan dipakainya tak bisa memotong rambut Pitung. Pitung dengan segera memberikan rahasia dirinya nan memakai jimat, dia berbicara bahwa dengan jimat tersebut tubuhnya tak bakal kekurangan apapun.
Naasnya, kawan Pitung membocorkan perihal tersebut kepada polisi Belanda. Di lain hari, ketika Pitung sedang melepas jimatnya, temannya segera memberi tahu polisi Belanda. Polisi langsung menembaknya dan nyawa Pitung melayang. Legenda mengatbakal bahwa Pitung bakal benar-betul meninggal jika jasadnya dipotong menjadi tiga bagian dan dikubur di tempat nan berbeda-beda.
18. Cerita rakyat Ayam dan Ikan Tongkol asal Kepulauan Riau
Cerita rakyat berjudul Ayam dan Ikan Tongkol berikut dikutip dari buku Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler Sepanjang Masa, penerbit Cikal Aksara (2016).
Dahulu kala di Kepulauan Riau, ikan tongkol dan ayam berkawan erat. Mereka saling membantu satu sama lain. Sampai suatu hari, Raja Ayam memberitahukan kepada Raja Tongkol bahwa ada family nelayan nan bakal menikahkan anaknya dan mengadbakal pesta besar-besaran.
“Jangan lupa sahabatku Raja Tongkol, kau kudu datang berbareng rakyatmu ke pesta besok malam. Kalian pasti bakal sangat menikmatinya.” Ujar Raja Ayam.
“Baiklah, saya dan rakyatku bakal dengan senang hati memandang pesta itu. Tetapi saya butuh bantuanmu, Raja Ayam sahabatku.” Jawab Raja Tongkol.
“Bantuan apa itu? Dengan senang hati saya bakal membantumu.”
“Kami bakal datang kelak malam saat air laut pasang. Namun kami kudu kembali sebelum terbit matahari, sebelum air laut surut. Jadi kalian jangan lupa untuk berkokok untuk memberi tkamu waktu bagi kami,” Raja Tongkol menjelaskan permintaannya.
“Tentu saja kami bakal melakukannya.” Raja Ayam menyanggupi.
Keesokan harinya, pesta itu mulai digelar. Bulan purnama bercahaya sangat terang. Air laut pun naik. Saat itulah rombongan rakyat tongkol datang. Mereka berlindung di karang-karang, tak jauh dari panggung utama.
Semua larut dalam aktivitas nan bagus ini diiringi dengan bunyi rebana nan bertalu-talu. Rakyat tongkol pun sangat menikmati. Malam semakin larut, rakyat tongkol pun enggan beranjak dari pesta. Masalahnya, penduduk pantai dan para tongkol nan tertidur, Raja Ayam dan rakyatnya juga ikut pulas.
Celaka! Air laut mulai surut, tapi tidak ada satupun ayam nan berkokok! Saat mentari sudah terbit, satu per satu ikan mulai bangun. Betapa kagetnya mereka memandang pantai mulai mongering.
“Oh tidak! Air laut sudah surut! Kemana ayam jantan nan bekerja berkokok membantu rakyat tongkol?” para tongkol pun mulai panik. Mereka terjebak di karang-karang nan sudah kering. Sebagian tongkol melompat-lompat, berupaya kembali ke pantai nan berair. Namun hanya sedikit nan berhasil, salah satunya Raja Tongkol.
Ketika hangatnya sinar mentari mulai menusuk kulit, Raja Ayam baru terbangun. Diikuti oleh ayam-ayam nan lain. “Ya ampun! Ternyata hari sudah pagi. Bagaimana dengan nasib rakyat tongkol?” pikir Raja Ayam kebingungan dan panik.
Tak lama penduduk nan tinggal di pinggiran pantai pun mulai terbangun. Mereka sangat terkejut memandang banyak sekali ikan tongkol menggelepar-gelepar di karang-karang sepanjang pantai. Mereka lampau beramai-ramai menangkap ikan-ikan itu dan menampungnya di ember untuk dibawa pulang.
Melihat rakyatnya ditangkapi oleh orang-orang, Raja Tongkol sangat marah. Ia pun mengucapkan sumpah untuk Raja Ayam dan rakyatnya “Persahabatan kita sudah selesai, Raja Ayam! Mulai sekarang kami rakyat tongkol bakal membakal semua rakyat ayam, terutama kalian, ayam jantan!” Raja Tongkol berseru.
Sejak saat itu, ikan tongkol dan ayam menjadi musuh abadi. Mulai saat itu, para nelayan di sekitar pantai wilayah Riau kerap menggunbakal umpan bulu ayam untuk memancing ikan tongkol.
19. Cerita Rakyat Si Kelingking dari Jambi
Cerita legenda Si Kelingking merupbakal sebuah cerita nan berasal dari Jambi. Kisah ini menceritbakal tentang sepasang suami istri nan hendak membunuh anaknya. Cerita ini bermulai dari sepasang suami istri nan sudah tua dan tinggal di sebuah kampung nan dekat dengan Kerajaan Jambi. Setelah puluhan tahun menikah, mereka tak kunjung dikaruniai anak.
Pada suatu hari, sang istri akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. Namun sayangnya anak tersebut mempunyai kaki nan sangat mini dan pendek. Karena merasa malu dan tak mau menjadi bahan olok-olok tetangganya, dia berbareng suaminya memutuskan untuk membunuh anaknya.
Ketika hendak membunuh anaknya, tiba-tiba seorang kakek tua muncul dan memberikan sebuah keris dan meminta mereka untuk tidak membunuh anaknya. Kakek tersebut mengatbakal bahwa anak tersebut bakal tumbuh menjadi orang besar di masa depan. Akhirnya, sepasang suami istri tersebut memutuskan untuk membesarkan anak mereka dan memberinya nama Si Kelingking. Anak tersebut pun tumbuh menjadi seorang pemuda nan pumpama dan cerdas.
Suatu hari, Si Kelingking diundang oleh raja untuk menghadapi sebuah tantangan nan sangat sulit. Tantangan tersebut pun sukses dilalui oleh Si Kelingking berkah support keris nan diberikan oleh kakek tua. Setelah berhasil, Si Kelingking kemudian diangkat menjadi panglima perang oleh raja dan menjadi seseorang nan sangat dihormeninggal oleh masyarakat.
20. Dongeng kisah rakyat Parekeet dari Nanggroe Aceh Darussalam
Dongeng berjudul Rakyat Parekeet berikut dikutip dari buku Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler Sepanjang Masa, penerbit Cikal Aksara (2016).
Di sebuah rimba lebat di area Aceh, hiduplah seekor burung parkit nan merupbakal raja bagi burung-burung lain penunggu rimba itu. Raja burung itu bergelar Raja Parakeet. Raja Parakeet merupbakal raja nan bijak dan sangat dicintai rakyatnya. Mereka hidup tenteram dan tenteram.
Pada suatu ketika, ketenangan di dalam rimba terganggu oleh kehadiran Pemburu. Singkat cerita, Pemburu tersebut sukses meletakkan perekat di sekitar tempat burung tersebut hingga akhirnya para burung terjebak oleh perekat tersebut.
Mereka berupaya melepaskan sayap dan badan dari perekat tersebut. namun upaya tersebut gagal. Hampir semuanya panik, selain sang raja. Ia berbicara “Kalian tenanglah. Nanti saat si Pemburu datang, kalian kudu berpura-pura mati.
Si Pemburu menginginkan menangkap kita hidup-hidup. Jika si Pemburu memandang kita mati, dia tidak bakal senang dan bakal melepaskan kita. Nah pada hitungan sepuluh setelah burung terakhir dilepaskan, saat itulah kita terbang bersama-sama sekencang-kencangnya!”
Tak lama si Pemburu datang. Burung-burung pun segera berpura-pura meninggal hingga Pemburu pun merasa kecewa. Akhirnya Pemburu melepaskan nyaris semua burung tangkapannya. Sayang, saat giliran Raja Parakeet dilepaskan, si pemburu jatuh terpeleset. Suara jatuh si Pemburu membikin para burung lain kaget dan terbang.
Pemburu sangat jengkel lantaran merasa telah tertipu, lampau dia memegang erat Raja Parakeet. Raja Parakeet meminta pada pemburu itu untuk tidak dibunuh. Sebagai imbalannya, dia bakal selampau menghibur si Pemburu. Hampir setiap hari dia menyanyi untuk Pemburu.
Suaranya sangat bagus dan merdu. Keindahan bunyi Raja Parakeet terdengar sampai kerajaan. Sang Raja pun tertarik mau mempunyai Raja Parakeet. Raja mengutus pengawalnya pergi ke rumah si Pemburu untuk membeli Raja Parakeet dengan nilai nan sangat mahal. Tawaran menggiurkan itu langsung diterima oleh Pemburu.
Raja Parakeet pun kemudian dibawa ke kerajaan. Ia diberi makanan dan minuman nan enak, serta tinggal di sangkar nan terbuat dari emas. Namun tak satupun kebaikan Raja itu nan membuatnya bahagia. Raja Parakeet sangat mau kembali ke hutan, hiduplah berbareng rakyat dan family nan dicintainya.
“Aku kangen sekali family dan rakyatku.”
Suatu hari, Raja Parakeet terlihat sangat sedih lantaran kerinduannya nan tak tertahankan. Ia pun mencari logika agar bisa kembali ke hutan. Keesokan harinya, Raja Parakeet menemukan langkah dengan berpura-pura mati.
Sang Raja sangat sedih saat memandang burung kesayangannya mati. Ia memerintahkan penguburannya dengan upkegiatan pemakkondusif secara besar-besaran selayaknya personil kerajaan nan meninggal dunia.
Raja Parakeet pun dikeluarkan dari sangkarnya, di arak di dalam sebuah tandu kebesaran. Saat tandu sedang berjalan, Raja Parakeet mengintip keadaan di luar. Melihat keadaan aman, Raja Parakeet pun segera menyelinap keluar dan terbang tinggi. Ia terbang menuju rimba kediamannya dan hidup senang berbareng rakyatnya.
Itulah cerita rakyat pendek dari beragam wilayah di Nusantara nan bisa Bunda ceritbakal kepada Si Kecil. Semoga berfaedah untuk pengetahuan Si Kecil, Bunda.
Bagi Bunda nan mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
7 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·